Menuju konten utama
TirtoEco

Seberapa Parah Dampak Lingkungan dari Perang Iran-AS?

Selain korban jiwa dan materiel, perang Iran vs. AS-Israel menimbulkan dampak lingkungan serius, dari polusi udara, pencemaran air, hingga kerusakan tanah.

Seberapa Parah Dampak Lingkungan dari Perang Iran-AS?
kepulan asap yang membubung di atas kota Isfahan, Iran, setelah serangan. AFP/UGC
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kota Teheran diselimuti asap hitam tebal pada Minggu pagi, 8 Maret 2026. Jelaga memenuhi jalan. Kotoran berwarna hitam pekat berceceran di balkon warga.

Dalam pesan yang diterima The Guardian dari Negin (nama samaran), warga Iran yang tinggal di bagian timur dekat pusat kota Teheran, digambarkan bahwa pagi itu situasinya, "seperti kiamat."

"Situasinya sangat menakutkan, bahkan sulit untuk digambarkan. Asap tebal menyelimuti seluruh kota. Saya mengalami sesak napas, sementara mata dan tenggorokan terasa terbakar...," cerita Negin.

Kondisi mencekam pagi itu timbul setelah kebakaran hebat terjadi sejak Sabtu (7/3) malam, dampak dari serangan jet tempur Israel terhadap empat kilang minyak dekat Teheran, yakni Aghdasieh, Shahr Rey (Tehran Refinery), Shahran, dan Karaj.

Asap tebal akibat kebakaran bercampur dengan jelaga atau serbuk halus berwarna hitam yang beracun. Oleh sebab itu, saat hujan mengguyur Teheran pada Minggu pagi, terjadilah black rain. Otoritas setempat mengimbau warga tetap berada di dalam rumah dan menyediakan masker.

Associate Professor of Chemical Engineering di The University of Melbourne, Gabriel da Silva, menjelaskan, terjadinya black rain menunjukkan bahwa polutan beracun seperti hidrokarbon serta senyawa karsinogenik yang disebut Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) telah bercampur ke dalam air hujan.

"Asap dari kilang minyak yang dibom juga kemungkinan mengandung sulfur dioksida dan nitrogen dioksida. Kedua zat ini merupakan prekursor pembentuk asam sulfat dan asam nitrat di udara. Asam tersebut kemudian masuk ke dalam tetesan air di atmosfer, sehingga menghasilkan fenomena yang biasanya kita kenal sebagai hujan asam," tulisnya.

Meski polutan dapat tersapu dari udara oleh hujan, tidak berarti risiko darinya hilang. Polutan dapat masuk ke saluran air sehingga mencemarinya; atau jika ia mengendap di tanah, lalu tanah mengering, angin akan menerbangkannya kembali ke udara.

Kebakaran Fasilitas Minyak, Racun Bagi Lingkungan

Serangan dalam perang AS-Israel versus Iran yang menargetkan fasilitas minyak membuat para ahli khawatir mengenai warisan beracun bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Lingkungan beracun itu dapat bertahan lama, bahkan setelah perang berakhir.

Hingga 10 Maret 2026, Conflict and Environment Observatory (CEOBS) telah mengidentifikasi lebih dari 300 insiden yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, mulai dari serangan terhadap pangkalan rudal hingga kapal tanker minyak di Teluk Persia.

Namun, para peneliti mengatakan bahwa angka tersebut kemungkinan hanya mencerminkan sebagian kecil dari kerusakan sebenarnya. Sebab, sebelumnya, AS mengklaim telah menyerang 6.000 lokasi. Itu belum termasuk serangan dari Israel dan balasan dari Iran.

Selama dua pekan terakhir, kilang minyak di Iran, Oman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, telah menjadi target serangan dalam perang. Namun Iran berpotensi paling terdampak dari penargetan serangan ke fasilitas energi tersebut sebab Israel dilaporkan telah menyerang lebih dari 30 fasilitas minyak Iran.

Dalam laporan CEOBS, serangan ke kilang minyak Iran berdampak pada kontaminasi air. Tumpahan minyak di Shahran dilaporkan masuk ke saluran air hujan di Teheran. Kontaminasi ini dapat memperparah kerentanan di Iran, yang dalam beberapa tahun terakhir masuk sebagai salah satu negara dengan kelangkaan air terparah di dunia.

Dalam kondisi sumber daya air sangat terbatas, serangan AS terhadap fasilitas desalinasi di Qeshm, makin memperburuk situasi di wilayah tersebut. Apalagi Teheran sangat bergantung dengan air dari desalinasi.

Laporan CEOBS juga menjelaskan bahwa kebakaran fasilitas minyak di Teheran dapat melepaskan karbon dioksida dan emisi metana yang lebih besar. Ozon di permukaan tanah, yang juga merupakan gas rumah kaca, dapat terbentuk di daerah yang dilalui asap kebakaran tersebut.

Selain itu, ada karbon hitam atau jelaga yang menyerap panas dan menghangatkan atmosfer. Ia bahkan berpotensi menyebar hingga ke Pegunungan Altai, yang menjadi rumah bagi beberapa gletser.

Burcu Onat, profesor di departemen teknik lingkungan di Istanbul University-Cerrahpasa, mengatakan bahwa jelaga mempercepat pemanasan global.

