tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mengumumkan Gunung Pickaxe di Iran sebagai target serangan baru. Serangan ini sedang dipertimbangkan oleh Trump. Apa yang ada di gunung itu sehingga Trump mengancam mendaratkan bom di sana?
Menukil Al Jazeera, ancaman tersebut sebelumnya diungkapkan Trump dalam sebuah wawancara dengan The Hugh Hewitt Show pada Senin (13/7/2026). Ia memperingatkan Iran untuk bersiap karena militer AS disebutnya akan menghancurkan gunung tersebut.
“Kami akan menghancurkan Pickaxe Mountain. Katakan pada Iran untuk bersiap-siap,” kata Trump, sembari menyebut AS mengawasi aktivitas di gunung itu “dengan sangat cermat”.
Pickaxe bukanlah nama sebenarnya dari gunung yang dimaksud Trump. “Pickaxe” merupakan bahasa Inggris untuk pangkur, perkakas mirip pacul dengan dua mata cangkul yang umum digunakan untuk menggali tanah atau mencongkel batu.
Meski Trump menyebut gunung itu sebagai Gunung Pickaxe, yang ada di sana juga bukan perkakas tersebut. Area yang dimaksud Trump adalah fasilitas nuklir milik Iran yang ada di sebelah selatan Teheran.
Laporan media menyebut gunung itu sebagai tempat fasilitas nuklir paling dilindungi di Iran. Gunung ini berisi terowongan yang kompleks dan tertanam jauh di bawah tanah. CBS menyebut fasilitas tersebut diduga para ahli terletak di 600 meter di bawah tanah.
Sementara itu, laporan intelijen AS menyebut fasilitas ini ada di kedalaman ratusan meter di bawah tanah di pegunungan granit yang padat. Tempat tersebut diduga sebagai pertahanan dari bom-bom penembus bunker.
Fasilitas ini juga tidak termasuk di antara tiga situs nuklir Iran yang diketahui secara luas, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan. Ketiga fasilitas nuklir tersohor itu sebelumnya telah menjadi target pengeboman militer AS sejak 2025 lalu.
Menurut media daring Al-Monitor yang berbasis di AS, badan-badan intelijen menduga fasilitas itu telah digunakan Iran sebagai fasilitas pengayaan uranium rahasia. Fasilitas ini diduga sengaja tidak diumumkan untuk menutupi program nuklir mereka.
Teheran sendiri sejauh ini membantah hal tersebut. Menurut mereka, fasilitas di gunung tersebut dibangun pada 2020 dan telah digunakan sebagai fasilitas perakitan sentrifugal canggih.
Namun, pembangunan fasilitas di gunung tersebut dilaporkan telah dipercepat sejak Juni 2025. Institut Sains dan Keamanan Internasional yang berbasis di AS belakangan juga melaporkan adanya peningkatan aktivitas di area tersebut berdasarkan citra satelit yang mereka himpun.
Dalam ancamannya pada Senin lalu, Trump menyebut Iran telah mencoba membangun fasilitas nuklir setiap kali fasilitas nuklir milik mereka dibom AS. Menurutnya, Gunung Pickaxe mungkin akan jadi yang berikutnya.
“Mereka tidak berhasil dengan situasi nuklir. Setiap kali kami mendengarnya, kami meledakkannya. Jadi mereka tidak suka membicarakannya. Tapi kami mungkin akan segera menghantam Pickaxe,” tutur Trump.
Ancaman baru Trump terhadap Gunung Pickaxe ini menjadi pernyataan kontradiktif terbaru Presiden AS itu. Sejak 2025, Trump berulang kali mengumumkan kesuksesannya mengebom fasilitas nuklir Iran tanpa sisa.
Akan tetapi, fasilitas nuklir terus menjadi alasan Trump untuk melakukan pemboman Iran di kemudian hari. Nuklir juga diklaim Trump menjadi salah satu alasan mengapa AS memecah perang dengan Iran pada 28 Februari lalu dan menyebabkan kenaikan harga di seluruh dunia.
Terlepas dari ancaman pemboman Gunung Pickaxe, situasi Perang Iran-AS kini terus dilanda ketidakpastian dengan eskalasi serangan yang terus terjadi. Kesepakatan gencatan senjata tak lagi efektif seiring kedua belah pihak melakukan serangan dan mengklaimnya sebagai respons pelanggaran kesepakatan damai.
Ledakan demi ledakan kembali dilaporkan terjadi di kawasan Teluk Persia. Terbaru, AS menyerang berbagai fasilitas militer Iran pada pekan ini. Ledakan dilaporkan terjadi meluas di wilayah Bandar Abbas, Qeshm, Kish, Abu Musa, dan Jam.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































