Menuju konten utama

Iran Resmi Makamkan Ali Khamenei di Tengah Serangan AS

Iran memakamkan Ali Khamenei di Mashhad saat konflik dengan Amerika Serikat kembali memanas usai saling serang yang mengancam gencatan senjata.

Iran Resmi Makamkan Ali Khamenei di Tengah Serangan AS
Warga berkumpul di sepanjang jalan saat prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran yang tewas, Ali Khamenei, beserta anggota keluarganya di Teheran pada 6 Juli 2026. foto/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jenazah Ali Khamenei akhirnya dimakamkan di kompleks makam Imam Reza di kota kelahirannya, Mashhad pada Jumat, 10 Juli 2026. Prosesi pemakaman berlangsung dalam suasana tegang seiring meningkatnya kembali konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat.

Peti jenazah yang diselimuti bendera Iran diarak menuju tempat pemakaman di tengah lautan pelayat yang memenuhi kawasan sekitar makam sambil mengikuti doa-doa yang dipanjatkan. Televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa Khamenei dimakamkan di aula memorial yang berada di kompleks suci Imam Reza, salah satu tempat paling penting bagi umat Syiah.

Ali Khamenei dilaporkan wafat dalam serangan Israel-AS ke Iran pada 28 Februari lalu. Pemakamannya sebenarnya telah dijadwalkan pada Maret, tidak lama setelah kematiannya. Namun, rencana tersebut harus ditunda karena Iran terlibat dalam perang yang menyebabkan situasi keamanan dan politik di negara itu menjadi tidak kondusif untuk menyelenggarakan upacara pemakaman kenegaraan dalam skala besar.

Prosesi pemakaman resmi akhirnya dimulai pada Sabtu, 4 Juli kemarin ketika puluhan ribu warga Iran berkumpul di Kompleks Keagamaan Grand Mosalla di Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Supreme Leader mereka.

AS-Iran Saling Serang Lagi, Gencatan Senjata Batal?

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan udara dan rudal yang mengancam kesepakatan gencatan senjata sementara.

Pada Kamis (9/7/2026) dini hari, Amerika Serikat melancarkan gelombang baru serangan udara ke berbagai wilayah di Iran. Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah negara Timur Tengah yang menjadi sekutu Amerika Serikat, termasuk Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania.

Kementerian Kesehatan Iran menyatakan bahwa selama dua hari serangan Amerika, sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban dilaporkan merupakan anggota angkatan bersenjata Iran.

Selain itu, media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di sejumlah kota, termasuk Bushehr yang menjadi lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil Iran.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk semakin melemahkan kemampuan Iran mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz sehari sebelumnya.

Trump menegaskan bahwa jika Iran kembali menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut, Amerika Serikat akan memberikan respons yang jauh lebih keras. Ia juga kembali mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran, seperti pembangkit listrik, fasilitas desalinasi air, serta merebut Pulau Kharg, yang menjadi jalur utama ekspor sekitar 90 persen minyak Iran.

Di tengah meningkatnya ketegangan, para pejabat Iran menunjukkan sikap yang tegas. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, yang juga merupakan salah satu tokoh utama dalam perundingan untuk mengakhiri perang secara permanen, menyatakan melalui media sosial bahwa Amerika Serikat harus memahami bahwa tindakan intimidasi dan pelanggaran janji tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.

“Amerika masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji bukanlah hal yang gratis lagi. Izinkan saya mengatakannya dengan jelas: jika Anda menyerang, Anda akan dipukul. Jangan bergerak tanpa tujuan, atau Anda akan semakin terpuruk: Selat Hormuz hanya akan terbuka dengan "kesepakatan Iran," bukan ancaman Amerika,” tegasnya di akun X @mb_ghalibaf pada 9 Juli 2026.

Dilaporkan NPR, Jumat(10/7/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan dalam sebuah unggahan di Telegram bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Oman, serta Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir.

Komunikasi tersebut dilakukan Araghchi sebagai upaya untuk meredakan ketegangan dan mengembalikan kedua pihak ke meja perundingan sebelum perang berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra