Menuju konten utama

GIIAS 2026 dan Perang Merek Mobil Baru di Indonesia

Keunggulan merek baru terletak pada harga yang agresif, fitur yang lebih lengkap, hingga pilihan kendaraan yang beragam.

GIIAS 2026 dan Perang Merek Mobil Baru di Indonesia
Country Director iCAR Indonesia, Marshall Ma memperkenalkan iCAR V27 kendaraan listrik SUV bergaya boxy di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7/2026). tirto.id/Qonita Azzahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 bukan lagi sekadar pemeran otomotif, tapi telah bertransformasi menjadi arena tanding (battle field) bagi merek-merek baru yang ingin merebut pasar Indonesia. Tepat pukul 09.35 WIB, kendaraan niaga listrik asal Cina, Farizon membuka hari pertama GIIAS 2026 dengan memperkenalkan empat model kendaraan niaga terbarunya: Farizon SV Medium Roof, Farizon V8E Cargo Van, Farizon Van, dan Farizon F3E Super Cargo.

Model-model anyar yang ditampilkan pada Press Day, Rabu (29/7/2026) itu, merupakan jenis micro bus SV, blind van V8E dan pikap listrik berbasis V8E.

“Peluncuran Farizon SV Medium Roof serta Farizon V8E Cargo Van, termasuk kemunculan perdana Farizon V8E Van secara global dan Farizon F3E Super Cargo untuk small truck listrik angkutan barang yang telah disesuaikan khusus untuk pasar Indonesia, adalah wujud nyata keseriusan kami dalam menjawab kebutuhan para pelaku usaha di Tanah Air,” kata Direktur PT Arista Auto Elektrindo, Christoforus Ronny, dalam konferensi pers di ICE BSD, Tangerang Selatan, Tangerang, Banten.

Selain meluncurkan model baru, usai kemunculannya di Indonesia dengan Farizon SV di Januari 2026, Farizon juga tengah berupaya meningkatkan persentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari kendaraan-kendaraan komersial yang mereka produksi. Memulai perakitan di fasilitas PT Handal Indonesia Motor menjadi upaya perusahaan untuk mengejar syarat TKDN dari Kementerian Perindustrian.

V8E Cargo Van menjadi model pertama yang dirakit di dalam negeri mulai Juli 2026. Untuk model lainnya, kata Ronny, masih diupayakan secara bertahap.

“Di bulan Juli 2026, kami sudah melakukan perakitan lokal di Handal. Kami mulai dengan tipe V8E ini dulu, V8E Cargo Van. Super Van belum, Super Van masih CBU (completely built-up/diimpor langsung) dari Cina,” ujar dia.

Meski tergolong baru, respon pasar terhadap kendaraan niaga listrik Farizon cukup positif. Hal itu terlihat dari mulai banyaknya unit Farizon yang mengaspal di jalanan, tidak hanya di Jakarta tapi juga di berbagai daerah lainnya.

“Enggak (hanya di Jakarta), ternyata di luar derah banyak sekali. Jadi, di beberapa … di Sumatera, bahkan di Sulawesi, itu sudah menggunakan SV ini. Kalau merek lain, kami belum tahu karena kami baru launching hari ini. Kami akan lihat beberapa bulan ke depan,” jelas Ronny.

Newsplus GIIAS 2026 dan Perang Merek Mobil Baru

Peluncuran Farizon SV Medium Roof serta Farizon V8E Cargo Van oleh Direktur PT Arista Auto Elektrindo, Christoforus Ronny dalam konferensi pers, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7/2026). tirto.id/Qonita Azzahra

Dari sisi penjualan, sejak April 2026, ketika perusahaan mulai men-deliver-kan unit-unit yang telah dipesan oleh kebanyakan pengusaha, juga cukup memuaskan. Ronny enggan mendetailkan angka penjualan Farizon SV, namun katanya, super van Farizon yang pertama kali dirilis di Indonesia sudah dikirmkan kepada konsumen hingga ratusan unit.

“Sebenarnya, pada waktu launching kan kami tidak langsung delivery. Jadi, kami sebenarnya baru benar-benar start delivery itu di bulan Aprillah. Jadi, memang masih barulah, waktu launching, kami launching brand waktu itu. Sampai sekarang, ada ratusan lebih kayaknya (sudah ter-delivery),” tuturnya.

Meski menganggap pasar Indonesia cukup menjanjikan, Ronny mengaku belum berani mematok target penjualan terlalu tinggi. Maklum, di segmen kendaraan niaga, Farizon adalah mobil yang baru saja lahir di Tanah Air.

