tirto.id - Rabu, 22 Juli 2026, kelompok Houthi merilis kabar bahwa mereka baru saja melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker berbendera Arab Saudi, Encelia dan Layla, di perairan Laut Merah sekitar Selat Bab El-Mandeb. Serangan drone dan tembakan misil itu mengakibatkan kerusakan parah dan kebakaran hebat di kapal Encelia.
Namun, serangan Houthi terhadap kapal yang melintas di Bab El-Mandeb sejatinya bukan hanya sekali itu.
Juli 2025, Houthi menenggelamkan dua kapal berbendera Liberia milik perusahaan Yunani, yakni MV Magic Seas dan MV Eternity C.
Setahun sebelumnya, Houthi juga pernah nekat menenggelamkan dua kapal bulk carrier, yakni MV Rubymar (milik perusahaan Inggris yang berbendera Belize) serta kapal MV Tutor (milik perusahaan Yunani yang berbendera Liberia).
Ketidakstabilan di selat itu membuat kapal-kapal lain enggan melintas untuk sementara waktu. Kebanyakan memilih jalur memutar. Hal itu tak cuma berkonsekuensi ekonomi--memang itulah yang diinginkan Houthi untuk menekan Arab Saudi--melainkan juga mendatangkan risiko krisis iklim di bagian bumi yang lain.
Selat Bab El-Mandeb Adalah Kartu Truf Kelompok Houthi
Selat Bab El-Mandeb adalah area yang terletak di celah sempit, memisahkan daratan Afrika dan Semenanjung Arab, dengan lebar sekira 18 mil laut atau 33 kilometer.
Daratan sisi timur Bab El-Mandeb merupakan wilayah teritori Yaman, sementara di sisi Afrika terdapat negara Eritrea, Djibouti, dan Somalia.
Sejak Terusan Suez resmi dibuka pada 1869 silam, Bab El-Mandeb menjelma menjadi salah satu titik tersibuk dalam jalur pelayaran dunia yang menghubungkan Eropa dan Asia.
El-Mandeb menjadi pintu gerbang bagi kapal-kapal dari Samudera Hindia yang ingin memasuki Laut Merah menuju Eropa.
Pada era modern, selain jalur pelayaran logistik, El-Mandeb dilintasi kapal tanker minyak Arab Saudi yang melakukan pengiriman ke Asia Timur dan Asia Tenggara. Kapal tanker tersebut sebagian besar berasal dari pelabuhan Yanbu, yang berlokasi di pesisir barat Saudi.
Menurut data Bank Dunia, lalu lintas kapal kontainer yang melewati El-Mandeb mengangkut 30 persen logistik dunia serta 12 persen komoditas minyak dan gas.
Dari kaca mata negara-negara Sekutu, termasuk Arab Saudi, ketenangan Bab El-Mandeb mulai terusik ketika kelompok pemberontak Houthi sanggup menguasai sebagian wilayah Yaman pada 2014 silam. Mereka menguasai wilayah barat dan utara Yaman, termasuk ibukota Sana’a, serta memegang kendali Pelabuhan Hodeidah yang menjadi akses Yaman ke Laut Merah.
Sejak awal terbentuk pada era 1990-an, Houthi sudah berseberangan dengan Arab Saudi. Mereka dikenal sebagai penganut aliran Syiah, yang berhubungan dekat dengan Iran, rival Arab Saudi penganut Sunni.
Oleh karena itu, setelah Houthi sanggup mengambil alih wilayah strategis Yaman, pihak Arab Saudi beberapa kali melancarkan serangan militer untuk membatasi perkembangan sekutu Iran tersebut.

Di atas kertas, kekuatan militer Houthi jelas tidak sebanding dengan Arab Saudi dan sekutu Barat. Akan tetapi, mereka punya keuntungan geografis dengan wilayah kekuasaan di tepi Selat Bab El-Mandeb.
Itulah yang menjadi kartu truf bagi Houthi untuk meningkatkan daya tawar mereka terhadap pihak lawan.
Akhir 2023, tensi konflik Asia Barat kembali memanas ketika Israel melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Gaza. Houthi, yang bersimpati terhadap perjuangan rakyat Palestina, menggunakan Bab El-Mandeb sebagai salah satu cara untuk menekan musuh.
Houthi beberapa kali mengancam bakal menyerang kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh jika sampai nekat melintasi Bab El-Mandeb. Pernyataan itu bukan ancaman kosong. November 2023, mereka membajak kapal kargo yang diduga milik pengusaha Israel tetapi berlayar dengan bendera Bahama.
Namun, pemblokiran oleh Houthi hanya berlaku bagi kapal yang dianggap memiliki keterkaitan dengan musuh. Buktinya, kapal tanker pengangkut minyak tujuan Cina berhasil melewati El-Mandeb.
Jalur Pelayaran via Tanjung Harapan Jadi Solusi
Ancaman keamanan bagi kapal-kapal yang dianggap berafiliasi dengan sekutu AS dan Israel di selat Bab El-Mandeb, memaksa banyak perusahaan pelayaran untuk memutar otak.
Rute Asia-Eropa via Terusan Suez dan Laut Merah, yang semula menawarkan efisiensi, kini berbalik menjadi zona berisiko tinggi.
Sebagian besar kapal mengalihkan rute pelayarannya: mengitari benua Afrika lewat Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di ujung Afrika Selatan. Beberapa perusahaan pelayaran besar yang saat ini sudah mengalihkan jalur pelayarannya ialah Maersk, MSC, CMA CGM, Hapag-Lloyd, serta Evergreen.
Akibat pengalihan rute tersebut, jarak tempuh pelayaran Asia-Eropa menjadi lebih panjang 3.500-4.000 mil laut, yang artinya 10-14 hari lebih lama.
Saat masih melewati Terusan Suez dan Bab El-Mandeb, perjalanan kargo Asia-Eropa membutuhkan waktu 25-30 hari, dengan jarak lebih kurang 10.500 mil laut. Tapi kini, karena menggunakan rute Tanjung Harapan, jarak tempuhnya mencapai 14.000 mil laut, dengan durasi perjalanan 35-44 hari.
Mengutip informasi dari Geopol.uk sejumlah pelabuhan di Afrika Selatan, seperti Cape Town, Durban, dan Ngqura, mulai menunjukkan peningkatan permintaan pengisian bahan bakar kapal.
Rute yang lebih panjang jelas memengaruhi biaya pengiriman (freight rate) rantai pasok logistik global. Konsumsi bahan bakar menjadi lebih tinggi, waktu pulang-pergi kapal lebih lama, serta risiko muatan rusak di perjalanan meningkat.

Sejatinya ada beberapa opsi lain untuk menghubungkan jalur perdagangan Asia-Eropa.
Salah satunya menggunakan jalur kereta api Trans-Eurasia. Namun sayangnya, cara tersebut hanya dapat dilakukan untuk volume berjumlah kecil.
Sangat sulit memindahkan muatan satu kapal peti kemas berukuran besar, yang umumnya membawa 24.000 TEU (Twenty Foot Equivalent Unit), menggunakan kereta api. Itu bakal membutuhkan puluhan ribu gerbong yang beroperasi bersamaan, hanya untuk mengimbangi daya muat beberapa kapal saja.
Dr Christian Koch, melalui tulisannya di Gulf Research Center, menawarkan opsi lain, yakni melalui rute laut utara melewati Arktik. Namun, rute tersebut dianggap belum efektif untuk armada besar.
Kondisi lautan beku di wilayah utara jelas menjadi penghalang. Armada logistik perlu mengoperasikan kapal pemecah es, yang artinya menambah beban biaya.
Di sisi lain, opsi pelayaran membelah lautan Atlantik melewati Terusan Panama juga bukan pilihan bijak karena justru memiliki rentang jarak lebih jauh.
Dari sederet opsi di atas rute pelayaran melewati Tanjung Harapan menjadi pilihan paling logis dan ekonomis jika ingin menghindari Selat Bab El-Mandeb.
Di Bawah Ancaman Risiko Krisis Lingkungan
Sebelum ketegangan terjadi di Bab El-Mandeb, Terusan Suez bisa dilewati sebanyak 70-80 kapal besar setiap hari. Sepanjang 2023 saja, jalur air buatan tersebut telah dilalui oleh lebih dari 26.000 kapal komersial.
Namun, angkanya menurun drastis sejak 2023, ketika Israel menggempur Gaza. Menurut data HSBC Global Research, volume kapal yang melintasi Terusan Suez menurun drastis hingga 50 persen pada rentang akhir 2023 dan 2024. Sebaliknya, lalu lintas kapal komersial yang melewati Tanjung Harapan melonjak hingga 70 persen.
Seiring waktu, sepanjang pesisir barat dan timur Afrika, termasuk Tanjung Harapan di Afrika Selatan, perlahan berubah menjadi salah satu jalur maritim terpadat di dunia.
Masalahnya, selain dampak ekonomi, pergeseran jalur utama pelayaran Asia-Eropa berpotensi menimbulkan dampak lain yang tak kalah serius, yakni ancaman bencana ekologis dan krisis lingkungan.
Kapal kargo berukuran besar, dengan kecepatan jelajah normal, umumnya mengonsumsi bahan bakar minyak sekira 100-150 ton per hari. Dengan tambahan waktu perjalanan 10-14 hari, itu dipastikan bakal memicu lonjakan emisi gas rumah kaca.
Mengutip data International Maritime Organization (IMO), koridor perdagangan maritim Asia-Eropa mengalami lonjakan emisi gas rumah kaca mencapai 30 persen hanya pada awal 2024.
Terdapat jutaan ton emisi yang dilepas ke atmosfer, yang terdiri atas karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NO2), sulfur oksida (SOx), serta partikel black carbon. Emisi tersebut berpotensi mempercepat pemanasan global serta memperburuk krisis iklim.
Tak hanya emisi, ribuan kapal kargo besar yang berlalu-lalang di sepanjang pesisir Afrika meningkatkan risiko kerusakan terumbu karang serta ekosistem laut, terutama di selat Mozambik dan perairan sekitar Madagaskar.
Selat Mozambik, yang memisahkan daratan induk Afrika dan Pulau Madagaskar, selama ini dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati maritim dunia. Area tersebut masuk dalam lingkup Western Indian Ocean Coral Reef.
Secara umum kawasan tersebut meliputi perairan di wilayah Somalia, Kenya, Tanzania, Mozambik, serta wilayah laut di sekitar Madagaskar, Komoro, Mauritius, Seychelles, dan Mayotte.
Kapal-kapal komersial besar yang melintas turut lepaskan jutaan ton air pembuangan, yang tak jarang membawa patogen, spesies invasif, serta mikroorganisme asing. Hal itulah yang salah satunya memicu kematian terumbu karang.
Belum lagi soal polusi suara bawah air (underwater noise pollution) yang dihasilkan dari gelombang propeller putaran baling-baling. Polusi tersebut berpotensi mengganggu sistem navigasi mamalia laut. Salah satunya paus bungkuk, yang menjadikan perairan Mozambik dan Madagaskar sebagai jalur migrasi.
Peningkatan limbah dan polusi laut juga tak terhindarkan akibat perubahan rute itu. Perjalanan panjang serta cuaca buruk di Tanjung Harapan dapat meningkatkan risiko tumpahan minyak di laut; antrean panjang di pelabuhan pesisir Afrika akan meningkatan limbah kapal yang dibuang ke laut; risiko kerusakan kapal, yang tak terhindarkan ketika antrean makin lama, jelas bakal menambah kontribusi pencemaran laut.
Pada akhirnya, konflik Asia Barat, yang terus berlarut dan tak kunjung menemui titik damai, turut menimbulkan efek domino berupa kerugian dan kerusakan yang luas, bahkan melebihi area konflik itu sendiri.
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































