tirto.id - Beredar video di media sosial yang memperlihatkan beberapa wilayah di Iran mengalami fenomena “acid rain” atau “hujan asam” yang beracun.
Awan hitam terlihat membumbung tinggi di langit Teheran sejak Minggu, 8 Maret 2026. Awan-awan tersebut berkumpul dan menghasilkan hujan di ibu kota Iran tersebut.
Namun, ada yang berbeda dalam hujan kali ini karena tergolong sebagai “hujan asam”, karena air hujan tersebut diduga mengandung zat kimia berbahaya yang berasal dari asap kebakaran besar di fasilitas minyak.
Apa Itu Hujan Asam di Iran dan Penyebabnya?
Serangan udara kembali dilakukan oleh Israel terhadap fasilitas minyak di ibu kota Teheran pada Minggu (8/3). Akibat serangan ini, muncul kepulan asap tebal yang menutupi langit kota karena beberapa depot penyimpanan dan fasilitas distribusi minyak terbakar.
JUST IN: 🇮🇷 Iranian journalist reports in front of the flames of a burning Oil depot.
— Radar 𝘸 Archie🚨 (@RadarHits) March 8, 2026
Incredible bravery. pic.twitter.com/4WuUc0dNy4
Dilaporkan Al Jazeera, ini adalah pertama kalinya fasilitas minyak Iran menjadi target langsung sejak perang dimulai, dan terjadi pada hari kesembilan operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Ledakan besar memicu kebakaran hebat dan menyebabkan kebocoran minyak hingga mengalir ke jalan-jalan di sekitar depot Shahran. Empat sopir truk tanker dilaporkan tewas dan para petugas keamanan serta pemadam kebakaran bekerja keras untuk memadamkan api dan mengendalikan situasi.
Israel menyatakan bahwa target tersebut digunakan untuk mendukung infrastruktur militer Iran, sedangkan Iran menyebut serangan itu sebagai agresi dari Amerika Serikat dan “rezim Zionis”.
Para jurnalis yang melaporkan dari Teheran menggambarkan kondisi lingkungan yang mengkhawatirkan karena asap hitam pekat bahkan menyebabkan tetesan seperti “hujan hitam” di jendela rumah, menimbulkan risiko udara beracun bagi warga.
Warga Iran melaporkan berbagai gejala kesehatan seperti sakit kepala, sesak napas, dan hujan yang meninggalkan lapisan berminyak pada bangunan serta kendaraan setelah peristiwa tersebut.
Organisasi kemanusiaan Iranian Red Crescent Society juga memperingatkan bahwa hujan yang turun setelah serangan tersebut bisa sangat berbahaya dan bersifat asam.
Para ilmuwan atmosfer menilai fenomena ini jauh lebih kompleks daripada sekadar hujan asam biasa karena kemungkinan mengandung campuran berbagai polutan beracun.
Karena depot minyak yang terbakar menghasilkan asap tebal yang sangat tercemar, hujan yang turun setelahnya dapat membawa berbagai zat berbahaya sehingga tampak berwarna gelap atau hitam.
🚨BREAKING: Toxic Black rain from Iran will move towards Turkmenistan, Afghanistan and Pakistan pic.twitter.com/ci06fxjKNX
— The Daily CPEC (@TheDailyCPEC) March 8, 2026
Dampak Hujan Asam di Iran Akibat Serangan Israel
Para ahli memperkirakan hujan tersebut mengandung hidrokarbon, partikel halus berukuran sangat kecil yang disebut PM2.5, serta senyawa kimia berbahaya bernama polycyclic aromatic hydrocarbons.
Senyawa terakhir ini dikenal bersifat karsinogenik atau dapat meningkatkan risiko kanker. Selain itu, kemungkinan juga terdapat logam berat, debu bangunan, dan bahan kimia anorganik yang ikut terbakar dalam ledakan dan kebakaran fasilitas industri tersebut.
Asap dari kebakaran minyak juga mengandung gas seperti sulfur dioksida dan nitrogen dioksida. Gas-gas ini di atmosfer dapat bereaksi dengan uap air dan oksigen untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat. Ketika zat asam ini larut dalam tetesan air hujan, maka terbentuklah fenomena yang dikenal sebagai hujan asam.
Dalam kasus kebakaran depot minyak akibat perang, komposisi polutannya jauh lebih kompleks karena melibatkan berbagai bahan kimia dari minyak mentah, bangunan, kendaraan, dan infrastruktur yang ikut terbakar.
Selain hujan yang tercemar, masalah besar lainnya adalah awan asap beracun yang menyelimuti wilayah padat penduduk.
Asap dari kebakaran minyak mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat terhirup langsung oleh manusia. Jika seseorang bisa mencium bau asap, itu berarti polutan sudah berada pada tingkat yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Dalam waktu singkat setelah terpapar polusi tersebut, masyarakat dapat mengalami sakit kepala, iritasi mata, batuk, dan kesulitan bernapas.
Paparan jangka panjang terhadap partikel halus seperti PM2.5 sangat berbahaya karena partikel ini cukup kecil untuk masuk ke paru-paru dan bahkan ke aliran darah.
Dampaknya bisa mencakup berbagai penyakit serius, seperti gangguan jantung, penyakit pembuluh darah, kanker paru-paru, hingga gangguan saraf yang dapat mempengaruhi kemampuan kognitif.
Senyawa kimia seperti polycyclic aromatic hydrocarbons juga diketahui dapat merusak DNA sel manusia, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker setelah paparan dalam waktu lama.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





























