Menuju konten utama
Mozaik

Netanyahu dan Operasi Penyelundupan Alat Pemicu Bom Nuklir

Kejahatan Netanyahu tak cuma terekam sejak menjabat perdana menteri. Pada masa mudanya, ia pernah terlibat penyelundupan pemantik bom nuklir untuk Israel.

Netanyahu dan Operasi Penyelundupan Alat Pemicu Bom Nuklir
Ilustrasi senjata nuklir. Flickr/Kelly Michals

tirto.id - Amerika Serikat dan Israel terus menekan Iran dengan tuduhan membangun senjata pemusnah massal. Padahal, laporan intelijen mereka sendiri berulang kali menyebut tidak ada bukti kuat bahwa Teheran sedang merakit bom nuklir.

Iran, sebagai penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), justru berada di bawah pengawasan ketat Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Para pemimpin Iran juga menegaskan, program nuklirnya ditujukan untuk energi dan riset sipil, bukan senjata.

Kontrasnya, Israel menolak menandatangani NPT, menutup pintu bagi inspeksi, dan bersembunyi di balik doktrin ambiguitas nuklir.

Meski tak pernah diakui, banyak analis percaya Israel memiliki persenjataan nuklir matang dengan ratusan hulu ledak, rudal balistik Jericho, jet tempur, hingga kapal selam Dolphin pembawa rudal berkemampuan nuklir.

Ilustrasi Senjata Nuklir

Ilustrasi Senjata Nuklir. wikimedia commons/Israeli Navy Spokesman

Iran ditekan habis-habisan, sementara Israel dibiarkan tanpa pengawasan.

Sejarah Israel dan teknologi nuklir pun jarang dibicarakan. Padahal, mereka pernah terlibat operasi rahasia, spionase, dan jaringan penyelundupan, yang bahkan menargetkan sekutu dekatnya, Amerika Serikat.

Operasi itu dikenal sebagai Project Pinto, operasi jaringan penyelundupan yang melibatkan ilmuwan, tokoh industri hiburan, hingga seorang diplomat muda bernama Benyamin Netanyahu, penjahat perang yang kini menjadi perdana menteri Israel.

Reaktor Dimona dan Lahirnya Project Pinto

Ambisi nuklir Israel lahir dari rasa takut dan trauma pasca-Holocaust. Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, percaya bahwa kelangsungan hidup bangsanya hanya bisa dijamin lewat supremasi militer mutlak.

Baginya, sains dan teknologi adalah senjata utama menutup kelemahan geografis dan demografis. Ambisinya mulai nyata setelah Krisis Suez 1956. Lewat pertemuan rahasia di Sèvres, Israel berhasil meyakinkan Prancis untuk menjadi aliansi utama.

Prancis, yang tengah berperang di Aljazair dan sekaligus berhadapan dengan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser—saat itu sedang menggaungkan nasionalisme Arab—melihat Israel sebagai sekutu strategis. Dari persekutuan itu, lahirlah reaktor air berat di Kota Dimona, lengkap dengan fasilitas pemrosesan plutonium (unsur kimia radioaktif).

Menurut laporan Julian Borger (2014), pada akhir 1950-an, sebanyak 2.500 teknisi Prancis didatangkan diam-diam ke gurun Negev untuk membangun proyek tersebut.

Pada 1955, di bawah naungan Atom for Peace¸ AS menjual reaktor riset kecil dan menekankan pelarangan produksi plutonium. Namun di sisi lain, reaktor itu terus dikembangkan oleh Israel untuk penelitian senjata.

Ketika intelijen AS mulai mencium keberadaan reaktor pada awal 1960-an, Israel berkilah bahwa proyeknya merupakan proyek kesehatan, sains, dan pertanian gurun.

Pada April 1963, Presiden John F. Kennedy mengirim surat ultimatum kepada Perdana Menteri David Ben-Gurion dan penggantinya, Levi Eshkol. Ia menuntut inspeksi rutin ke Dimona dan mengancam bahwa dukungan AS terhadap Israel berpotensi berada di ujung tanduk jika tidak ada informasi akurat.

Sepanjang 1961-1969, Washington telah memeriksanya sebanyak delapan kali. Namun, Israel sudah menyiapkan ruang kontrol palsu. Fasilitas plutonium disembunyikan di bawah tanah sehingga para inspektur AS pulang dengan tangan hampa dan kesimpulan keliru.

Meski begitu, Kennedy terus mencoba memperluas inspeksi Dimona, hingga memperkuat peran Badan Energi Atom Internasional (IAEA) guna mencegah penyebaran senjata nuklir di Asia Barat.

