tirto.id - Pada Rabu (2/9/2026), hari terakhir bursa transfer musim panas 2026/27, Emil Audero, kiper tim nasional Indonesia, resmi dipinjamkan oleh klub asalnya, Como, ke Rayo Vallecano. Kali pertama sang penjaga gawang berkarier di luar Liga Italia, dia mendarat di klub yang berjuluk Orgullo de la clase obrera alias Kebanggaan Kelas Pekerja.
Di Vallecas, Emil tidak sedang membela klub kaya atau raksasa kompetisi, melainkan sebuah benteng warga kelas pekerja.
Sejak berdiri pada 29 Mei 1924, Rayo Vallecano lebih banyak menghabiskan waktu di Segunda División. Mereka bahkan baru pertama kali mencecap Primera División pada musim 1977/78, atau 53 tahun setelah klub didirikan.
Dari total 23 kali berkiprah di kompetisi teratas Spanyol, capaian terbaik Rayo hanyalah finis di peringkat ke-8 (2012/13, 2024/25, dan 2025/26). Mereka belum pernah mengangkat satu pun trofi juara nasional maupun kontinental.
Prestasi tertinggi Los Franjirrojos di Eropa terjadi musim lalu, ketika keluar sebagai runner-up UEFA Conference League usai dikalahkan Crystal Palace.
Soal ekonomi, Rayo juga tidak istimewa. Berdasarkan data Transfermarkt, pada musim 2026/27, nilai pasar skuad Rayo Vallecano hanya senilai 86,85 juta euro, urutan ke-16 dari 20 peserta LaLiga. Angkanya jelas jauh di bawah klub raksasa asal Madrid, Real Madrid (1,46 miliar euro) dan Atletico (679,7 juta euro), bahkan di bawah tetangganya yang lain, Getafe (92,3 juta euro).
Namun, sejarah Rayo Vallecano memang tidak didefinisikan oleh trofi atau uang. Jurnalis Ivan Vargas, dalam wawancara dengan El Grito del Sur, menyebutkan bahwa Rayo menyandarkan diri pada rasa memiliki yang kuat di kalangan suporter.
Klub Tetangga yang Tak Punya Tribun Utara
Rayo Vallecano dikenal sebagai klub barrio (kawasan). Dibandingkan dengan Real Madrid dan Atlético yang menarik penggemar dari seluruh penjuru ibu kota Spanyol, sebagian besar penggemar Los Franjirrojos berasal dari lingkungan Vallecas.
Stadion mereka, Estadio de Vallecas, yang berkapasitas 14.500 tempat duduk, hanya memiliki tiga tribun.
Sisi utara gawang hanya ditutupi tembok besar. Tepat di baliknya, berdiri gedung-gedung tinggi, termasuk rumah susun, di Jalan Teniente Muñoz Díaz. Di sanalah tempat warga sekitar menonton laga Rayo langsung dari balkon rumahnya.

Eratnya hubungan Rayo Vallecano dengan warga Vallecas terlihat pada 2014. Kala itu, Carmen Martínez Ayuso, seorang nenek berusia 85 tahun, diusir dari rumah susun tempatnya tinggal puluhan tahun. Mengetahui kejadian itu, Rayo mengumpulkan donasi untuk membantu Carmen.
"Karena dia berasal dari barrio kami, sebagai klub kami tidak boleh melewatkan kesempatan untuk membantu,” kata Paco Jemez, pelatih Rayo saat itu, dikutip dari The Guardian.
Tiga bulan berselang, Carmen memberikan sebagian uang donasi kepada keluarga mantan kiper legendaris Rayo, Wilfred Agbonavbare, lantaran menilai mereka lebih membutuhkan.
Wilfred, yang dikenal dengan panggilan Willy, meninggal karena kanker pada usia 48 tahun. Selama berkarier di Spanyol, ia kerap menghadapi ujaran rasis dari suporter lawan.
Untuk mengenang sang penjaga gawang, Rayo membuat mosaik di pintu nomor 1 Estadio de Vallecas bertuliskan “Por tu defensa de la Franja y tu lucha contra el racismo. Nunca te olvidaremos [Atas aksimu mengawal La Franja dan perjuanganmu melawan rasisme, kami tidak akan pernah melupakanmu]."
Sikap pasang badan Rayo Vallecano dan warga Vallecas terhadap isu sosial dan rasisme punya akar kuat. Karakter kolektif itu adalah buah dari sejarah panjang wilayah di pinggiran tenggara Madrid tersebut.
Akar Perlawanan di Tanah Vallecas
Robbie Dunne, dalam Working Class Heroes: The Story of Rayo Vallecano Madrid's Forgotten Team (2017: 44), mencatat, hingga akhir abad XIX, wilayah Vallecas kesulitan berkembang. Memang ada banyak bangunan rumah dan tanah luas, tetapi kawasan itu tetapi ia cenderung terlupakan.
Pada masa-masa sulit itulah terbentuk distrik Puente de Vallecas, yang dibangun oleh kaum kelas pekerja dari berbagai pelosok Spanyol. Bekerja sepanjang pekan dengan upah sangat murah menjadi pemantik gerakan sosialisme di wilayah tersebut.
Kota dibangun oleh kelas pekerja, begitu pun klub sepak bolanya. Pada pengujung Mei 1924, mereka membentuk klub sepak bola yang, pada waktu kemudian, dikenal dengan nama Rayo Vallecano.
Kompetisi yang pertama kali diikuti oleh Rayo pun tidak jauh dari proletariat, yakni Federación Obrera de Fútbol atau Liga Pekerja, yang berlangsung 1931 hingga 1936. Itu adalah liga independen wadah gerakan fútbol popular (sepak bola rakyat), untuk menampung klub-klub akar rumput, di luar kompetisi resmi Spanyol yang kala itu dinilai mahal dan berkarakter borjuis.
Berlanjut ke dekade 1930-an, kesadaran politik warga Vallecas menguat berkat Amós Acero Perez dari Partido Socialista Obrero Español, yang terpilih sebagai wali kota pada 1931. Ia giat memberantas buta huruf dan melawan sistem politik caciquismo yang korup.
Ketika Perang Saudara Spanyol pecah pada 1936, wilayah Vallecas menjadi gerbang utama yang menghubungkan Madrid dengan benteng kaum Republik di Valencia. Warga Vallecas membentuk milisi independen untuk menahan laju pasukan Jenderal Francisco Franco. Karena itu pula wilayah ini mendapatkan gempuran hebat.

Salah satu momen terkelam terjadi pada April 1939. Ketika itu, pasukan Franco bahkan mengalihfungsikan stadion Campo de Vallecas sebagai salah satu kamp konsentrasi untuk menyekap 9.500 tawanan politik pro-Republik, dengan perlakuan tidak manusiawi selama 15 hari. Stadion itu pula yang kemudian jadi markas Rayo Vallecano kini.
Usai kaum Nasionalis menang, Vallecas mengalami represi parah. Tokoh-tokoh penting digulung. Amós Acero ditangkap lantas dieksekusi mati pada 16 Mei 1941.
Di bawah kekuasaan Franco, Vallecas sengaja diabaikan dari pembangunan. Padahal, Vallecas, yang sebelumnya merupakan kotamadya tersendiri, dilebur ke dalam kotamadya Madrid sejak 1950.
Di sisi lain, seperti diungkap oleh Dunne, pada akhir 1950-an, gelombang imigran dari wilayah selatan masuk ke Vallecas. Itu diikuti pula oleh imigran lain dari negara lain, termasuk Maroko.
Pesatnya pembangunan industri di sekitar Madrid saat itu menyerap tenaga kerja kasar dalam jumlah besar, dan Vallecas menjadi penampung utamanya. Alasannya sederhana. Tempat paling murah untuk ditinggal adalah Vallecas. Selain itu, dengan banyaknya jumlah imigran di sana, pendatang baru tidak merasa seperti orang asing.
Memasuki dekade 1960-an hingga 1970-an, ketimpangan antara Vallecas dan Madrid makin menganga. Pembangunan jalan tol M-30 ibarat "dinding pemisah" antara pusat kota Madrid yang kaya dan Vallecas yang miskin.
