tirto.id - Dengan mengenakan jersei putih–merah, Shigenobu Murofushi dan Koji Murofushi, pasangan atlet ayah-anak cabang olahraga lontar martil menjadi penerima estafet obor terakhir dalam opening ceremony Asian Games 2026 Aichi-Nagoya.
Keduanya bersama-sama menyalakan api kaldron Asian Games 2026 di Paloma Mizuho Stadium, Nagoya, Jepang. Sabtu 19 September 2026, kejuaraan olahraga multi-event antarnegara Asia akhirnya resmi bergulir di Jepang.
Asian Games edisi ke-20 kali ini mengusung slogan resmi “Imagine One Asia”. Mengacu master plan Asian Games 2026, slogan tersebut kental dengan nilai persatuan, serta membawa semangat olahraga yang dianggap berkekuatan menyatukan orang-orang melampaui batasan budaya, bahasa, dan kebangsaan.
Ironisnya, visi idealis yang diusung Olympic Council of Asia (OCA) justru dihadapkan pada realitas nahas akhir-akhir ini: terjadi banyak konflik geopolitik yang memanas.
Lantas, apakah slogan “Imagine One Asia” di Asian Games 2026 mencerminkan olahraga sebagai solusi persatuan, atau justru hanya menjadi ironi utopia belaka, bahwa persatuan Asia hanyalah harapan yang sukar terwujud?
Ledakan-Ledakan Konflik Jelang Asian Games 2026
Slogan "Imagine One Asia" penting dipertanyakan kembali, mengingat stabilitas keamanan di kawasan Asia tengah terguncang akhir-akhir ini. Slogan idealis tersebut mengemban beban akumulasi multi-front konflik yang meletus nyaris bersamaan, dengan pangkal persoalan berbeda-beda.
Fenomena kali ini relatif berbeda dari kondisi kawasan ketika era Perang Dingin, yang hanya berpangkal pada perseteruan dua kubu super power, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Beberapa waktu belakangan, gesekan konflik geopolitik terjadi di hampir semua region Asia, seperti Asia Barat, Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Asian Games 2026 digelar bersamaan dengan munculnya empat titik api tersebut.
Di Asia Barat sedang terjadi konflik terbuka antara Iran melawan negara-negara Arab yang mendapat dukungan Amerika Serikat. Konflik tersebut menjadi salah satu penyebab utama melambungnya harga minyak dunia, sebagai imbas terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz dan Bab El-Mandeb.
Di Asia Selatan terdapat "rivalitas abadi" antara India dan Pakistan dalam memperebutkan wilayah sengketa di Kashmir.
Ketegangan India vs Pakistan sempat memuncak pada pertengahan 2025, saat militer India melancarkan serangan udara di wilayah teritori Pakistan. India berdalih, Operasi Sindoor yang mereka luncurkan itu bertujuan menghantam basis militan Kashmir di wilayah Pakistan.
Meski sudah tercapai kesepakatan gencatan senjata beberapa pekan kemudian, hubungan India–Pakistan masih berjalan panas sampai saat ini.
Di regional Asia Tenggara, konflik terjadi di perbatasan Thailand-Kamboja. Dua negara anggota ASEAN tersebut terlibat saling tindih klaim wilayah di area Kuil Preah Vihear.
Perselisihan Thailand vs Kamboja bahkan sempat berubah menjadi pertempuran terbuka pada 7 Desember 2025. Tentara Kamboja menembakkan rangkaian roket ke wilayah Thailand. Begitu pula Thailand, yang meluncurkan serangan udara ke Kamboja.
Sampai saat ini hubungan diplomatik Thailand–Kamboja masih memanas. Terbaru, pada 15 September 2026, pemerintah Thailand melalui Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow menuding pihak Kamboja memosisikan diri layaknya korban alias playing victim saat pembahasan sengketa di PBB.
Tak cuma itu, ketegangan juga mewarnai Asia Timur dengan kekhawatiran langkah ofensif militer Cina ke wilayah Taiwan (Cina Taipei). Negeri Tirai Bambu kerap menggelar latihan perang di dekat teritori Pulau Taiwan.

Terkait potensi masuknya unsur konflik politik di Asian Games 2026, Sheikh Joaan bin Hamad Al Thani selaku Presiden OCA cenderung optimistis. Ia tak menganggap hal itu bakal memengaruhi perhelatan.
“Saya pikir fokus kita di sini untuk para atlet, memastikan semuanya, semua atlet, punya hak yang sama untuk berkompetisi dan punya kebebasannya,” ucap Sheikh Joaan, dikutip dariJapan Times.
“Jadi saya tidak berpikir politisi atau politik akan terlibat dalam olahraga. Itu pendapat saya,” imbuhnya.
Konflik Geopolitik Sepanjang Sejarah Asian Games
Sejak edisi perdana penyelenggaraan Asian Games, benua Asia memang bisa dibilang kerap dibayangi krisis geopolitik. Sejak 1950-an sampai 1970-an, Asia silih berganti diwarnai konflik Perang Dingin, perang dekolonisasi, Perang Arab-Israel, serta Perang Vietnam.
Secara total, setidaknya ada empat insiden kontroversi terkait konflik geopolitik yang pernah memengaruhi ajang Asian Games sepanjang sejarah.
Kontroversi pertama terjadi pada edisi ke-4 atau Asian Games 1962 di Jakarta, Indonesia. Ketika itu, pemerintah Indonesia tidak bersedia menerbitkan visa masuk bagi kontingen Taiwan dan Israel.
Langkah politik yang diambil Indonesia di bawah Presiden Sukarno saat itu berlandaskan semangat solidaritas, serta dukungan terhadap Republik Rakyat Cina (RRC) sebagai satu-satunya perwakilan sah Cina.
Sementara itu, hambatan visa terhadap kontingen Israel didasari semangat menentang pendudukan Israel di tanah Palestina, ditambah solidaritas kepada negara-negara Arab yang tengah berkonflik langsung dengan negara Zionis tersebut.
Tindakan nekat Indonesia di Asian Games 1962 berujung pembekuan keanggotaan di Komite Olimpiade Internasional (IOC). Meski begitu, seakan tak gentar dengan sanksi, Indonesia justru menggelar ajang olahraga tandingan Ganefo pada 1963.
Kontroversi Asian Games terkait konflik politik kembali terjadi pada edisi 1974 di Tehran, Iran. Ketika itu, sejumlah atlet dari negara Arab dan kontingen lain secara terang-terangan menolak bertanding melawan perwakilan Israel.
Posisi atlet Israel yang kian tersudut kemudian memaksa Dewan Olimpiade Asia (OCA) mencoret keanggotaan negara tersebut pada 1981. Selepas itu, Israel mengalihkan afiliasi olahraga mereka ke Eropa.

Bumbu konflik geopolitik juga sempat terjadi ketika Asian Games 2010 dihelat di Guangzhou, Cina. Insiden kali ini berawal dari keputusan diskualifikasi Yang Shu-chun, atlet cabor taekwondo asal Taiwan.
Yang Shu-chun didepak dari kejuaraan dengan tuduhan menggunakan sensor elektronik ilegal di kaus kaki yang ia kenakan. Pencoretan namanya lantas memantik kemarahan di pihak Taiwan. Mereka menuduh tuan rumah sengaja hendak menjegal atlet Taiwan. Situasi ini sempat memanaskan tensi kedua pihak hingga memicu gelombang protes.
Kepada Taiwan Today, Yang Shu-chun mengungkapkan bahwa sebelum memasuki gelanggang ia sudah melewati persetujuan ofisial pertandingan. Sensor tambahan di kaus kakinya juga sudah dilepas ketika melakukan pemanasan.
“Saya memasuki arena kompetisi hanya setelah ofisial menyetujui kaus kaki saya saat inspeksi sebelum laga,” ucap Shu-chun. “Ekstra sensor sudah dilepas sesuai permintaan ofisial saat pemanasan,” imbuhnya.
Yang terbaru adalah insiden di Asian Games 2022 Hangzhou, Cina. Kontroversi terjadi saat tuan rumah tidak bersedia memberikan stapled visa kepada tiga atlet India cabor wushu, yang berasal dari negara bagian Arunachal Pradesh.
Tindakan Cina disinyalir terkait wilayah Arunachal Pradesh yang dianggap masih berstatus sengketa. Permasalahan visa tersebut kemudian berujung pembatalan kunjungan Menteri Olahraga India ke Hangzhou.
Bisakah Soft Power Asian Games 2026 Meredakan Tensi?
Kejuaraan olahraga sering dimaknai sebagai salah satu bentuk soft power dalam diplomasi hubungan internasional. Begitu pula Asian Games 2026, yang bisa diposisikan sebagai sports diplomacy untuk menurunkan tensi geopolitik di kawasan.
Al Jazeera menyoroti, Asian Games 2026 tidak hanya menjadi sekedar pesta olahraga. Ajang tersebut juga berpeluang menjadi katup pelepas tekanan diplomatik, sengketa wilayah, keamanan maritim, serta konflik perdagangan.
Harapan itu sebenarnya selaras dengan karya studi Fan Hong dan Yicai Yu dari Institute of Olympic Studies and Research, Shanghai University of Sport, China, menyorot peran kejuaraan olahraga bagi negara Asia, yang identik dengan identitas nasional, manuver diplomatik, serta unjuk kekuatan antarnegara tetangga.
Menurut penelitian tersebut, negara tuan rumah kerap memanfaatkan Asian Games sebagai media untuk membangun citra bangsa, mengirim pesan diplomatik, serta memperoleh legitimasi internasional.
Tak mudah mewujudkan rekonsiliasi Asia hanya dari pengalungan medali. Contoh sederhana, persaingan papan atas klasemen Asian Games umumnya melibatkan Cina, Jepang, dan Korea Selatan.
Sering kali rivalitas di ajang olahraga juga dimaknai sebagai adu gengsi, serta cerminan persaingan negara dari sisi teknologi, ekonomi, dan geopolitik.
Terlebih, ketiga negara besar Asia Timur tersebut juga masih menyimpan kenangan sejarah pahit Perang Dunia II, yang kerap jadi pemicu munculnya sentimen negatif.
Rivalitas negara bertetangga India-Pakistan juga sangat mungkin pecah di Asian Games 2026, terutama ketika mereka bertemu dalam cabor andalan seperti hoki lapangan.
India–Pakistan sempat mendominasi cabor hoki lapangan di Asian Games selama puluhan tahun. Terhitung dari 1958 sampai 1982, India dan Pakistan selalu bertemu dalam final hoki putra Asian Games secara berturut-turut.
Bahkan, pada final hoki putra Asian Games 2014 di Incheon, laga India vs Pakistan berjalan dengan permainan fisik yang keras dan penuh emosi, hingga memaksa wasit melayangkan banyak kartu.
Pada akhirnya, soft power Asian Games 2026 berpeluang tipis secara ajaib menghapus perselisihan antarnegara, menghentikan embargo, menyembuhkan sentimen sejarah masa lalu, atau meredakan konflik wilayah.
Akan tetapi perhelatan ini setidaknya tetap berperan positif sebagai (upaya) melepas katup tekanan konflik. Pesta olahraga antarnegara menjadi sedikit harapan untuk mencairkan kebuntuan diplomasi dan ancaman eskalasi konflik.
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