Pada November 1963, John F. Kennedy dibunuh, memunculkan konspirasi keterlibatan Mossad bersama CIA untuk melindungi program nuklir Israel. Teori tersebut terus muncul secara berkala, misalnya pernyataan politisi seperti Marjorie Taylor Greene pada 2025.

“Dia menentang program nuklir Israel. Dan kemudian dia dibunuh,” ujar Greene.

Untuk membuat bom, Israel membutuhkan desain implosi (metode pemicu) yang presisi, mirip dengan Fat Man yang dijatuhkan di Nagasaki. Ledakan konvensional harus menyatu dalam sepersekian mikrodetik agar inti plutonium terkompresi sempurna.

Tanpa itu, bom hanya menjadi dirty bomb tanpa daya hancur. Menyadari keterbatasan tersebut, Shimon Peres (presiden Israel kala itu) mendirikan LAKAM, biro intelijen khusus untuk mencuri dan menyelundupkan teknologi. Fokusnya pada perangkat keras dan material langka yang dibutuhkan program nuklir.

Seiring waktu, Israel berhasil membuat hulu ledak generasi pertama. Namun, untuk memodernisasi dan mengecilkan ukuran agar muat di rudal balistik, mereka membutuhkan komponen elektronik canggih yang hanya diproduksi di AS.

Target utamanya adalah krytron, sakelar elektronik berkecepatan tinggi yang mampu melepaskan arus listrik masif dalam sekejap. Komponen mungil tersebut menjadi kunci untuk menyinkronkan detonator bahan peledak di sekitar inti plutonium.

Masalahnya, krytron adalah produk monopoli perusahaan pertahanan EG&G di AS dan diawasi ketat oleh Departemen Luar Negeri. Tidak ada jalur legal bagi Israel untuk mendapatkannya.

Maka, LAKAM merancang Project Pinto, jaringan perdagangan gelap lintas benua.

Penyelundupan Krytron dari California ke Tel Aviv

Rencana pengadaan krytron untuk Project Pinto menuntut operasi rapi dan berani, dijalankan tepat di bawah radar aparat hukum dan intelijen AS. Jaringan penyelundupannya bekerja lintas samudra antara tahun 1979 dan 1983.

Project Pinto dipimpin oleh Richard Kelly Smyth (insinyur kedirgantaraan AS yang pernah menjadi konsultan NATO sekaligus presiden MILCO International Inc.) dan Arnon Milchan (pengusaha Israel flamboyan yang kelak dikenal sebagai produser film Hollywood Pretty Woman, LA Confidential, dan Fight Club).

Milchan, sejak muda direkrut langsung oleh Shimon Peres untuk menjadi agen LAKAM. Dengan modal bisnis kimia keluarganya, ia membangun jaringan perusahaan cangkang di berbagai negara, dan memberi Israel akses pada teknologi sensitif.

“Tahukah Anda bagaimana rasanya menjadi anak berusia 20-an tahun [dan] negaranya membiarkan dia menjadi James Bond? Wow! Aksinya! Itu mengasyikkan!” katanya, dilansir oleh The Guardian.

Hollywood memberinya kedok seorang produser yang sering bepergian dan mengelola transaksi jutaan dolar sehingga tidak mudah dicurigai. Salah satu perusahaannya, Heli Trading Company, menjadi simpul penting dalam rantai logistik Israel.

Melalui jaringan itu, Milchan merekrut Smyth. MILCO kemudian difungsikan sebagai perusahaan cangkang di AS, membeli teknologi sensitif seolah untuk kebutuhan domestik, lalu menyelundupkannya ke Israel lewat Heli Trading.

Smyth memesan 800 unit krytron dari EG&G, lalu memalsukan dokumen ekspor dengan melabelinya sebagai pentode atau tabung radio biasa. Dengan trik itu, selama 1979-1983, MILCO berhasil mengirim 15 gelombang pengiriman berisi krytron dan peralatan lain, seperti giroskop, generator neutron, dan sistem kontrol penerbangan. Semuanya mengalir ke tangan militer Israel.

Iddo Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan adik laki-lakinya, Iddo Netanyahu, tampak menyaksikan jenazah ayah mereka, Benzion Netanyahu, dibawa pergi pada 30 April 2012 di Yerusalem. AFP PHOTO/GALI TIBBON

Pada saat itu, Benjamin Netanyahu diketahui masih bekerja sebagai eksekutif di Heli Trading. Dan dokumen FBI yang dideklasifikasi pada 2012 dan 2014 mengonfirmasi keterlibatannya.

