tirto.id - Amerika Serikat dan Israel berulang kali menyatakan bahwa salah satu alasan utama serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu adalah untuk mencegah negara tersebut mengembangkan senjata nuklir.
Kekhawatiran kepemilikan senjata nuklir itu didasarkan pada pesatnya perkembangan program nuklir Iran, terutama kemampuan pengayaan uranium yang dinilai dapat memperpendek waktu bagi Teheran untuk memproduksi bahan baku senjata nuklir apabila suatu saat memutuskan melakukannya.
Namun, ternyata hingga saat ini belum ada bukti publik yang menunjukkan bahwa Iran telah memiliki atau memproduksi senjata nuklir.
Melalui pernyataan Kedutaan Besar Iran di Indonesia, hingga Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi, Teheran menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan damai.
Sejumlah dokumen resmi, termasuk laporan Congressional Research Service (CRS) Amerika Serikat dan pernyataan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), juga menunjukkan bahwa meski terdapat kekhawatiran terhadap kemampuan nuklir Iran, belum ada bukti yang menyatakan negara itu telah memiliki senjata nuklir.
Penjelasan Kedubes Iran soal Program Nuklir di Teheran
Pernyataan yang diunggah oleh Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia melalui akun X @IraninIndonesia pada 2 Agustus 2026 menegaskan kembali posisi resmi pemerintah Iran bahwa negara tersebut tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya.
“The Islamic Republic of Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya,” tandas mereka.
Dalam unggahan berbentuk infografik itu, Iran menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat transparan, damai, dan sesuai dengan hukum internasional.
Pemerintah Iran menekankan bahwa seluruh aktivitas nuklirnya berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (Non-Proliferation Treaty/NPT), yang memberikan hak kepada setiap negara anggota untuk mengembangkan dan memanfaatkan energi nuklir bagi tujuan damai, seperti pembangkit listrik, layanan kesehatan, dan penelitian ilmiah, selama tetap mematuhi ketentuan internasional.
Menurut pemerintah Iran, fasilitas dan aktivitas nuklir negara itu berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), sehingga dapat diverifikasi oleh lembaga tersebut.
Iran menyebut bahwa negaranya menerapkan salah satu sistem inspeksi nuklir paling ketat di dunia dan menegaskan bahwa program tersebut tidak ditujukan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Selain itu, Iran mengutip fatwa Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang menyatakan bahwa kepemilikan maupun penggunaan senjata nuklir bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan negara tersebut.
Pesan serupa juga disampaikan oleh Duta Besar Republik Islam Iran, Mohammad Boroujerdi, melalui akun X @MoBoroujerdi pada hari yang sama. Dalam unggahannya, Boroujerdi menyatakan bahwa rakyat Iran telah membuktikan kemampuan mereka mempertahankan negaranya tanpa memerlukan senjata nuklir.
“Rakyat Iran telah membuktikan bahwa membela negara mereka tidak memerlukan senjata nuklir. Ketahanan dan tekad mereka berbicara lebih lantang daripada hulu ledak mana pun. Jika ada yang mencari alasan untuk memicu perlombaan senjata nuklir, ini bukanlah alasannya. #StandWithIran #PeaceThroughStrength,” tulisnya.
Dengan kembali menegaskan sikap tersebut, pemerintah Iran tampaknya berupaya memperkuat posisi diplomatiknya di hadapan masyarakat internasional setelah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Melalui penekanan pada kepatuhan terhadap NPT, pengawasan IAEA, serta fatwa yang melarang senjata nuklir, Iran ingin menunjukkan bahwa program nuklirnya berbeda dengan program pengembangan senjata.
Meskipun di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tetap menyatakan kekhawatiran bahwa kemampuan teknis Iran dalam memperkaya uranium dapat dimanfaatkan untuk tujuan militer apabila situasi politik berubah.
The Islamic Republic of Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya. pic.twitter.com/fP4qGZYndV
— Iran Embassy in Indonesia (@IraninIndonesia) August 2, 2026
Iran Tidak Punya Senjata Nuklir
Berikut sejumlah fakta yang dijadikan dasar oleh Iran untuk menyatakan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan negara tersebut memiliki senjata nuklir:
1. Intelijen AS menyatakan Iran belum membangun senjata nuklir
Laporan Congressional Research Service (CRS) yang diunggah di laman resmi Parlemen AS mengutip penilaian intelijen AS tahun 2025 yang menyatakan "Iran tidak sedang membangun senjata nuklir”.Laporan tersebut juga menyebut Pemimpin Tertinggi Iran belum mengaktifkan kembali program senjata nuklir yang dihentikan pada 2003. Ini penting karena berasal dari penilaian resmi komunitas intelijen Amerika Serikat, negara yang selama ini menjadi pihak paling vokal mengkritik program nuklir Iran.
2. IAEA tidak menemukan program sistematis pembuatan bom nuklir
Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA) Rafael Grossi menyatakan pada Maret 2026 bahwa hingga sebelum inspeksi dihentikan akibat perang, IAEA tidak memiliki informasi yang menunjukkan Iran menjalankan program yang terstruktur dan sistematis untuk membangun senjata nuklir.Meskipun pada 2025, badan pengawas nuklir PBB menyebut jika pengayaan uranium di Iran ada yang mencapai 60 persen, namun angka tersebut masih di bawah kebutuhan untuk membuat senjata nuklir yakni 90 persen.
3. Iran masih menjadi anggota NPT
Iran merupakan negara anggota Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) yang memberikan hak kepada negara anggotanya untuk mengembangkan teknologi nuklir bagi kepentingan damai, seperti pembangkit listrik, kesehatan, dan penelitian.Pemerintah Iran secara konsisten menyatakan bahwa program pengayaan uraniumnya hanya ditujukan untuk kebutuhan sipil dan bukan untuk memproduksi senjata nuklir.
4. Iran pernah menerima inspeksi nuklir paling ketat melalui JCPOA
Dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) bersama Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, China, dan Uni Eropa tahun 2015, menurut Al Jazeera (23/7/2026), Iran menyetujui pembatasan ketat terhadap program nuklirnya, termasuk membatasi pengayaan uranium hingga sekitar 3,67 persen dan memberikan akses inspeksi yang sangat luas kepada IAEA.5. Serangan AS-Israel didasarkan pada kekhawatiran kemampuan
Salah satu alasan utama Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran adalah kekhawatiran bahwa kemampuan pengayaan uranium Iran dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir di masa depan.Namun, yang menjadi perhatian adalah potensi atau kemampuan, bukan karena telah ditemukan bukti bahwa Iran sudah memiliki bom nuklir. Perbedaan ini penting karena hingga kini belum ada bukti publik yang menunjukkan Iran telah memproduksi atau memiliki senjata nuklir yang siap digunakan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