“Targetnya sepanjang tahun ini kami harapkan moga-moga bisa menyentuh lebih dari 500 unit. (Enggak 1.000 unit) ya, enggak enaklah. Nanti saya diomelin sama brand-brand (kendaraan niaga) lain. Jadi, mohon maaflah, kami jangan terlalu besarlah. Kami masih baru. Jadi, ya kami berjalan perlahan-lahan, tapi pasti,” ucap Ronny.

Kendaraan Listrik Berbaterai

Selain Farizon, iCAR menjadi jenama kendaraan listrik yang juga baru menetas di GIIAS 2026. Jika Farizon memantapkan diri di kendaraan niaga listrik, sub-brand Cherry Group tersebut masuk ke Indonesia pada Februari lalu dengan membawa kendaraan listrik bergaya hidup futuristik dan off-road melalui iCAR V23.

Jelang sore hari, Country Director iCAR Indonesia, Marshall Ma, memperkenalkan iCAR V27 di GIIAS 2026. Kemunculan sport utility vehicle (SUV) bergaya boxy tersebut menandai debut teknologi range extended electric vehicle (REEV) dari pabrikan asal Cina itu.

“Setelah memperkenalkan iCAR V23 sebagai battery electric vehicle (BEV), hari ini kami melangkah lebih jauh dengan menghadirkan iCAR V27 yang dibekali dengan teknologi Golden REEV,” kata Ma dalam konferensi pers sembari menjelaskan bahwa teknologi Golden REEV merupakan teknologi yang mengawinkan karakter berkendara mobil listrik dengan mesin bensin sebagai generator pengisi daya baterai.

Meskipun infrastruktur pengisian daya baterai kendaraan listrik belum merata di Tanah Air, konsumen tidak perlu khawatir karena total daya jelajah iCAR V27 dapat mencapai lebih dari 1.200 kilometer.

Marshall mengklaim, performa iCAR V27 memang sudah moncer. Namun, untuk memperluas pasar di Indonesia, perusahaan berkomitmen untuk terus menghadirkan teknologi baru pada unit-unit mobil yang bakal dirilis di masa depan.

“Kami melihat potensi yang sangat besar untuk pertumbuhan kendaraan yang menggunakan energi baru terbarukan di Indonesia. Karenanya, kami akan terus menghadirkan produk-produk inovatif yang menawarkan pengalaman berkendara yang lebih menyenangkan, fleksibel dan percaya diri bagi konsumen Indonesia,” tegas dia.

Masih dari segmen SUV dan di bawah bendera Cherry Group, Lepas—merek otomotif asal Cina—memulai debutnya di GIIAS 2026 melalui model Lepas E4. Meski belum secara resmi membuka pemesanan dalam skala penuh, sejumlah konsumen disebut telah menunjukkan minat untuk membeli kendaraan tersebut bahkan sebelum harga diumumkan.

Vice President Lepas Indonesia, Temmy Wiradjaja, mengatakan antusiasme konsumen mulai terlihat setelah mereka melihat dan mencoba langsung kendaraan yang dipamerkan.

Newsplus GIIAS 2026 dan Perang Merek Mobil Baru

Vice President Lepas Indonesia, Temmy Wiradjaja saat memperkenalkan Lepas E4 di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7/2026). tirto.id/Qonita Azzahra

"Saya enggak menyebut angka pemesanannya, memang ini juga mungkin kalau saya bilang belum terlalu banyak. Karena, memang kami belum specifically belum membuka order, ya. Tapi, beberapa konsumen yang begitu lihat mobil dan tertarik, langsung mencoba mobil dan tertarik langsung untuk memesan, meskipun belum tahu harga. Memang belum terlalu banyak ya, tapi lumayan," ujarn Temmy usai jadwal konferensi pers Lepas Indonesia.

Apalagi, Lepas menawarkan harga khusus GIIAS untuk E4 sebesar Rp339 juta selama pameran berlangsung. Setelah pameran berakhir, harga kendaraan tersebut akan kembali ke harga normal sebesar Rp349 juta. Adapun, pengiriman unit pertama kepada konsumen dijadwalkan mulai September 2026.

Selain harga yang relatif terjangkau, Temmy mengatakan Lepas mengandalkan kombinasi desain, teknologi, serta fitur keselamatan untuk menarik minat konsumen. Dia menjelaskan, Lepas E4 menggunakan Lex Platform yang diklaim mampu menghadirkan efisiensi energi yang lebih baik, stabilitas berkendara, serta ruang kabin yang lebih luas dibandingkan kendaraan di kelasnya.

Kemudian, kendaraan yang masuk dalam kategori SUV segmen B tersebut menawarkan ruang kaki yang lapang dan memiliki hingga 36 ruang penyimpanan di dalam kabin. Selain itu, kendaraan juga dilengkapi bagasi depan (frunk) dan bagasi belakang untuk menunjang kebutuhan mobilitas pengguna.

Dari sisi keselamatan, Lepas E4 dibekali 18 fitur advanced driver assistance system (ADAS).

"Jadi, memang ini mobil sudah dilengkapi dengan ADAS yang 18 tadi. Jadi, makanya diposisikan mobil tersebut dengan kondisi seperti ini di harga Rp349 juta atau Rp339 juta,” ungkapnya.

Temmy juga memastikan Lepas E4 telah diproduksi secara lokal di Indonesia, yakni dengan menggandeng Handal. Meski belum merinci tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang dikandung kendaraan tersebut, dia mengkalaim bahwa SUV tersebut telah memenuhi persyaratan yang berlaku untuk memperoleh berbagai insentif kendaraan listrik.

"Saya enggak ingat, di kepala saya (berapa persentase TKDN yang berhasil dicapai). Seharusnya sudah keluar TKDN. Kalau tidak, kami tidak mungkin bisa dapat harga seperti sekarang ini," ujar Temmy.

Dengan performa kendaraan saat ini, Temmy optimistis Lepas dapat memperluas penetrasi pasar kendaraan listrik premium di Indonesia. Meski begitu, dia mengakui model dengan harga yang lebih terjangkau seperti E4 berpotensi menjadi penyumbang volume penjualan terbesar perusahaan.

"Secara piramida harga, tentu kendaraan yang lebih terjangkau memiliki potensi volume yang lebih besar. Namun, tetap ditentukan oleh kualitas produk, layanan purnajual, dan pengalaman konsumen selama memiliki kendaraan tersebut," ujarnya.

Teknologi PHEV sebagai Solusi

Dibandingkan tiga merek sebelumnya, Jetour memang bukan merupakan jenama yang baru lahir. Sebab, merek otomotif asal Cina itu sudah mulai mengaspal di Indonesia sejak 2024 silam.

Di tengah ketatnya persaingan merek kendaraan-kendaraan asal Negeri Tirai Bambu, Jetour memilih fokus menggarap segmen SUV berkarakter petualangan (adventure) dengan mengandalkan teknologi plug-inhybrid electric vehicle (PHEV) i-DM sebagai ujung tombak.

"Untuk dari segi brand, kami memang fokus untuk develop produk-produk SUV, di mana itu DNA-nya adalah adventure. Yang tadi aku bilang, konsumen kami adalah target audiensnya, target konsumennya adalah orang-orang yang memang suka eksplorasi lebih jauh," jelas Marketing Director PT JETOUR Sales Indonesia, Moch. Ranggy Radiansyah, di sela pameran GIIAS 2026.

Saat ini, Jetour telah memiliki empat model SUV yang dipasarkan di Indonesia, yakni Dashing, X50e, T2, termasuk T1 yang baru diluncurkan dalam varian mesin bensin maupun i-DM.

Menurut Ranggy, strategi Jetour untuk bersaing di pasar Indonesia bukan melalui perang harga atau menghadirkan banyak segmen kendaraan, melainkan fokus pada SUV dengan karakter yang khas. Di tengah tren elektrifikasi kendaraan, Jetour juga memilih teknologi PHEV sebagai solusi yang dinilai paling sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia saat ini.

Ranggy mengatakan masih banyak konsumen yang tertarik beralih ke kendaraan elektrifikasi, tetapi memiliki kekhawatiran terhadap ketersediaan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik murni. Karena itu, Jetour menghadirkan teknologi i-DM yang mengombinasikan mesin bensin dengan motor listrik untuk menawarkan efisiensi bahan bakar sekaligus performa berkendara.

"Mereka minatnya ke elektrifikasi, tapi juga masih ada kekhawatiran tentang sumber pengisian daya di beberapa daerah tertentu, mungkin infrastrukturnya belum merata gitu. Jadi, kami hadir dengan PHEV supaya menjawab kebutuhan konsumen," katanya.

Teknologi i-DM yang dikembangkan Jetour tidak hanya mengutamakan efisiensi, tetapi juga tetap mempertahankan karakter SUV petualangan yang menjadi identitas merek tersebut, yakni performa.

Newsplus GIIAS 2026 dan Perang Merek Mobil Baru

Country Director iCAR Indonesia, Marshall Ma memperkenalkan iCAR V27 kendaraan listrik SUV bergaya boxy di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7/2026). tirto.id/Qonita Azzahra

"Kami hadir dengan kombinasi antara performa dan efisiensi di mana secara package dari produk, secara performa dari engine, dari motor listriknya itu mengombinasi supaya optimal antara performa dan efisiensi di mana efisiensi udah pasti, i-DM... PHEV sudah pasti efisien dan kita hadir dengan karakter adventure,” jelas Ranggy.

Sementara itu, optimisme Jetour terhadap pasar kendaraan hybrid di Indonesia tercermin dari tingginya kontribusi pemesanan T1 i-DM. Sejak diluncurkan pada bulan lalu, Jetour T1 telah mencatatkan sekitar 800 surat pemesanan kendaraan (SPK), dengan sekitar 60 persen berasal dari varian i-DM. Pun, Jetour T2 yang mulai dipasarkan sejak awal 2026 juga mencatatkan penerimaan pasar yang positif, dengan jumlah pemesanan telah melampaui 1.000 unit.

Jetour bahkan mengklaim T2 menjadi model kendaraan asal Cina bermesin pembakaran internal (ICE) dengan penjualan tertinggi di kategorinya di Indonesia.

"Alhamdulillah penerimaannya sangat baik. Untuk T2 sekarang sudah lebih dari 1.000 unit," katanya.

Geliat Industri Otomotif

Sebelumnya, Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, mengatakan setidaknya ada 10 merek baru yang debut di GIIAS 2026. Tidak hanya menunjukkan betapa besarnya ajang pameran ini, munculnya merek-merek baru juga dinilai menjadi cerminan kian meningkatnya kepercayaan para pelaku industri terhadap potensi industri otomotif nasional.

Kondisi itu didorong pula dengan kinerja industri otomotif yang terus bergeliat. Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan domestik kendaraan pada periode Januari-Juni 2026 mencapai 436.564 unit atau tumbuh 15,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 376.344 unit.

Di sisi lain, ekspor mobil Indonesia hingga Juni 2026 mencapai 251.705 unit atau meningkat 7,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 233.648 unit.

Sektor komponen otomotif juga mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 112,9 persen secara tahunan dengan total pengiriman mencapai 25.718.510 pieces ke berbagai negara tujuan ekspor. Sementara itu, pertumbuhan industri kendaraan roda empat pada kuartal I-2026 tercatat mencapai sekitar 14 persen secara tahunan.

"Pameran GIIAS 2026 kali ini diikuti merek yang lebih banyak, lebih lengkap, tidak hanya menunjukkan besarnya pameran internasional ini, namun juga menjadi indikator kepercayaan bagi para pelaku industri terhadap potensi industri otomotif nasional," ujar Putu dalam keterangannya, dikutip Rabu (29/7/2026).

Di sisi lain, semakin banyaknya merek kendaraan bermotor yang bergabung di GIIAS turut membuat informasi dan perkembangan industri yang ditampilkan menjadi semakin lengkap.

Meski begitu, banyaknya jenama yang masuk ke Indonesia tidak lantas membuat Indonesia menjadi pasar yang besar saja, melainkan juga basis strategis untuk pengembangan industri kendaraan masa depan.

"Semakin banyak merek kendaraan bermotor yang bergabung di GIIAS membuat informasi perkembangan industri yang disajikan jadi jauh lebih lengkap. Kami yakin penyelenggaraan GIIAS dapat semakin mendorong industri otomotif di Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian itu.

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai masuknya sejumlah merek baru menjadi salah satu penanda bahwa Indonesia kini menjadi salah satu pasar otomotif yang paling diperebutkan di kawasan Asia Tenggara. Dia mencatat setidaknya ada enam jenama mobil penumpang yang tampil perdana di GIIAS 2026, yakni BAW, Changan, iCar, Leapmotor, Solarky, dan Zeekr.

"Indonesia sedang menjadi salah satu pasar perebutan utama produsen otomotif global, khususnya produsen Tiongkok yang membawa mobil listrik, teknologi baru, dan siklus peluncuran produk yang sangat cepat," katanya kepada Tirto, Rabu (29/7/2026).

Namun, banyaknya merek baru tidak serta-merta mencerminkan kuatnya pasar otomotif nasional. Menurutnya, terdapat ketimpangan antara peningkatan penawaran kendaraan yang sangat cepat dengan kemampuan permintaan domestik yang masih terbatas.

Pelemahan rupiah disebut meningkatkan biaya komponen kendaraan, sementara tingginya suku bunga membuat cicilan kendaraan menjadi lebih mahal sehingga konsumen cenderung menunda pembelian. Di sisi lain, makin banyaknya merek baru yang masuk membuat persaingan tidak lagi hanya untuk menarik pembeli baru, melainkan merebut konsumen dari merek yang sudah ada maupun sesama pendatang baru.