Smyth bersaksi bahwa dirinya rutin bertemu Netanyahu di Tel Aviv untuk mengatur logistik penyelundupan.

Itulah yang membuat Netanyahu, selama 30 tahun sejak 1995, selalu mendesak dunia agar menekan Iran agar tidak memiliki nuklir. Hal itu ia ulangi untuk mengalihkan keterlibatannya dalam jaringan kriminal transnasional yang menyelundupkan teknologi pemicu nuklir dari sekutu utamanya sendiri.

Ikatan Politik Washington-Tel Aviv Melindungi Pelaku

Tirai penyamaran Project Pinto akhirnya terungkap pada pertengahan 1980-an. Skandal itu pecah hampir bersamaan dengan penangkapan Jonathan Pollard, analis intelijen Angkatan Laut AS yang menjual dokumen rahasia kepada agen LAKAM.

Mei 1984, dewan juri federal di Los Angeles mendakwa Richard Kelly Smyth dengan 30 pasal penyelundupan ilegal dan kesaksian palsu.

Menghadapi ancaman hukuman lebih dari seratus tahun, Smyth memilih kabur. Dengan bantuan jaringan Israel, ia dan istrinya menghilang dari California tepat sebelum persidangan dimulai. Media sempat berspekulasi ia dibunuh, tetapi kenyataannya ia diselundupkan keluar AS dan bersembunyi di Israel.

Pelarian Smyth berlangsung 16 tahun. Ia hidup berpindah-pindah di Eropa dengan paspor palsu dan identitas baru, sebelum akhirnya ditangkap di Malaga, Spanyol, pada Juli 2001.

Diekstradisi ke AS, ia mengaku bersalah atas pelanggaran Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata. Pada 2002, ia dijatuhi hukuman 40 bulan penjara dan denda 20.000 dolar AS. Hukuman yang sangat ringan untuk kasus proliferasi nuklir, tetapi cukup untuk mengakhiri masa tuanya.

Ketika skandal krytron mencuat pada 1985, Israel segera mereduksi masalah. Menteri Pertahanan Yitzhak Rabin membantah adanya operasi sistematis. Ia menyebut insiden itu sekadar kesalahan administrasi dari pihak eksportir AS.

Mereka mengklaim krytron hanya untuk riset medis atau sipil, bahkan menawarkan pengembalian komponen. Namun, dari 800 unit kryton selundupan, hanya sebagian yang dikembalikan. Kompromi itu cukup untuk menyelamatkan muka Washington, tapi tidak menghentikan program nuklir Israel.

Pada 1985, mantan teknisi Israel, Mordechai Vanunu, mengatakan kepada surat kabar London, Sunday Times, bahwa Israel mungkin memiliki persediaan 100-200 senjata nuklir, mampu membuat perangkat termonuklir lebih kuat daripada bom atom, dan telah bekerja sama secara rutin dengan Afrika Selatan dalam masalah nuklir.

Pada Maret 1988, Vanunu dijatuhi hukuman 19 tahun penjara atas dakwaan pengkhianatan dan spionase.

Sementara itu, Arnon Milchan dan Benjamin Netanyahu lolos tanpa tersentuh hukum. Israel menolak ekstradisi dan kesaksian Milchan, yang justru melesat di Hollywood dengan deretan film blockbuster-nya. Netanyahu pun melanjutkan karier politiknya hingga ke puncak kekuasaan.

Washington memilih menutup mata. Sebab, menuntut tokoh-tokoh itu berarti mempertaruhkan aliansi strategis dengan Tel Aviv.

Pengakuan Milchan, bahwa dirinya menjadi agen Israel pada 2012, memaksa AS menangguhkan hak tinggalnya.

Namun pada 2014, menurut Time of Israel, Netanyahu, yang saat itu sudah menjabat perdana menteri, menekan langsung Menteri Luar Negeri AS John Kerry agar visa Milchan dipulihkan. Lobi tersebut berhasil sehingga Milchan kembali bebas keluar masuk AS, seolah tak pernah mencuri teknologi nuklir dari sekutu utamanya.

Kiwari, ketegangan nuklir di Asia Barat tak bisa dipahami tanpa menyingkap jejak Operasi Pinto. Sebab dalam geopolitik, siapa yang menguasai narasi, dialah yang berhak menentukan siapa disebut sekutu dan siapa dicap ancaman.

Baca juga artikel terkait BENJAMIN NETANYAHU atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin