Menuju konten utama

Menolak Punah di Era Digital: Asa Persewaan Komik Solo

Di tengah gempuran era digital, Victory Komik di Solo bertahan demi menjaga nostalgia pembaca setia dan merawat budaya membaca komik fisik.

Menolak Punah di Era Digital: Asa Persewaan Komik Solo
Sugeng Wiyono (60) Pemilik Victory Komik saat diwawancarai, Minggu (26/6/2026). Foto : Romensy Augustinian/tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Laju perkembangan teknologi digital perlahan mengikis ruang hidup komik cetak. Tempat persewaan komik yang sempat menjamur di Solo pada awal 2000-an, kini bisa dihitung jari.

Para pemilik persewaan yang masih bertahan bukan lagi berlomba menghadirkan judul-judul terbaru, melainkan berjuang untuk bertahan dan menjaga agar budaya membaca komik fisik tidak benar-benar hilang. Pelanggan yang datang pun didominasi pembaca lama yang ingin bernostalgia, mencari sensasi membaca komik cetak yang tak tergantikan oleh platform digital seperti Webtoon maupun MangaPlus.

Sugeng Wiyono, pemilik Victory Komik, masih mengingat masa kejayaan usaha persewaan komiknya pada awal 2000-an. Saat itu, demam manga seperti Kung Fu Boy, Detective Conan, Naruto, hingga One Piece membuat tokonya selalu ramai.

Setiap hari sedikitnya 50 orang datang ke toko yang berlokasi di Jalan Suryo Nomor 4, Purwodiningratan, Jebres, Solo, untuk menyewa komik. Demi memenuhi permintaan pelanggan, Sugeng bahkan biasanya membeli dua eksemplar komik untuk judul-judul yang paling laris agar pembaca tidak perlu mengantre terlalu lama.

"Waktu itu puncaknya, sehari bisa lebih dari 50 orang yang nyewa. Oyak-oyakan (berebutan), lari sana lari sini. Kalau terbitan baru keluar, pelanggan langsung berdatangan," kenang Sugeng saat diwawancarai Tirto.id, Minggu (26/7/2026).

Situasi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi sekarang. Memasuki 2026, memperoleh lima penyewa dalam sehari pun tidak mudah. Sekitar 600 anggota yang dahulu tercatat sebagai pelanggan aktif kini tinggal menjadi catatan di buku administrasi.

Pergeseran Minat Pembaca

Menurut Sugeng, perubahan mulai terasa ketika internet dan telepon pintar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pola konsumsi komik ikut berubah seiring bergantinya generasi pembaca.

Jika pembaca pada awal 2000-an selalu menunggu jilid terbaru yang baru terbit, pembaca saat ini lebih banyak mencari komik yang telah lebih dulu mereka kenal melalui adaptasi anime, seperti Demon Slayer, Jujutsu Kaisen, atau Blue Lock.

"Anak sekarang maunya yang sudah ada animenya. Mereka lihat dulu di HP cerita sampai nomor berapa, baru cari komiknya di jilid itu," ujar Sugeng.

Perubahan perilaku tersebut berlangsung seiring berkembangnya platform komik digital yang menggantikan komik cetak. Komik digital di Indonesia mulai dikenal pada pertengahan 2000-an melalui berbagai situs komunitas dan blog, kemudian semakin berkembang dengan hadirnya media sosial serta aplikasi baca komik.

Data Similarweb menunjukkan Webtoon menerima sekitar 27,08 juta kunjungan dari Indonesia sepanjang April–Juni 2020. Secara global, platform tersebut mencatat sekitar 53,81 juta kunjungan pada Juni 2020. Selang 4 tahun, Webtoon dikabarkan memiliki 169 juta pengguna aktif di seluruh dunia.

Komik digital lain pun bemunculan baik yang legal maupun situs-situs komik bajakan. Pergeseran minat baca dari kertas ke layar ini menurut situs Market.us masih terus mengalami pertumbuhan. Berdasarkan laporan mereka, pada 2025 komik fisik masih mendominasi penjualan global sebesar 55 persen. Namun tren penjualan semakin menurun.

Sementara penjualan komik digital setiap tahunnya tumbuh hingga 10,4 persen dengan peningkatan pasar terbesar di wilayah Asia Pasifik (hingga 71 persen dari pasar global). Kelebihan komik digital ini ada pada biaya produksi yang lebih murah, apalagi menurut Market.us, 44 persen kreator webkomik mengguna artificial intelligence untuk mempersonalisasi cerita, ditambah fitur-fitur baru seperti efek suara dan augmented reality kian menambah daya tarik komik digital.

Bertahan Demi Pelanggan

Rumah Komik di Solo

Sugeng Wiyono (60) Pemilik Victory Komik saat diwawancarai, Minggu (26/6/2026). Foto : Romensy Augustinian/tirto.id

Sugeng telah lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia persewaan komik. Ia mengawali usahanya dengan membantu sang kakak sebelum sempat merantau ke Jakarta. Sekembalinya ke Solo, ia membuka persewaan sendiri yang awalnya berada di kawasan Sekarpace sebelum berpindah ke lokasi saat ini.

Kini Victory Komik memiliki lebih dari 5.000 koleksi, mulai dari manga, komik klasik seperti Tapak Sakti dan Tiger Wong, hingga novel karya Tere Liye.

Namun mempertahankan usaha ini tidak lagi mudah. Harga buku fisik terus meningkat, sementara risiko kerusakan koleksi juga semakin besar. Keuntungan yang diperoleh dari penyewaan tidak lagi sebesar dulu.

Meski demikian, Sugeng belum berniat menutup usahanya. Keputusan itu lebih didorong oleh hubungan emosional dengan para pelanggan yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.

"Saya pernah bilang mau ganti usaha. Tapi pelanggan bilang, 'Ojo, eman-eman.' Ya sudah, saya pikirkan lagi. Walaupun sekarang tidak terlalu menguntungkan, mudah-mudahan masih bisa bertahan," ujar Sugeng.

Aroma Buku yang Tak Tergantikan

Semangat Sugeng mempertahankan Victory Komik mendapat dukungan dari pelanggan setianya, Hapsari. Perempuan berusia 42 tahun itu mengaku senang karena masih ada persewaan komik yang bertahan di Solo.

"Kalau buat pecinta komik, senang sekali. Ternyata masih ada tempat seperti ini di Solo," katanya saat dihubungi, Selasa (28/7/2026).

Alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut telah menjadi pelanggan sejak 2003. Baginya, membaca komik fisik menghadirkan pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh versi digital.

"Aku enggak suka baca online. Lebih senang yang fisik. Mungkin karena aroma bukunya. Lagian kalau digital mata cepat capek," tuturnya.

Meski harus menempuh perjalanan dari Mojosongo ke Jebres, Hapsari rutin menyewa beberapa komik sekaligus untuk dibaca selama sepekan. Selain mengikuti judul-judul baru seperti Blue Lock, ia juga kerap membaca ulang komik-komik lama demi mengenang masa kuliah.

"Dulu di belakang kampus UNS banyak tempat persewaan komik. Sekitar 2010-an satu per satu tutup. Victory ini yang masih bertahan dan menurutku koleksinya paling lengkap di Solo," ujarnya.

Ia juga menilai sistem penyewaan di Victory Komik nyaris tidak berubah sejak pertama kali menjadi pelanggan. Biaya sewa yang relatif terjangkau membuat tempat itu tetap menjadi pilihan bagi pembaca yang ingin menikmati banyak judul tanpa harus membeli seluruh koleksinya.

Baca juga artikel terkait KOMIK atau tulisan lainnya dari Romensy Augustino

tirto.id - News Plus
Reporter: Romensy Augustino
Penulis: Romensy Augustino
Editor: Rina Nurjanah