Menuju konten utama

Perang AS-Iran Kembali Berkecamuk, Saling Balas Serangan

Konflik AS-Iran memanas. AS menggempur Teheran, Iran membalas serangan dan kembali menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.

Perang AS-Iran Kembali Berkecamuk, Saling Balas Serangan
Konfilk Iran dan Amerika . FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah target militer. AS menggempur Teheran yang kemudian dibalas dengan serangan lain dan penutupan Selat Hormuz.

Eskalasi AS-Iran terbaru terjadi pada Sabtu, 12 Juli 2026, ketika Iran meluncurkan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Pada saat yang sama, Iran juga menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.

Penutupan tersebut dilakukan setelah Iran mengklaim melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal yang disebut melintasi jalur yang tidak diizinkan, serta menyatakan telah melumpuhkan kapal lain pada hari yang sama.

Media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di sejumlah kota pelabuhan.Sebagai balasan, Iran mengumumkan telah menyerang sejumlah fasilitas militer yang berkaitan dengan AS di kawasan Timur Tengah.

Menurut pernyataan IRGC, serangan diarahkan ke pusat komando dan kendali serta hanggar drone di sebuah pangkalan militer di Yordania. Iran juga mengklaim menyerang lokasi radar militer AS di Kuwait, fasilitas pendukung kapal induk dan pengisian bahan bakar di Oman, serta pusat pemeliharaan pesawat tempur dan fasilitas komando di Qatar.

Serangan tersebut berdampak ke sejumlah negara di kawasan Teluk. Pemerintah Qatar melaporkan tiga orang mengalami luka-luka akibat serpihan proyektil yang jatuh, termasuk seorang anak.

Uni Emirat Arab menyatakan sistem pertahanan udaranya diaktifkan untuk menghadapi ancaman rudal dan drone dari Iran, serta sirene peringatan berbunyi di Bahrain dan ledakan terdengar di ibu kota Qatar, Doha.

Meski demikian, otoritas Uni Emirat Arab kemudian menyampaikan bahwa ancaman rudal yang terdeteksi berada di luar wilayah negaranya.

Di Yordania, kantor berita pemerintah melaporkan tiga rudal yang berasal dari wilayah Iran jatuh pada dini hari 12 Juli 2026. Insiden tersebut hanya menyebabkan kerusakan ringan pada sejumlah fasilitas tanpa menimbulkan korban jiwa.

Di wilayah Musandam, Oman juga dilaporkan menjadi sasaran serangan drone, meski belum ada laporan resmi mengenai korban maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

Konflik AS-Iran telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, ketika AS bersama Israel memulai operasi militer terhadap Iran. Dalam perkembangannya, sempat diberlakukan gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran.

Namun, Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut telah berakhir menyusul kembali terjadinya aksi saling serang antara kedua belah pihak. Meski demikian, Trump masih membuka peluang bagi kelanjutan proses negosiasi diplomatik guna meredakan konflik.

Hal berbeda diungkapkan Ketua Parlemen Iran yang juga menjadi negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui media sosial X menegaskan bahwa era kesepakatan sepihak telah berakhir dan meminta pihak lain menepati komitmen yang telah disepakati.

“Era kesepakatan sepihak telah BERAKHIR. Sudah kami bilang: tepati janji atau tanggung akibatnya. Kenyataan telah tiba,” tulisnya di X @mb_ghalibaf pada 12 Juli 2026.

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Iran menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz dilakukan sebagai respons atas pelanggaran yang disebut dilakukan oleh kapal dagang yang melintasi jalur pelayaran tanpa izin.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan selat tersebut akan tetap ditutup hingga mereka yakin jika campur tangan AS di kawasan tersebut telah berakhir.

“(Selat Hormuz tersebut akan tetap ditutup hingga) berakhirnya campur tangan AS di wilayah ini”, kata IRGC dikutip The Straits Times Minggu (12/7/2026).

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran global mengingat Selat Hormuz merupakan jalur yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa kapal-kapal komersial masih dapat melintasi Selat Hormuz meskipun situasi keamanan meningkat.

CENTCOM juga mengungkapkan bahwa pada 11 Juli 2026, militer AS telah menyerang sekitar 140 target militer Iran dari lebih dari 300 sasaran yang direncanakan selama tiga malam operasi.

Menurut pihak AS, serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal sipil maupun kapal dagang yang melintasi kawasan tersebut.

CENTCOM juga menegaskan klaim bahwa Iran menguasai Selat Hormuz tidak sesuai dengan ketentuan hukum internasional.

“FAKTA: Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Selat tersebut tetap merupakan jalur air internasional. Pasukan AS ditempatkan dan siap untuk menjaganya tetap demikian,” tulis mereka di akun X @CENTCOM pada 12 Juli 2026.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra