tirto.id - Pada 12 Maret 1938, Adolf Hitler berdiri di sebuah mimbar, menghadap ribuan orang di Wina. Sorak-sorai dan gemuruh masyarakat memadati alun-alun kota. Deretan bendera Nazi berkibaran, disertai tangan-tangan kanan yang melencang ke udara, mengisyaratkan “Hormat Nazi” guna menyambut kedatangan führer.
Padahal, itu adalah detik-detik menjelang Hitler mengucap mantra, yang pada momen selanjutnya, menghapus Austria dari peta dunia. Di sisi Jerman, itu seolah takdir. Namun bagi korban fasisme di Austria, itu adalah pertanda awal bencana.
Usai Perang Dunia I, Austria adalah republik kecil yang ngos-ngosan memperjuangkan eksistensi negaranya. Perekonomian mereka hancur, angka pengangguran meninggi, dan karenanya, Austria perlahan “ditinggalkan” oleh Eropa.
Akan tetapi tidak bagi Hitler. Pria beken berkumis kotak itu lahir di Austria, sebelum menjadi führer dan memimpin partai terbesar Jerman Nazi pada 1921. Selain itu, Hitler melihat peluang di negara kelahirannya, lebih-lebih banyak warga Austria yang menyambut baik ultranasionalisme Jerman.
Hitler berencana menyatukan wilayah Jerman-Austria di bawah kepemimpinannya. “Sebagai Pemimpin dan Kanselir bangsa Jerman dan Kekaisaran, saya kini mengumumkan di hadapan sejarah Jerman bahwa tanah air saya telah bergabung dengan Kekaisaran Jerman,” tegasnya dalam pidato di Wina, 15 Maret 1938.
Reunifikasi Jerman-Austria dikenal dengan Anschluss 'Penyambungan'. Jajak pendapat dalam survei Anschluss pada 10 April 1938 menyatakan, 99,73 persen penduduk Austria mendukung reunifikasi. Namun, pemberlakuan Undang-Undang Konstitusi Federal untuk Austria oleh Jerman telah diberlakukan sejak 13 Maret, sehari setelah pidato Hitler di Wina. Selain itu, para sejarawan menganggap referendum tersebut berlangsung di bawah tekanan rezim Nazi sehingga tidak dapat dianggap bebas.
Nasib Austria di Piala Dunia 1938
Pada perkembangan selanjutnya, Nazi mulai menjejali ideologi mereka kepada orang-orang Austria, menggenosida penduduk Yahudi lokal, dan dengan sangat cepat mengukuhkan rezim totaliter.
Nasib tragis pun tak hanya menghantui musuh-musuh ideologis Jerman. Tiga bulan setelah Anschluss, kesebelasan timnas Austria mestinya berkesempatan mengikuti gelaran Piala Dunia 1938 di Prancis. Namun karena aneksasi itu, federasi sepak bola Austria terpaksa membubarkan diri.
Sejatinya Austria sudah lolos dari babak kualifikasi untuk memperebutkan tiket 16 tim yang berhak jadi peserta kompetisi edisi 1938. Namun, aneksasi oleh Jerman membuat mereka tak dianggap sebagai negara lagi sehingga dihapus dari daftar peserta. Uniknya, FIFA tidak mengganti Austria dengan negara lain sehingga turnamen tahun itu hanya diikuti 15 tim.
Tapak tilas skuad berjuluk Wunderteam itu harus berhenti. Padahal kala itu Austria adalah salah satu tim unggulan pada masanya. Di edisi Piala Dunia 1934 sebelumnya, mereka berhasil tembus sampai semifinal, meski terpaksa keok dari tuan rumah Italia dengan skor tipis 1-0.
Dilansir oleh CBC, ada dugaan pemimpin fasisme Italia, Benito Mussolini, menemui wasit bernama Ivan Eklind sebelum dijadwalkan memimpin pertandingan Italia kontra Austria. Publik berspekulasi bahwa wasit asal Swedia itu menutup mata atas beberapa pelanggaran keras dan tekel brutal terhadap pemain Austria. Karena itu, titian Italia menuju ke partai puncak final makin lancar.

Protes Elegan Matthias Sindelar
Federasi Sepak Bola Austria bukan hanya bubar. Para pemainnya juga dicomot paksa untuk membela tim nasional Jerman. Masalahnya, tak sedikit yang enggan dan memilih melawan, meski secara tak langsung.
Matthias Sindelar, pemain terbaik Austria waktu itu, adalah pionir perlawanan simbolik tersebut. Pada 3 April 1938, dua bulan sebelum Piala Dunia 1938 dimulai, Jerman menginisiasi pertandingan persahabatan “rekonsiliasi” menjamu Austria.
Laga rekonsiliasi dihelat di Vienna’s Prater Stadium. Lebih dari 60.000 suporter tengah menyemangati Wunderteam yang, hanya 22 hari setelah Anschluss, secara teknis sudah resmi tiada.
Sindelar adalah penyerang tengah yang membela Austria di laga itu. Dia dijuluki The Paper Man karena tubuh kecilnya memberi keuntungan untuk menggocek bola dengan kreativitas yang fantastis.
Namun, pada laga rekonsiliasi itu, ada dugaan bahwa Sindelar sengaja melewatkan beberapa peluang emas pada babak pertama. Para penggawa Austria memang “diperintahkan” secara khusus melunak dan bersikap santai kala melawan Jerman.
Mula-mula Sindelar hanya menyuguhkan tarian-tarian pasif. Dia menggiring bola dengan santai serta melewati bek-bek Jerman dengan keanggunan khasnya. Sebenarnya dia sempat berhasil menggocek kiper dan memancingnya keluar dari kotak penalti. Namun ketika sampai di mulut gawang, dia hanya menyepak bola melebar atau membenturkannya ke mistar.
Protesnya itu mencapai klimaksnya pada babak kedua. Usai beberapa kali sengaja menyelewengkan penyelesaian klinis, Sindelar membobol gawang Jerman sebanyak dua kali. Dia merayakan golnya secara terang-terangan di hadapan tribun tempat para pejabat Nazi duduk. Pose itu ditengarai sebagai gerakan bernada protes. Tentu saja pihak Nazi dibikin terkejut dan marah.
Tak berhenti di situ, Sindelar dengan lantang menolak mengenakan seragam Jerman untuk gelaran Piala Dunia 1938. Dia beralasan umurnya tak lagi muda, 35 tahun, dan dalih riwayat cedera.
Pembangkangan Sindelar dan penarikannya mengenakan seragam bersimbol Nazi itu serasa pukulan telak. Dia bukan hanya pemain terbaik Austria kala itu, tetapi juga ikon. Matthias Sindelar terpilih sebagai pesepak bola terbaik Austria pada abad ke-20, sesuai jajak pendapat 1999 yang diselenggarakan International Federation of Football History and Statistics (IFFHS).
Konflik Politik di Timnas Jerman
Total pemain Austria yang dicomot Jerman berjumlah sembilan orang. Di antaranya ada penyerang Wilhelm Hahnemann, kiper Rudolf Raftl, serta pemain tengah Hans Mock, yang mengemban ban kapten. Ada pula Hans Pesser, Willibald Schmaus, Stefan Skoumal, Franz Wagner, Josef Stroh, dan Leopold Neumer.
Di laga putaran pertama Piala Dunia 1938 melawan Swiss, pelatih Jerman Sepp Herberger menurunkan empat pemain Austria sebagai 11 utama. Dalam laga laga yang berlangsung pada 4 Juni tersebut, empat pemain itu mungkin “berperasaan aneh” sebab baru pertama mereka mengenakan seragam berlogo Nazi. Belum lagi urusan kewajiban memberikan salam Nazi saat berbaris di lapangan pra-kick-off.
Uniknya, Jerman menjamu Swiss dua kali dalam kurun dua minggu. Aturan saat itu menyebut, jika kedua skor tim berakhir imbang, maka pertandingan ulang dijadwalkan untuk menentukan siapa yang berhak lolos ke putaran selanjutnya. Pertandingan pertama keduanya berakhir imbang 1-1.
Di laga kedua 9 Juni, skandal pencomotan pemain Austria sedikit membuahkan hasil. Gol pertama Jerman dicetak oleh penyerang muda Austria, Wilhelm Hahnemann. Bahkan, mereka unggul untuk yang kedua kalinya sejak menit ke-22, ketika pemain Swiss mencetak gol bunuh diri.
Namun, situasi berbalik pada babak kedua. Swiss membalikkan skor menjadi 2-4 sehingga berhak lolos ke babak 8 besar.
Pukulan politik para suporter di laga itu berdampak langsung. Para pendukung Prancis, yang turut menjubeli stadion laga Jerman vs. Swiss, dengan lantang menyanyikan "La Marseillase" saban kali pemain Jerman menyentuh bola, sebagai wujud perlawanan simbolik terhadap Nazi.
Itu adalah kali perdana Jerman tersingkir sejak babak terawal sepanjang gelaran Piala Dunia yang dimulai pada 1930.
"Apakah mereka kalah dengan sengaja? Tidak ada yang mengetahuinya. Namun mereka jelas tidak bermain dengan cara yang mereka bisa," kata Stanislao Pugliese, profesor sejarah di Universitas Hofstra dan rekan Brenda Esley, penulis Football and the Boundaries of History: Critical Studies in Soccer (2017).
Menurut Pugliese, Jerman berharap menjadi kampiun untuk Piala Dunia 1938. Begitu pula Italia, juara bertahan Piala Dunia 1934. Keduanya, sebagaimana dilaporkan film dokumenter BBC berjudul “Fascism and Football”, menggunakan segala cara untuk memenangkan pertandingan. Namun hasilnya, Jerman justru pulang lebih dulu.
“Rezim totaliter ini memandang acara olahraga dengan cara yang berbeda,” kata Pugliese. “Segala sesuatu harus berada di bawah naungan pemerintah, tak terkecuali olahraga.”
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id






