Dua tahun setelah kematian sang diktator, Rayo Vallecano, klub kebanggaan warga Vallecas, akhirnya tembus ke Primera Division pada musim 1977/78.
Debut Los Franjirrojos langsung meninggalkan kesan istimewa. Seakan selaras dengan perjuangan lingkungan mereka melawan kuasa Franco, Rayo mampu mengalahkan tim-tim besar, seperti Sevilla, Real Madrid, Athletic Bilbao, Valencia, Atletico, Real Sociedad, dan Barcelona, saat bermain di kandang sendiri. Julukan El Matagigantes 'Pembunuh Raksasa' pun melekat pada mereka.
Setelah kejayaan pada musim pertama di Primera Division, Rayo mengalami jatuh bangun layaknya klub-klub kecil lainnya. Mereka berulang kali kembali ke Segunda Division, lalu naik lagi ke level teratas.
Namun, belakangan bisa dibilang sebagai masa keemasan Los Franjirrojos. Bukan cuma karena keberhasilannya lolos final Conference League, tetapi juga karena dalam 6 musim beruntun, Rayo bertahan di Primera. Bahkan, sejak 2024/25 mereka selalu finis di 8 besar klasemen akhir.
Bagai peribahasa makin tinggi pohon, makin kencang angin menerpa, yang dialami Rayo pun tak jauh berbeda. Pada masa berjaya, gesekan antara klub dan pendukung garis keras Los Franjirrojos pun mulai terbuka. Presiden klub, Raul Martin Presa, yang menguasai Rayo sejak 2011, belakangan terlibat serangkaian konflik dengan ultras Los Bukaneros.
Los Bukaneros, Benteng Idealisme Rayo Vallecano
Sejak 1924 hingga 1992, status kepemilikan Rayo Vallecano, seperti halnya klub-klub Spanyol lain, ada di tangan para anggota (socios). Namun, semua berubah ketika pemerintah Spanyol mengeluarkan regulasi Ley del Deporte 10/1990.
Undang-undang tersebut mewajibkan seluruh klub sepak bola profesional di Primera Division dan Segunda Division mengubah bentuk hukumnya menjadi perusahaan olahraga terbuka (Sociedad Anónima Deportiva/SAD). Langkah itu diambil karena banyak klub mengalami krisis keuangan dan utang menumpuk.
Dengan menjadi SAD, klub punya saham yang bisa diperjualbelikan kepada investor swasta atau publik. Rayo pun patuh dengan aturan itu. Los Franjirrojos sempat berada di tangan pengusaha sekaligus politikus José María Ruiz-Mateo, sebelum dibeli oleh Raul Martin Presa pada 2011.
Aturan tersebut membuat klub diurus sebagai entitas bisnis, sekaligus menciptakan jarak antara klub dan suporter. Hal itulah yang disuarakan oleh Los Bukaneros, ultras pendukung Rayo Vallecano, yang berdiri sejak 1992.
Dalam cuitan di akun X mereka pada Selasa (8/9/2026), Los Bukaneros menyatakan, "Kehancuran kita punya nama: Raúl Martín Presa. Juga punya tanggal: 30 Juni 1992. Sejak saat itu, Rayo kita berhenti menjadi milik socios dan berubah menjadi SAD. REBUT KEMBALI APA YANG MENJADI MILIK KITA!"

Itu bukan kali pertama Los Bukaneros bersitegang dengan Presa dan melawan komersialisasi sepak bola.
Pada 3 November 2014, saat Rayo Vallecano menjamu Eibar di Estadio de Vallecas, Los Bukaneros membuat aksi teatrikal yang diadaptasi dari serial The Simpsons. Mereka juga mengibarkan spanduk bertuliskan "Ultima hora desde vallekanfield: nueva protesta contra el futbol negocio [Kabar terkini dari Lapangan Vallecas: aksi protes baru melawan bisnis sepak bola]." Mereka juga memboikot laga selama 24 menit pertama--jam tayang standar serial The Simpsons--sebagai bentuk protes terhadap pengelola Liga Spanyol, LFP.
Dalam kesempatan lain, pada 31 Januari 2017, Los Bukaneros menolak kedatangan Roman Zozulya, pemain Ukraina yang dipinjam Rayo dari Real Betis pada bursa transfer musim dingin. Diwartakan BBC, penolakan itu dipicu oleh foto Zozulya mengenakan kaus militer berlambang Right Sector (kelompok paramiliter sayap kanan di Ukraina) serta dukungannya terhadap batalyon neo-Nazi Azov.
Sehari berselang, kontrak Zozulya dibatalkan. Menanggapi Los Bukaneros, kala itu Presa menyatakan, "Saya tidak tahu apa pun soal politik, tapi nilai utama Rayo adalah toleransi dan respek."
Namun, keputusan Presa di waktu kemudian juga sering kali berseberangan politik dengan ultras. Pada 26 April 2021, misalnya, saat Rayo melawan Albacete di Estadio de Vallecas, Presa mengizinkan Santiago Abascal dan Rocío Monasterio, petinggi partai sayap kanan Spanyol VOX, hadir di tribun kehormatan.
Sehari berselang, Los Bukaneros, yang menganggap itu sebagai bentuk pencemaran terhadap sejarah klub, menggelar aksi protes dengan mengenakan hazmat, ember, dan cairan disinfektan, untuk melakukan aksi teatrikal membersihkan kotoran dari stadion keramatnya.
Kritik Los Bukaneros terhadap Martin Presa makin tajam ketika menyangkut kelangsungan hidup Rayo Vallecano di Estadio de Vallecas. Semua bermula dari audit teknis pemerintah Madrid pada 14 Juli 2026 yang menyebut Estadio de Vallecas tidak layak menggelar laga kandang. Dalihnya adalah masalah keselamatan, kesehatan, perawatan, instalasi air, dan sanitasi.
Akibatnya, Rayo Vallecano harus menggelar laga kandang Primera Division 2026/27 di Estadio Municipal de Butarque, markas Leganés. Itu ibarat mencabut Los Franjirrojos dari akar mereka. Maka sebagai respons, asosiasi suporter Rayo, termasuk Los Bukaneros, mendesak agar klub membekukan kampanye tiket musiman serta mengembalikan uang fans yang sudah telanjur membeli.
Mengutip El Confidencial, dalam pandangan suporter, Presa dianggap sengaja menelantarkan Estadio de Vallecas. Dengan demikian, sang presiden memiliki alasan hukum untuk memindahkan kandang Rayo atau membangun stadion baru demi keuntungan komersial. Hal itulah yang menyebabkan protes besar-besaran pendukung Los Franjirrojos, tak terkecuali Los Bukaneros. Bukan sekadar demonstrasi di jalan-jalan, tetapi juga boikot untuk menonton tim kesayangan Vallecas demi melawan Presa.
Pada 6 September 2026, usai laga kandang Rayo kontra Racing Santander di Butarque, Los Bukaneros menyatakan, "Di antara Racinguistas (fans Racing), undangan, dan tiket VIP, jumlah pemegang tiket musiman kita yang tersisa bahkan tak sampai 3.000 orang. Jika untuk jadwal laga Sabtu sore saja sekitar 75 persen socios sudah memilih berpaling dari manajemen Martín Presa, berapa banyak dari kita yang akan melakukan hal serupa pada Selasa tanggal 15 (September) nanti saat melawan Espanyol pukul 19.00?"
Sejarah perlawanan yang mengakar kuat di tanah Vallecas sejak abad lampau, dan sempat ditempa oleh tangan besi Franco, kini mewujud dalam perang terbuka fans Rayo melawan pemilik klub.
Emil Audero, yang segera debut dengan jersei putih berselempang merah, akan menjadi saksi perjuangan warga barrio Vallecas demi mempertahankan jiwa klub mereka, sang kebanggaan kelas pekerja, dari cengkeraman sepak bola modern.
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