"Persaingan tahun ini bukan hanya merebut pembeli baru, tetapi juga memindahkan pembeli dari merek lama atau dari sesama pendatang baru," ujarnya.

Data penjualan wholesales Januari-Juni 2026 menunjukkan dominasi merek Jepang masih cukup kuat. Toyota memimpin dengan pangsa pasar 30,7 persen, diikuti Daihatsu 16,8 persen, Suzuki 8,3 persen, dan Mitsubishi Motors 7,5 persen.

Namun, merek-merek asal Cina mulai menunjukkan taringnya. BYD telah menguasai 5,3 persen pangsa pasar nasional, disusul Jaecoo sebesar 4 persen, Geely dan Wuling masing-masing 1,9 persen, serta Chery sebesar 1,4 persen.

Josua menilai keunggulan merek-merek baru terletak pada strategi harga yang agresif, fitur yang lebih lengkap, desain yang cepat diperbarui, serta pilihan kendaraan listrik yang semakin beragam. Sebaliknya, merek Jepang masih unggul dari sisi ketahanan produk, jaringan bengkel, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, dan nilai jual kembali kendaraan.

"Persaingan sesungguhnya bukan sekadar teknologi baru melawan teknologi lama, melainkan harga dan fitur melawan kepercayaan jangka panjang," tutur Josua.

Paradoks yang Mesti Diperhatikan

Sepakat, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus, juga menganggap bahwa produsen otomotif Cina hadir dengan strategi yang sangat agresif melalui kendaraan listrik dan hybrid yang menawarkan teknologi terbaru dengan harga kompetitif.

"Merek-merek pendatang baru ini menawarkan lompatan teknologi elektrifikasi, desain futuristis, dan fitur pintar melalui strategi harga yang sangat value for money untuk menarik konsumen kelas menengah Indonesia," kata Yannes.

Hanya saja, kondisi tersebut menghadirkan paradoks bagi industri otomotif nasional. Indonesia memang masih memiliki potensi besar karena rasio kepemilikan mobil yang relatif rendah dan jumlah penduduk yang besar. Apalagi, penjualan otomotif di dalam negeri masih berada di bawah satu juta unit per tahun berisiko membuat industri menjadi terlalu padat.

Khawatirnya, kondisi tersebut dapat memicu kanibalisasi pasar, di mana para pendatang baru akan bersaing ketat merebut konsumen dari merek-merek yang telah lebih dahulu eksis.

"Masuknya puluhan brand baru ke dalam pasar yang volume penjualan nasionalnya sedang stagnan justru menciptakan kondisi pasar yang terlampau padat," imbuh dia.

Sementara itu, menurut Yannes, Indonesia menjadi target utama ekspansi produsen otomotif Cina karena kombinasi faktor geopolitik dan geoekonomi. Dalam hal ini, produsen Cina saat ini sedang menghadapi surplus kapasitas produksi di dalam negeri serta berbagai hambatan tarif di pasar Eropa dan Amerika Serikat sehingga mulai mengalihkan fokus ke kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, Indonesia dinilai memiliki pasar potensial untuk kendaraan di segmen harga Rp150 juta hingga Rp450 juta, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah perkotaan di Pulau Jawa untuk kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV).

Meski begitu, keberhasilan merek baru di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh harga dan teknologi kendaraan. Kemampuan membangun jaringan penjualan, layanan, dan suku cadang atau 3S menjadi faktor yang sangat penting.

Dia pun memprediksi akan terjadi "seleksi alam" di industri otomotif Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Hanya merek yang mampu menjaga kualitas produk, menawarkan harga kompetitif, serta membangun layanan purnajual yang kuat yang akan mampu bertahan.

"Tantangan terbesar setiap brand baru selain penjualan adalah membangun kepercayaan konsumen dan infrastruktur layanan yang merata di seluruh Indonesia. Risiko seleksi alam sangat nyata dalam beberapa tahun ke depan," kata Yannes.

Dalam lima tahun ke depan, Yannes meramalkan pasar kendaraan berbahan bakar konvensional masih akan didominasi pabrikan Jepang. Namun, segmen kendaraan hybrid diprediksi akan menjadi arena persaingan ketat antara merek Jepang dan Cina, sedangkan kendaraan listrik murni berpotensi semakin dikuasai produsen Cina.

"Kompetisi akan semakin membuat konsumen diuntungkan dengan mendapatkan best product at the best price and best experience," tutup Yannes.

Baca juga artikel terkait GIIAS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi