Menuju konten utama
Mozaik

Para Pembesar Jawa Gandrung Mengoleksi Emas

Di Indonesia, budaya mengoleksi emas tidak eksis pada zaman modern saja. Ia ada sejak era kerajaan, terutama di Jawa, meski wilayahnya bukan penghasil emas.

Para Pembesar Jawa Gandrung Mengoleksi Emas
HEADER MOZAIK Para Pembesar Jawa Gandrung Mengoleksi Emas. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rumah mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febri Adriansyah di Sentul digeledah polisi usai laporan adanya dugaan tindak pidana korupsi. Di rumah itu, polisi menemukan uang tunai berjumlah Rp476 miliar serta 74 kg batang emas.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto memastikan keaslian emas itu setelah PT Pegadaian melakukan uji laboratorium. Sampai kini, belum diketahui motif utama Febrie Ardiansyah menyimpan emas sebanyak itu.

Terlepas dari kasus tersebut, tradisi mengoleksi emas bukan hanya digemari masyarakat modern. Para pembesar Jawa sejak masa Hindu-Buddha sudah gemar mengumpulkan serta menyimpan emas.

Mereka menggunakannya sebagai simbol kekuasaan. Oleh karena itu, maklum jika benda-benda purbakala yang ditemukan arkeolog terbuat dari emas atau berhiaskan emas, terutama benda-benda yang berkaitan dengan lingkungan istana dan upacara keagamaan.

Harta Karun Wonoboyo

Dari kesaksian salah seorang pengembara Cina, termuat di Nusantara dalam Catatan Tionghoa (2018) yang dikodifikasikan Willem Pieter Groeneveldt, peralatan makan raja-raja di Jawa yang digunakan untuk menjamu tamu seluruhnya terbuat dari emas. Peranti makan khusus untuk raja tak cukup berbahan emas semata, melainkan bertabur batu permata. Simbol sosial itu menunjukkan gaya hidup penuh gelimang harta.

Bukti itu diperkuat dengan temuan emas di Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, pada 17 Oktober 1990. Berat total benda-benda emas yang ditemukan di sana mencapai 32 kilogram. Kebanyakan di antaranya digolongkan ke dalam tiga kelompok, yakni wadah, perhiasan, dan mata uang, jadi bukan sekadar berupa batangan emas. Itu menjadi temuan artefak emas terbesar sepanjang sejarah arkeologi Indonesia.

Menurut buku yang disusun tim penulis Museum Nasional Indonesia, Treasures of the National Museum Jakarta (1997), timbunan emas itu dikenal sebagai “Harta Karun Wonoboyo”. Lokasinya di tanah sawah milik Cipto Suwarno. Penemunya adalah Witolakon, Hadisino, Widodo, Sumarno, Sudadi, dan Surip, yang semuanya merupakan buruh lepas beralamat Wonoboyo.

“Masing-masing orang yang menemukannya mempunyai hak atas bagian dari benda-benda yang ditemukan, dan benda-benda ini diserahkan satu per satu, jadi tidak jelas apakah semua telah diserahkan,” tulis tim penulis Museum Nasional Indonesia.

Kuat dugaan bahwa “Harta Karun Wonoboyo” merupakan warisan dari seorang pangeran atau keluarga dekat raja semasa Kerajaan Medang hingga Mataram Kuno di Jawa. Sebab, ditemukan dua perangkat perhiasan yang ditata secara rumit dan dua perhiasan bercorak bunga teratai berlapis emas. Di samping itu, ditemukan pula relief Ramayana yang mirip dengan penggambaran di Candi Prambanan.

Menurut Martowikrido Wahyono dalam Old Javanese Gold (4th-15th century): An Archaeometrical Approach (1994), emas-emas itu diperkirakan berasal dari abad ke-9 sampai pertengahan abad ke-10 Masehi. Asumsinya didasarkan pada kesesuaian antara relief Ramayana di beberapa mangkuk dengan Prasasti Lintakan yang berasal dari tahun 900-an. Bahkan keramik yang berciri Dinasti Tang ditaksirkan bertarikh lebih tua, sekira abad ke-7 hingga ke-9 Masehi. Karena itu, pertanggalan Harta Karun Wonoboyo tidak hanya bertumpu pada satu jenis bukti, tetapi pada kombinasi data epigrafi, arkeologi, dan sejarah seni.

“Kemungkinan besar bahwa sepanjang masa Hindu-Budha raja-raja dan bangsawan tinggi mempunyai kekayaan dalam bentuk perangkat dibuat dari logam mulia, digunakan untuk upacara. Sayangnya sejauh ini tidak ada lagi harta karun kerajaan ditemukan,” tulis Wahyono.

Emas koleksi kerajaan Jawa kuno

Emas koleksi kerajaan Jawa kuno. FOTO/commons.wikimedia.org/

Pada masa kekuasaan Hayam Wuruk (1350-1389), Majapahit juga memiliki koleksi emas yang tak kalah banyak. Dinukil dari translasi Desawarna (Nagarakertagama) karya Mpu Prapanca (1995) oleh Stuart Robson, kereta kerajaan milik raja tersohor Majapahit itu berhiaskan emas sekaligus permata. Kala menghelat upacara agung, raja menggunakan tandu khusus yang juga dihias emas.

Emas di Majapahit bukanlah barang eksklusif, meski nilainya senantiasa menonjolkan simbol kemewahan sosial. Para penggawa istana pun dilaporkan gemar mengoleksi benda-benda berlapis emas. Robson menuturkan, bangsawan kaya Majapahit wajar memiliki seperangkat alat menyirih dan kipas dari emas.

Emas Impor Hindu-Buddha

Sekalipun eksistensi emas telah santer berkembang di Jawa, pulau ini bukanlah penghasil utama logam mulia tersebut. Jawa memang punya endapan emas, tapi tidak sebesar Sumatra, Kalimantan, dan sebagian wilayah Asia Tenggara lainnya. Maka itu, demi memenuhi hasrat emas yang masif, para pembesar Jawa semasa Hindu-Buddha memperolehnya dari usaha impor.

Saat melakoni transaksi niaga dengan para saudagar lain dari kerajaan luar Pulau Jawa, bangsawan kerap menggunakan emas sebagai alat tukar. Praktik penggunaan emas sebagai alat pembayaran maupun penyimpan kekayaan tecermin dalam banyak prasasti Jawa yang menyebut satuan massa emas, seperti suwarna, kati, dan tahil.

Itu juga disaksikan oleh Tome Pires sekitar tahun 1513 lewat catatan perjalanannya, Suma Oriental. Ia mengaku melihat secara langsung emas-emas yang diangkut saat kunjungan kehormatan di Pulau Jawa. Jumlahnya sangat besar, dengan kualitas baik dan harga yang relatif murah jika dibandingkan sekarang.

Diceritakan, seorang Raja Hindu di pedalaman Jawa hidup bergelimangan emas. Sang Raja gemar membagi-bagikan emas miliknya demi peruntukan masyarakat banyak, terutama para pengawal setianya, sekitar 2.000 orang. Emas-emas itu kemudian diolah dan disepuh menjadi ragam bentuk senjata, seperti keris, tombak, dan pedang. Bahkan tak hanya manusia, simbol sosial emas tercorak lewat kalung emas yang tergantung di leher anjing-anjing peliharaan raja.

Pribumi Jawa Gemar Berburu Emas

Jika para bangsawan semasa Hindu-Buddha berdagang untuk mendapatkan emas, ketika zaman kolonial Belanda, muncul mata pencaharian baru: "pemburu emas". Lebih tepatnya disebut sebagai penjarah emas, sebab sasaran mereka bukan urat emas alam, melainkan logam mulia yang terkubur di kompleks candi, makam kuno, maupun bekas pusat kerajaan.

Salah satu pejabat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang bersaksi atas hal itu adalah Rijckloff van Goens.

Van Goens acap kali mengamati makam-makam dan reruntuhan di masa Hindu-Buddha hingga Islam dikeduk, lalu bekal kuburnya dicuri oleh oknum pribumi. Para penggali makam tersebut menargetkan benda pusaka, seperti emas, batu giok, atau perhiasan lain, yang turut dikubur bersama jenazah. Kesaksian Van Goens, yang termuat dalam buku De vijf gezenstchappen van Rijklof van Goens naar het Hof van Mataram (1956) karya sejarawan H. J. De Graaf, tersebut menjadi salah satu bukti terawal bahwa praktik penjarahan itu telah berlangsung sejak abad ke-17.

Kegiatan berburu emas itu makin santer sampai abad ke-18. Kali ini, pejabat VOC yang berkesempatan menelusuri warisan purbakala Mataram Islam adalah Elzo Sterrenberg. Dia sempat melakukan ekspedisi sejak 31 Desember 1745, didampingi Sri Susuhunan Pakubuwono III, di beberapa titik Karesidenan Surakarta.

Salah satu temuannya, didapatkan beberapa bekas galian di sekitar kompleks Candi Prambanan. Disinyalisasi itu ulah para pemburu emas yang percaya bahwa di sekitar candi besar itu terdapat lumbung timbunan harta karun. Meski begitu, Sterrenberg tak pernah menjelaskan gamblang usaha para pemburu emas itu membuahkan hasil atau tidak.

Pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1816), beberapa tindakan penggalian ilegal masih kerap ditemui di kawasan dataran tinggi Dieng. Dari kesaksian penduduk lokal, Raffles beroleh informasi bahwa penggalian di kawasan itu bertujuan mencari koin emas, keris, serta arca. Bahkan, beberapa masyarakat menjadikannya profesi, meski tak resmi, dan menjadi kegemaran yang hampir tak pernah surut peminat.

Baca juga artikel terkait SEJARAH KERAJAAN atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin