tirto.id - Setelah memutuskan gantung sepatu di usia 31 tahun, Raphael Varane memutuskan menetap di klub terakhir yang dibelanya, Como. Tapi kali ini bukan sebagai pemain, melainkan Kepala Dewan Pendidikan. Jabatan tersebut membuatnya bertanggung jawab atas pengembangan pemain-pemain usia dini.
Baru-baru ini, Varane memperkenalkan kebijakan yang bisa dibilang revolusioner di Italia. Pemain-pemain usia dini di akademi Como dilarang keras menyundul bola.
Sepintas, larangan itu tampak aneh. Sepak bola, tapi tidak boleh menyundul bola? Bukankah sundulan sudah jadi bagian dari olahraga ini sejak dahulu kala? Lagi pula, bukankah kemampuan duel udara jadi salah satu kekhasan Varane saat masih aktif bermain?
Ya, semua itu benar. Sundulan memang sudah jadi bagian dari sepak bola sejak olahraga ini mulai melarang penggunaan tangan. Dan, ya, salah satu aspek "ketangguhan" yang dipertontonkan Varane selama aktif bermain adalah kehebatannya dalam duel udara. Akan tetapi, larangan yang diberlakukan di Como itu sama sekali tidak aneh. Sebab, Varane tahu dari pengalamannya sendiri bahwa menyundul bola sangat berisiko.
Dalam sebuah wawancara dengan L'Equipe yang diterbitkan ulang oleh The Athletic, Varane menceritakan pengalamannya menjalani pertandingan melawan Nigeria di Piala Dunia 2014 "dalam mode autopilot" setelah bola mengenai pelipisnya.
"Jika ada yang mengajak saya bicara waktu itu, saya tidak yakin akan bisa memberikan respons. Setelah insiden itu, saya tidak ingat apa yang terjadi dalam pertandingan tersebut," tuturnya.
Enam tahun kemudian, dalam pertandingan La Liga menghadapi Getafe, Varane mengalami hal serupa. Bola mengenai kepalanya dan dia harus digantikan oleh pemain lain. Dia merasakan kelelahan luar biasa, sampai-sampai pada pertandingan berikutnya, menghadapi Manchester City di Liga Champions, dia "merasa seperti seorang penonton" meskipun jelas-jelas sedang bermain. Dia akhirnya membuat kesalahan yang berujung pada kekalahan Real Madrid.
Baru belakangan, ketika bergabung dengan Manchester United, Varane sadar bahwa dirinya mengalami gegar otak mikro. Ia juga baru mengetahui bahwa saat latihan tim, para pemain dilarang melakukan sundulan lebih dari sepuluh kali selama sesi.
Cedera Otak yang Mengintai Pesepak Bola
Manchester United dulu pernah memiliki seorang pelatih junior yang melahirkan pemain-pemain hebat, seperti David Beckham, Paul Scholes, dan Ryan Giggs. Namanya Eric Harrison.
Sebelum menjadi pelatih, Harrison adalah pesepak bola dengan gaya bermain keras sehingga dijuluki "Chopper". Salah satu "trik" favoritnya ialah menyundul kepala lawan untuk membuat mereka jiper.
Sejak 2014, Harrison didiagosis mengidap demensia (tepatnya mixed dementia). Ketika penyakitnya makin parah pada 2017, ia bahkan tak bisa mengenali para mantan anak asuh yang rutin menjenguknya, termasuk Beckham.
Penyakit tersebut ditengarai disebabkan oleh seringnya kepala Harrison mengalami benturan saat bermain dulu.
Namun, pesepak bola yang mengidap penyakit itu bukan hanya Harrison. Pada 2017, tim peneliti dari Queen Square Brain Bank di University College London menerbitkan hasil studi yang mengikuti 14 mantan pesepak-bola-dengan-demensia sepanjang rentang 1980 hingga 2010. Enam orang di antaranya menjalani pemeriksaan otak usai meninggal dunia. Dari jumlah itu, ada empat yang terbukti mengidap chronic traumatic encephalopathy alias CTE, kondisi degeneratif otak yang sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan para petinju.
Mereka tidak cuma mengidap CTE, melainkan juga kombinasi penyakit otak lain, seperti Alzheimer dan penumpukan protein TDP-43, yang diperkirakan menyumbang gejala demensia secara bersamaan. Rata-rata, gejala mulai muncul di usia 63,6 tahun, sedangkan penyakitnya berlangsung satu dekade sebelum merenggut nyawa mereka.
Ricardo Nitrini, peneliti asal Brasil, punya cerita sendiri soal demensia. Lewat tulisan ilmiahnya terbitan 2017, dia menceritakan kecurigaannya terhadap Bellini, kapten legendaris yang membawa Brasil juara Piala Dunia pertama kali pada 1958, bahwa sebenarnya sang pemain mengidap CTE dan bukan Alzheimer seperti diyakini keluarganya.
Nitrini sempat menghubungi istri Bellini untuk menjelaskan hipotesisnya. Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga, dia pun melakukan pemeriksaan otak setelah sang legenda berpulang. Hasilnya membenarkan dugaan dia soal CTE, yang kemudian dikonfirmasi ulang oleh Ann McKee, neuropatolog asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai salah satu otoritas terkemuka soal CTE.
Studi dengan cakupan lebih luas turut memperkuat kekhawatiran soal itu. Pada 2023, setelah membandingkan lebih dari 6.000 pesepak bola amatir dan profesional dengan kelompok kontrol dari populasi umum, tim dari Karolinska Institute di Swedia menemukan, sebanyak 8,3 persen pemain non-kiper terdiagnosis Alzheimer atau demensia jenis lain, sedangkan angka dari populasi umum hanya 5,1 persen. Adapun, untuk kiper, persentase pengidap demensia ada di angka 6,9 persen.
Riset itu merupakan kelanjutan dari FIELD Study rilisan Universitas Glasgow pada 2019, yang menemukan bahwa mantan pesepak bola profesional berisiko 3,5 kali lebih besar mengidap penyakit neurodegeneratif dibanding populasi umum. Angka itu terus jadi rujukan berulang dalam berbagai riset lanjutan, termasuk dalam kasus kematian Gordon McQueen, mantan bek Manchester United, Leeds United, dan timnas Skotlandia, yang meninggal pada 2023 di usia 70 tahun.
Awal 2026, penyelidikan resmi atas kematian McQueen menyimpulkan bahwa kebiasaannya menyundul bola sepanjang karier "kemungkinan besar" berkontribusi pada CTE yang dideritanya.
Kasus McQueen menambah daftar mantan pesepak bola yang kematiannya berkaitan dengan sepak bola, menyusul Jeff Astle, Keith Pontin, Alan Jarvis, dan Goff White. Bahkan, lima dari sebelas starter Inggris di final Piala Dunia 1966 juga didiagnosis demensia, termasuk gelandang Nobby Stiles--sepanjang kariernya dia diperkirakan menyundul bola sebanyak 136 ribu kali.
Apa yang Salah dari Menyundul Bola?
Dampak dari menyundul bola tidak selalu dirasakan ketika seorang pemain sudah tua. Riset Imperial College London menemukan, dari 124 mantan pesepak bola profesional berusia 30 sampai 60 tahun, 31 persen di antaranya menunjukkan skor yang mengindikasikan depresi signifikan secara klinis, atau 22 persen lebih tinggi dibanding kelompok kontrol orang dewasa sehat.
Untuk gangguan kecemasan, 42 persen mantan pesepak bola tercatat mencapai ambang batas klinis, dibanding 25 persen pada kelompok pembanding. Pemindaian otaknya pun menunjukkan volume grey matter lebih rendah di area-area yang berperan penting untuk daya ingat, konsentrasi, dan pengambilan keputusan.
Celakanya, kendati riset soal cedera otak sudah makin maju, tren di lapangan justru kontraproduktif. The Athleticmelaporkan pada Februari 2026, di Premier League, jumlah sapuan bola dengan sundulan naik 50 persen dalam dua musim terakhir. Di League Two (divisi empat), kenaikannya bahkan mencapai 100 persen, seiring maraknya pemanfaatan eksekusi bola mati.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada kepala ketika menyundul bola?
April 2026 lalu, tim Loughborough University merilis studi yang mengukur--untuk pertama kalinya--fenomena "gelombang tekanan", yang menjalar ke otak setiap kali kepala membentur bola. Andy Harland, profesor pemimpin risetnya, menyebut gelombang tekanan itu sebagai bentuk transfer energi yang sudah lama diketahui sebagai penyebab cedera otak dalam konteks lain, misalnya ledakan berkekuatan rendah di kalangan militer.
Riset laboratorium yang lebih detail dari tim itu menemukan, 90 persen energi benturan ditransfer ke kepala hanya dalam 500 mikrodetik, jauh lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan kepala untuk benar-benar bergerak menyesuaikan posisi pasca-benturan.
Bola kulit zaman dulu, seperti yang dipakai di era McQueen, menghasilkan tekanan hingga 4,2 kali lebih besar ketika basah. Meski begitu, bola modern tidak serta merta lebih aman. Sebab, laju bola modern justru lebih cepat sehingga energi benturannya sama besarnya.
Namun, Harland mengakui timnya "bukan ahli neurosains" sehingga belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat antara gelombang tekanan itu dan penyakit neurodegeneratif di kemudian hari.
Larangan Menyundul Bola demi Terhindar dari Cedera
Untungnya, ketidakpastian ilmiah semacam itu tidak membuat sepak bola berdiam diri. AS termasuk yang paling awal bergerak. Pada 2015, US Soccer mengumumkan larangan menyundul sama sekali bagi pemain usia 10 tahun ke bawah, sekaligus membatasi sundulan latihan bagi pemain usia 11-13 tahun. Itu merupakan penyelesaian gugatan dari orang tua dan pemain terhadap FIFA dan US Soccer setahun sebelumnya.
Inggris menyusul kemudian. FA memberi panduan soal sundulan pada 2020, sebelum mengadopsi uji coba IFAB pada 2022 untuk menghapus sundulan yang disengaja dalam pertandingan akar rumput hingga usia 12 tahun ke bawah. Aturan itu diperluas bertahap, dimulai usia 7-9 tahun pada musim 2024-25, lalu usia 10 tahun musim berikutnya, dan usia 11 tahun pada 2026-27. Untuk pemain profesional dewasa, FA merekomendasikan batas maksimal 10 sundulan berdampak tinggi per minggu latihan, seperti yang ditemui Varane di Manchester United.

Kebijakan yang diperkenalkan Varane dan klubnya bukan barang baru jika dilihat dari konteks global, tetapi tetap istimewa karena jadi yang pertama di Italia. Aturannya disusun bertahap berdasarkan usia.
Untuk kelompok di bawah 10 tahun, sundulan dilarang sama sekali, baik latihan maupun pertandingan. Aturan serupa berlaku untuk usia 11 tahun sebagai patokan umum, meski teknik menyundul mulai bisa diperkenalkan menjelang akhir musim memakai bola karet ringan. Barulah di usia 12 tahun, teknik menyundul mulai diajarkan rutin, tetapi dibatasi hanya sekali sebulan dengan maksimal lima sundulan per sesi, masih dengan bola ringan.
Untuk usia 13 tahun, sundulan dalam latihan dibatasi maksimal sekali seminggu dengan lima sundulan per sesi. Namun, sundulan masih dilarang dalam pertandingan resmi. Di semua kelompok usia, pelatih diminta mengurangi latihan sundulan yang berulang dan tidak perlu, sementara bola yang terlalu keras akibat dipompa berlebihan akan dihindari.
"Dengan menunda dan memperkenalkannya secara bertahap selama beberapa tahun, kami bisa melindungi para pemain," ujar Osian Roberts, Kepala Pengembangan Pemain dan Pelatih di Como.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































