tirto.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menargetkan sebanyak 1.000 ton sampah plastik dapat diangkat dari aliran Sungai Premulung melalui program kolaboratif #SungaiLestari bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia. Metode trash boom (penghalang terapung) digunakan untuk memenuhi target tersebut.
Di sisi lain, Pemkot Solo masih harus membatasi pembuangan sampah ke TPA Putri Cempo imbas sanksi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang jatuh pada 30 Maret 2026.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho Adi, menegaskan sistem yang digunakan kali ini berbeda dengan metode pembuangan konvensional. Sampah yang berhasil dijaring melalui program ini dipastikan tidak akan dikirim ke TPA Putri Cempo. Melalui skema yang dirancang UNDP bersama mitra lokal, seluruh sampah yang diangkat dari Kali Premulung akan langsung diolah di tempat.
"Sampah dari sungai ini akan langsung diolah oleh teman-teman UNDP," kata Herwin, saat diwawancarai di Kecamatan Laweyan, Solo, Jumat (10/7/2026).
Langkah tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak persentase pengurangan sampah di Kota Solo hingga 5 persen. Herwin menyebutkan pascasanksi dari KLH, volume sampah yang dikirim ke TPA Putri Cempo sudah turun sebanyak 14 persen.

"Melalui pilot project di dua titik ini, harapannya bisa menambah angka pengurangan sampah kota hingga 5 persen lagi," tambahnya.
Selain bertujuan membersihkan sungai, program ini menitikberatkan pada edukasi dan perubahan perilaku masyarakat sekitar agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Berbekal data dari alat trash boom, tim gabungan akan menyusun program sosialisasi yang lebih terukur dan terstruktur bagi warga.
Alih-alih menerapkan sanksi hukum yang kaku, pihak penyelenggara lebih memilih pendekatan berbasis komunitas. Pengawasan kebersihan sungai nantinya akan diserahkan langsung kepada warga setempat. Pendekatan sosial ini dinilai jauh lebih efektif untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam jangka panjang.
Proses pemilahan dan pengolahan sampah di lapangan nantinya akan mengandalkan peran aktif relawan, penggiat lingkungan, serta warga sekitar.
"Pola ini sejalan dengan kebijakan Pemkot Surakarta yang gencar mendorong pengelolaan sampah berbasis hulu serta penguatan ekonomi sirkular masyarakat," kata Herwin.
National Project Manager UNDP sekaligus Koordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, Ahmad Bahri Ramli, mengatakan Program Sungai Lestari resmi diluncurkan di lima kota di Indonesia.
Inisiasi yang digagas oleh UNDP dan Clean River ini ditargetkan berjalan hingga tahun 2027 dengan fokus utama pengelolaan sampah yang komprehensif agar tidak bermuara ke laut.
Lima daerah yang dipilih sebagai proyek percontohan (pilot project) dalam program ini adalah Surabaya, Surakarta, Sidoarjo, Bali, dan Bekasi. Pemilihan kelima lokasi ini diharapkan dapat menjadi pemantik sekaligus contoh nyata bagi 514 kota dan kabupaten lainnya di Indonesia dalam menerapkan tata kelola sampah yang lebih baik.
"Program ini mengedepankan pendekatan yang komprehensif, mulai dari pemilahan di hulu hingga penekanan seminimal mungkin sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Kami akan mengelola sampah di sungai, dipilah, dan diupayakan seminimal mungkin dibuang ke TPA," urai Ramli.
Ia menambahkan Program Sungai Lestari menerapkan pendekatan berbasis kinerja (performance-based). Dalam implementasinya di lapangan, UNDP bermitra dengan organisasi masyarakat sipil (CSO) seperti PLR dan Bintari. Kinerja para mitra ini akan dievaluasi secara berkala, dan insentif atau reward akan diberikan jika target pengelolaan sampah terpenuhi dengan baik.
"Tak berjalan sendiri, pelaksanaan program ini juga mengintegrasikan kerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat, komunitas peduli sungai, bank sampah, serta jajaran pemerintah daerah terkait," ujarnya.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu membangun kelembagaan yang kuat dan berkelanjutan demi mewujudkan sungai Indonesia yang bersih dan indah. Pada 2027 mendatang, lima kota pilot project ini ditargetkan mampu menunjukkan perubahan signifikan dengan kondisi sungai yang jauh lebih bersih dan bebas sampah.
Penulis: Romensy Augustino
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id




























