tirto.id - Pada 6 Februari 2026, rak-rak gerai Carhartt WIP di seluruh dunia didominasi oleh sembilan jenis pakaian hasil kolaborasinya dengan Sacai, jenama kelas atas asal Jepang yang dirancang Chitose Abe.
Dua di antara produk kolaborasi tersebut adalah adalah Detroit Jacket dan Chore Coat (mantel/jaket kerja), yang lahir dari kebutuhan pakaian para pekerja pabrik Detroit untuk menyimpan perkakas kerja. Namun kini, keduanya dijahit ulang menjadi Balmacaan Coat berbahan bulu bebek dan kain jas mewah, lengkap dengan kancing emas dan kerah corduroy yang jadi penanda kolaborasi tersebut. Koleksi ini pertama kali diperkenalkan di catwalk Paris Fashion Week pada Juni 2025.
Perubahan itu rupanya turut diikuti oleh pergeseran harga yang tidak kalah drastis melalui kenaikan yang berlapis. Jaket kerja dari lini utama Carhartt, yang hingga kini masih dipasarkan di toko perkakas untuk para pekerja lapangan, dibanderol sekitar 100 hingga 130 dolar AS. Sementara itu, lini Carhartt Work In Progress, yang sejak 1994 telah direkontekstualisasi untuk pasar busana jalanan, naik hingga sebesar 318 dolar AS, hampir tiga kali lipat dari harga lini utamanya. Lonjakan paling signifikan terjadi saat jenama Sacai terlibat dalam kolaborasi; harga satu jaket dari koleksi tersebut melonjak hingga menjadi 1.539 dolar AS, lebih dari lima kali lipat dari harga reguler Carhartt WIP.
Aspek yang layak diperhatikan dari lonjakan harga secara berlapis itu adalah soal segmen konsumen yang perlahan tersisih di setiap tahapannya.
Seabad lalu, jaket kerja berbahan kanvas tersebut dirancang untuk dapat dibeli oleh para buruh harian. Kini, tiga lapis kenaikan harga tersebut secara bertahap menjauhkan pakaian itu dari kelas pekerja yang menjadi asal-muasal desainnya.. Pakaian yang dahulu lahir untuk melindungi kantong buruh, kini berbalik arah menjadi komoditas yang justru berada di luar jangkauan pendapatan mereka.
Ironi semacam itu bukanlah fenomena baru. Kolaborasi antara Sacai dan Carhartt WIP—yang sudah berjalan untuk yang keempat kalinya—tersebut hanyalah episode terbaru dari perjalanan panjang pakaian kerja yang semula dirancang untuk kebutuhan buruh. Perjalanan tersebut berakar jauh sebelum nama Chitose Abe dikenal di lantai pabrik Detroit, ketika pakaian kerja masih lebih dekat dengan kebutuhan praktis daripada persoalan gaya.
Dua Rahim Kelahiran, Bengkel Buruh dan Garis Depan Perang
Akar perpecahan kelas dalam tren fesyen membentang pada dua lini perancangan yang sama-sama tunduk pada satu hukum, yaitu fungsi dan ketahanan fisik di atas estetika.
Di ranah pakaian kerja, fokus utamanya ialah daya tahan material menghadapi gesekan kasar. Ketika Levi Strauss mematenkan penggunaan rivet tembaga pada celana denim pada 1870-an, tujuannya sangat praktis, mencegah saku celana penambang emas robek akibat muatan berat.
Merek Carhartt, yang didirikan Hamilton Carhartt pada 1889 di Detroit dengan hanya empat mesin jahit dan lima pekerja, menjadi salah satu produsen utama pakaian kerja jenis itu. Sementara itu, CO1 Chore Coat mulai dipasarkan sejak 1923, pakaian yang seratus tahun kemudian justru dijadikan bahan baku utama koleksi Sacai.
Tak hanya mengadopsi dari buruh kasar, fesyen masa kini juga mengambil ide dari militer, yang semula lahir dari kebutuhan taktis di medan perang. Celana kargo, misalnya, berakar dari seragam Battle Dress militer Inggris yang dirilis pada 1938, dilengkapi saku peta besar di atas lutut kiri.
Desain pakaian militer tersebut kemudian disempurnakan oleh Komandan William P. Yarborough untuk Paratrooper Amerika Serikat, dengan mengganti saku tersebut menjadi dua saku lipat besar atau bellows pocket agar prajurit sanggup membawa lebih banyak perlengkapan, dari kaus kaki hingga granat tangan. Desain inilah yang kemudian diresmikan sebagai bagian dari seragam M-43 pada 1943.
Selepas Perang Dunia II, melimpahnya stok pakaian militer di toko army serta bertahannya produksi pakaian kerja buruh membuka akses busana murah dan berdaya tahan tinggi bagi masyarakat sipil. Dari situlah jahitan ganda dan kain kanvas kasar mulai bergeser nilai, dari atribut kerja keras menjadi bahan baku identitas baru.

Titik Balik 1970-an, Ketika Jalanan Bronx Merampas Warisan Pabrik
Pakaian kerja yang murah dan melimpah pasca perang mula-mula diadopsi bukan oleh pembeli acak, melainkan komunitas tertentu yang menghargai ketahanan dan harganya yang terjangkau.
Menurut Kautsar dan Setiawan dalam “Analisis Perkembangan Subkultur Urban Streetwear” (2021: 31), cikal bakal komunitas ini berakar dari kelompok sosial di Bronx, New York, yang didominasi keturunan Afro-Amerika, Hispanik, dan Indian, dengan kesenjangan sosial dan kriminalitas sebagai bagian dari keseharian mereka. Celana jin longgar dan sneakers Puma menjadi standar busana para penari B-Boy, bukan dalam rangka berlomba mengenakan barang mahal, melainkan upaya berpenampilan nyentrik meski tak berduit.
Chore Coat buatan Carhartt mengalami hal serupa. Pada awal 1990-an, potongan longgar yang terkesan kaku dan tangguh pada jaket tersebut diadopsi secara masif oleh rapper dan seniman graffiti sebagai simbol ketahanan jalanan.
Masifnya pergeseran fesyen di kalangan rapper perlahan mulai menarik perhatian Edwin Faeh, perancang busana berbahan denim yang peka melihat peluang Ia lantas mendirikan Carhartt Work In Progress pada 1994 untuk merekontekstualisasi pakaian kerja tradisional Amerika menjadi lini streetwear global.
Kemunculan laman blog yang fokus membahas sneaker culture membuat adaptasi fesyen di kalangan rapper mulai merebak ke luas ke seluruh dunia. Budaya yang tadinya tersebar dari mulut ke mulut di kalangan komunitas secara sempit kini bergeser menjadi sesuatu yang dianggap fashionable secara luas (hlm. 34).
Arah rambatan tren semacam itu membuktikan bahwa dunia fesyen tidak selalu mengalir turun dari elite menuju kalangan bawah. George A. Field, dalam “The Status Float Phenomenon” (1970: 46), menyebut fenomena itu sebagai upward flow of innovative influence, arus tren yang justru merambat naik dari kelompok sosial bawah dan subkultur minoritas menuju tingkat status sosial yang lebih tinggi.
Proses itu tak berjalan sendiri. Deniz Atik dan A. Fuat Firat dalam “Fashion Creation and Diffusion, The Institution of Marketing” (2012: 8-10) menegaskan, arus tersebut memerlukan jejaring institusional, dari tren search agent hingga desainer, yang menerjemahkan inspirasi jalanan menjadi produk komersial.
Kolaborasi Sacai dan Carhartt WIP hanyalah manifestasi termutakhir dari jejaring tersebut. Itu merupakan rantai institusional yang bekerja sistematis sejak dekade sebelumnya untuk memindahkan jaket kerja dan celana kargo dari lantai pabrik ke etalase mewah.
Ketika Fungsi Hilang, yang Tersisa Hanya Kesan
Meskipun kebutuhan fungsional yang melahirkannya sudah lama pudar, kesan tangguh yang melekat pada pakaian tersebut tetap bertahan. Ia hanya berpindah dari fungsi ke estetika.
Daniel Miller dan Sophie Woodward, dalam “Manifesto for a Study of Denim” (2007, hlm. 343), menyebut fenomena itu sebagai distressing, praktik industri yang secara sengaja menciptakan kesan lusuh, robekan pada celana jin, warna denim memudar, dan noda karat pada pakaian yang belum pernah disentuh oleh pekerja.
Kesan lusuh yang dulu adalah bukti nyata bertahun-tahun bergesekan dengan mesin, kini sengaja diproduksi untuk meniru jejak fisik yang dulu hanya bisa didapat lewat pemakaian panjang di tubuh para pekerja sungguhan. Tampilan yang dulu menandakan kemiskinan dan kerasnya pekerjaan kini dikomodifikasi oleh kalangan elite sebagai gaya hidup.
Fenomena serupa juga disebut sebagai security in ubiquity, yakni ketika pakaian kerja menjadi pilihan yang terasa aman karena keberadaannya yang menjamur, membebaskan pemakainya dari kecemasan salah kostum tanpa harus terlihat berlebihan (hlm. 339-340).
Gelombang itu turut merambah ke Indonesia, ketika generasi Millenial dan generasi Z di kota-kota besar turut mengaburkan batas pakaian kerja formal dan kasual. Bahkan, mayoritas orang kini lebih sering memakai pakaian kasual di ruang kantor dibandingkan beberapa tahun lalu (Kautsar & Setiawan, hlm. 35). Tujuan orang memakainya memang bukan untuk kebutuhan penyimpanan alat, melainkan untuk memberikan kesan tangguh yang sudah lama melekat pada potongannya.
Kembali ke rak-rak Carhartt WIP pada Februari 2026, sembilan potong hasil tangan Chitose Abe itu pada dasarnya adalah cara kalangan atas mewarisi pakaian yang telah berhenti bekerja.
Detroit Jaket yang kini bersanding dengan Balmacaan Coat tidak lagi membawa perkakas bengkel dan kancing emas yang menghiasi kerah corduroy tidak lagi menyimpan amunisi. Yang tersisa hanyalah jahitan ganda dan siluet yang pernah berarti kerja keras dan tugas tempur. Ia kini dipakai ulang oleh generasi yang bahkan tak pernah mendengar nama Hamilton Carhartt, apalagi Komandan Yarborough, setiap kali mereka melangkah keluar toko dengan tas belanja berisi kain kanvas seharga jutaan rupiah.
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































