tirto.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung masih mencari sejumlah lokasi pengolahan untuk menyelesaikan masalah sampah di kota tersebut. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Dadang Setiawan, menyebut pihaknya sudah memetakan puluhan titik.
“Baru di kisaran 40-an. Masih dilakukan inventarisasi karena lahan kita susah,” ungkap Dadang kepada kontributor Tirto saat bertemu di Graha Persib, Kota Bandung, Selasa (7/7/2026).
Dadang mengatakan alasan pencarian titik lokasi pengolahan sampah menjadi kendala lantaran minimnya ketersediaan lahan di Kota Bandung. Bahkan menurutnya, saat ini terdapat sejumlah kecamatan dan kelurahan belum mempunyai tempat untuk mengolah sampah.
“Ada daerah-daerah yang padat, pemukiman padat, ini juga kesulitan. Tapi, makanya tadi prinsipnya adalah optimalisasi pengolahan di hulu dengan metode apa pun,” kata Dadang.
Sebagai informasi, Pemkot Bandung tengah mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampahnya melalui pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah berbasis kewilayahan. Langkah ini menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
“Kami selalu mengoptimalisasi bagaimana sampah ini bisa direduksi sedemikian rupa dengan mengupayakan pengolahan di hulu. Masing-masing RW itu didorong untuk melakukan pengolahan secara maksimal,” lanjutnya.
Berdasarkan data DLH Kota Bandung, timbulan sampah harian masih mencapai 1.511 ton per hari. Dadang mengakui bahwa pemkot belum mampu mengolah separuh dari angka tersebut.
“Yang dikirim ke TPA itu 981 ton sehari. Kemampuan olah kita baru di kisaran 250 sampai 300 ton. Maka masih ada sisa sampah yang belum bisa diolah dan tidak bisa dikirim,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi itu diperparah lantaran Bandung sebagai kota komuter dan kota pariwisata. Timbulan sampah berdasarkan dampak populasi sekira 1.500-an ton per hari, kian bertambah ketika mendekati masa liburan.
“Itu belum memperhitungkan bagaimana wisatawan. Kunjungan wisatawan Kota Bandung kan tinggi. Bagaimana sampah MBG, bagaimana sampah, anak kos-kosan, dan sebagainya,” jelas Dadang.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