UAE-IRAN-US-ISRAEL-WAR

Kepulan asap membubung dari kebakaran yang masih berlangsung di Bandara Internasional Dubai di Dubai pada 16 Maret 2026. Foto/AFP

Tak hanya serangan ke fasilitas minyak di darat, serangan terhadap dua kapal tanker di Selat Hormuz juga mengancam ekosistem di perairan tersebut. Greenpeace mengatakan, 85 kapal tanker besar, yang terblokir di Teluk Persia membentang hingga Selat Hormuz, adalah bom waktu ekologis yang siap meledak.

Organisasi lingkungan yang bermarkas di Amsterdam tersebut memprediksi sebanyak 50 ribu ton tumpahan minyak mencemari perairan tersebut. Padahal, Teluk Persia hingga kini belum sepenuhnya pulih dari pencemaran kronis yang ditinggalkan oleh Perang Teluk 1991, ketika jutaan barel minyak tumpah ke laut selama perang.

Jika serangan ke fasilitas minyak ini terus dilakukan, dampak kumulatifnya berpotensi memperparah krisis iklim dan meningkatkan pencemaran lingkungan.

Aktivitas Militer Penyumbang Emisi Karbon

Dampak lingkungan dari perang sebenarnya telah dimulai jauh sebelum perang terjadi secara langsung. Masa persiapan, seperti peningkatan produksi senjata, pembangunan dan aktivitas pangkalan militer, latihan militer skala besar, serta peningkatan belanja militer, dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca, polusi air dan tanah, serta konsumsi sumber daya alam yang tinggi.

Hanya saja, risiko-risiko tersebut makin besar ketika konflik pecah, terutama karena banyaknya fasilitas militer yang menjadi target serangan.

Gudang penyimpanan senjata konvensional, misalnya, dapat menimbulkan risiko lingkungan ketika diserang. Penghancuran amunisi yang tidak sempurna dapat membuat area tersebut terkontaminasi logam berat, propelan, dan bahan peledak, yang banyak di antaranya beracun. Kontaminasi bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan usai perang, sementara kebakaran dapat menghasilkan dioksin, furan, dan melepaskan partikel berbahaya ke udara.

Dr. Stuart Parkinson, peneliti di Scientists for Global Responsibility, memperkirakan, militer bertanggung jawab atas sekitar 5,5 persen dari seluruh emisi gas rumah kaca secara global. Angka ini memberi gambaran besarnya jejak karbon dari aktivitas militer, baik sebelum, selama, maupun setelah perang.

Sebagai gambaran, perang AS-Israel dan Iran selama lima hari pertama saja telah menimbulkan emisi karbon dioksida sekitar 35 ribu ton, akibat dari peluncuran bahan bakar jet dan rudal, termasuk rudal balistik. Berdasarkan laporan dari Queen Mary University of London, angka tersebut setara dengan emisi tahunan dari mengendarai sekitar 8.300 mobil atau membakar 20 ribu ton batu bara. [sumber]

Selain itu, satu pesawat pembom B-2 milik AS dapat mengonsumsi sekitar 25 ribu liter bahan bakar untuk tujuh misi pengeboman. Maka itu, emisi karbon dari operasinya selama tiga hari saja dapat menyaingi emisi tahunan negara-negara kepulauan kecil.

Dampak serupa juga terlihat dalam konflik lain di kawasan tersebut. Invasi Israel ke Gaza selama 120 hari, yang menjatuhkan sekitar 45 ribu bom, menghasilkan antara 70.165 hingga 86.306 ton karbon dioksida. Bahkan, laporan lain dari The War on Climate menyebut, invasi Israel ke Gaza menghasilkan sekitar 32,2 juta ton karbon dioksida hanya dalam 15 bulan.

"Militer menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar, menghancurkan ekosistem, dan meninggalkan limbah beracun yang dapat meracuni masyarakat selama beberapa generasi," tulis laporan The War on Climate.

Laporan tersebut menegaskan bahwa hingga kini, aktivitas militer hampir tidak pernah menghadapi pertanggungjawaban atas dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

Ancaman Lonjakan Emisi Karbon di Masa Depan

Perang tidak berhenti pada kerusakan langsung di medan konflik yang berdampak langsung pada lingkungan, tetapi juga dapat memicu krisis energi global yang berujung pada peningkatan emisi karbon.

Konflik antara AS-Israel dan Iran menghentikan ekspor gas dari Qatar yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan dunia. Gangguan tersebut memicu kenaikan harga gas global, mirip seperti krisis energi 2022 saat perang Rusia-Ukraina, ketika banyak negara kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga pasokan energi.

Menurut Benjamin Storrow dalam tulisan "Why the Iran War Could Spur Higher Emissions", jika gangguan pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) berlangsung lama, sejumlah negara, terutama di Asia, diperkirakan akan beralih ke batu bara.

Peralihan dari gas ke batu bara berpotensi meningkatkan emisi karbon global. Dampaknya tidak hanya pada naiknya emisi gas rumah kaca secara global, tetapi juga pada penurunan kualitas udara di tingkat lokal.

Di India, pemerintahnya sedang mempertimbangkan arahan darurat kepada pembangkit listrik tenaga batu bara untuk meningkatkan produksi serta merencanakan pengadaan bahan bakar guna memenuhi lonjakan permintaan listrik pada puncak musim panas.

Jika kondisi ini berlanjut, perang Iran berpotensi memperbesar emisi karbon global karena meningkatnya ketergantungan pada batu bara. Sebuah ironi di tengah dunia yang gencar membicarakan penurunan emisi karbon.

Baca juga artikel terkait IRAN-AS atau tulisan lainnya dari Yantina Debora

tirto.id - TirtoEco
Penulis: Yantina Debora
Editor: Fadli Nasrudin