STOP PRESS! Setya Novanto Dijebloskan ke Rutan KPK

Siklus Cedera Arsenal

Siklus Cedera Arsenal
Pemain Arsenal, Laurent Koscielny mengalami cedera saat melwan Hull City. FOTO/Getty Images
Reporter: Ahmad Khadafi
19 Maret, 2017 dibaca normal 4 menit
Arsenal sering kehilangan momen karena ditinggalkan pemain-pemain andalannya di ruang perawatannya
tirto.id - Di dunia ini ada berbagai jenis siklus. Dari siklus air, siklus kehidupan, sampai siklus cedera pemain Arsenal. Bahkan siklus yang terakhir ini sudah jadi semacam tanda-tanda alam karena terjadi begitu rutinnya. Biasanya, siklus ini akan dimulai sejak bulan Desember sampai awal tahun untuk pemain Arsenal. Siklusnya cukup sederhana terbaca. Tampak hebat di paruh musim pertama, lalu lembek di paruh musim kedua.

Padahal klub dari London Utara ini pernah jadi klub hebat. Bahkan sejak ditinggal sosok Thierry Henry ke Barcelona pada 2008, Arsenal sempat jadi klub yang—setidaknya—hampir hebat. Adalah Robin Van Persie yang menciptakan Arsenal begitu berbahaya pada musim 2011/2012. 

Menjadi kapten Arsenal, setelah Cecs Fabregas mengikuti jejak Henry ke Barcelona, pemain Belanda ini untuk pertama kalinya sepanjang kariernya, menjadi top skor di Liga Inggris. Sekaligus pertama kalinya bagi Arsenal—sejak ditinggal Henry—memiliki penyerang yang mampu mencetak 30 gol dalam semusim.

Apa rahasianya? Apakah Van Persie memang semakin hebat?

Baiklah, itu mungkin juga masuk hitungan, tapi bukan itu alasan utamanya. Ini karena musim terakhir Van Persie berseragam Arsenal adalah musim di mana ia bermain paling banyak dalam semusim: 38 pertandingan. Jauh melebihi rata-rata bermain Van Persie sepanjang kariernya bersama “The Gunners”.

Lalu ke mana saja Van Persie sebelumnya? Maaf, saudara-saudara. Van Persie banyak sekali menghabiskan waktu di ruang perawatan karena cedera. Total, selama 8 musim memperkuat Arsenal, Van Persie menghabiskan waktu sampai 11 bulan dan kehilangan waktu bermain sebanyak 77 pertandingan. Itu sama saja Arsenal merawat pemain andalannya sendiri hampir satu tahun.

Hal yang sama juga terjadi dengan Jack Wilshere yang menghabiskan total 901 hari untuk bolak-balik ke meja perawatan sebelum akhirnya dipinjamkan ke Bournemouth. Bahkan, gabungan jumlah pertandingan dalam tiga musim terakhirnya bersama Arsenal, yang hanya 19 pertandingan, masih di bawah jumlah bermainnya hanya dari hitungan semusim di Bournemouth. Sebanyak 22 pertandingan.

Ada tiga hal yang bisa jadi hipotesis penyebab begitu rentannya pemain Arsenal terhadap cedera. Saat ini, jika dihitung dari tahun 2017 saja jumlah pemain Arsenal yang cedera—atau pernah cedera—ada 12 pemain. Memang tidak semua pemain mengalami cedera parah, kadang, hanya dalam hitungan hari pemain bisa merumput lagi. Tapi data dari physioroom menunjukkan bahwa pemain Arsenal mengalami cedera cukup sering.

Bayangkan saja, Mesut Ozil sejak datang ke Arsenal pada 2013 sudah mengalami 13 kali cedera. Artinya dalam satu tahun Ozil mengalami cedera rata-rata 3,25 kali. Bahkan posisi penjaga gawang, David Ospina, yang notabene bukan pemain inti sejak kedatangan Petr Cehcz masuk meja perawatan sampai 5 kali dalam 3 musim ini.

Untuk membacanya, pertama, kita bisa memakai kacamata Barney Ronay dari The Guardian yang mengajukan analisis menarik manakala melihat betapa sering dan rutinnya Arsenal kehilangan momen karena ditinggalkan pemain-pemain andalannya di ruang perawatannya. Menurut Ronay gaya bermain Arsene Wenger memang rawan untuk memperbesar risiko cedera pemainnya sendiri.

Tipikal bermain Arsenal yang hampir selalu bermain dengan umpan-umpan pendek dan hasrat penguasaan bola, tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Kadang kala pemain-pemain Arsenal berlari melebihi pemain lawan. Baik untuk mengejar bola milik lawan maupun menjaga kerapatan permainan dalam kombinasi umpan satu-dua saat bola dikuasai. Ada usaha lebih dari pemain-pemain Arsenal untuk melakukannya. Sebuah tanda bahwa skema Wenger memang sudah tidak linier dengan kualitas pemainnya sendiri.

Hasrat Wenger yang ingin memainkan sepak bola seperti Barcelona era Josep Guardiola pada akhirnya membebani massa otot banyak pemain Arsenal. Apalagi, tidak seperti Barcelona yang berlaga di La Liga dengan kultur Spanyol yang lebih dikenal sebagai pertarungan buka-tutup ruang, Arsenal yang berlaga di Inggris harus berhadapan dengan petarung-petarung dalam duel fisik yang jauh lebih sering dibandingkan di Liga Spanyol.

Alasan kedua, ada yang bermasalah dengan program latihan Arsenal. Dalam laporan Jeremy Wilson untuk Telegraph disebut bahwa ada salah satu mantan pemain Arsenal yang tidak mau disebut namanya mengatakan, “Pemain seharusnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk istirahat dan lebih banyak program latihan yang disesuaikan untuk setiap pemain, namun Arsene (Wenger) selalu punya metode sendiri yang ia percayai.”

Wilson menulis, biasanya, di paruh musim kedua, program latihan akan dibikin lebih ringan oleh Wenger. Mengingat tim seperti Arsenal akan memasuki babak gugur 16 besar Liga Champions dan berlaga di Piala FA atau Piala Liga. Sayangnya, perubahan ini tetap tidak jadi solusi dengan bukti betapa rapuhnya Arsenal di paruh musim kedua sepanjang musim. Ini menunjukkan bahwa program latihan yang disusun sejak awal musim memang sudah salah.

Hipotesis terakhir atau ketiga: tim medis.

“Jika masalah ini hanya terjadi pada saya, saya setuju bahwa (cedera) ini kesalahan saya sendiri. Bahwa Liga Inggris terlalu sulit bagi saya karena terlalu banyak pertandingan. Tapi ketika hal ini terjadi hampir pada semua orang dalam beberapa tahun terakhir. Saya percaya harus ada penjelasan yang kita butuhkan untuk mencapai kata sepakat,” kata Andrey Arshavin, mantan pemain Arsenal untuk mirror.co.uk ketika menyoroti siklus cedera yang selalu terjadi di Arsenal.

Siklus Cedera Arsenal


Perlu diketahui, selain seringnya pemain Arsenal cedera, durasi masa penyembuhan pemain Arsenal juga menjadi pertanyaan. Baru-baru ini, Santi Cazorla adalah korbannya. Cedera sejak Oktober 2016, Cazorla dijadwalkan bisa merumput kembali bulan Maret 2017. Sayangnya, kesalahan yang dilakukan tim medis Arsenal membuat Cazorla harus menjalani operasi lagi dan membuatnya kemungkinan absen selama sisa musim 2016/2017.

Tidak hanya siklus dan durasi, identifikasi cedera juga jadi masalah besar bagi Arsenal. Mari mundur sedikit ke belakang. Ada kasus yang menimpa Aarron Ramsey pada Oktober 2014. Bayangkan, untuk beberapa waktu, tim medis Arsenal tidak bisa mengidentifikasi cedera yang dialami Ramsey.

Ini hal yang hampir mirip dengan yang terjadi pada Mesut Ozil. Pada bulan yang sama, jelang kualifikasi Piala Eropa 2016, tim medis Arsenal yang mengizinkan Ozil berlaga untuk Jerman tidak mendeteksi cedera lutut yang diderita pemainnya sendiri.

Sesaat sebelum persiapan untuk menghadapi Polandia dan Irlandia, tim medis timnas Jerman mendeteksi ada yang tidak beres dari lutut Ozil. Pada akhirnya, pemain keturunan Turki ini divonis absen 12 minggu dan dikembalikan ke klubnya untuk menjalani perawatan.

Ini belum termasuk peristiwa memalukan saat Arsenal merekrut Kim Kallstrom pada paruh musim kedua 2013/2014. Dibeli untuk jadi pelapis Aaron Ramsey atau Jack Wilshere, cedera punggung Kallstrom luput dideteksi oleh tim medis Arsenal sejak awal.

Kalaupun kemudian diakui bahwa tim medis Arsenal sudah tahu bahwa Kallstrom cedera, hal ini malah jadi cerita yang sangat lucu karena untuk apa meloloskan kotnrak seorang pemain jika saat tes medis sudah diketahui pemain tersebut punya masalah kesehatan? Pada akhirnya, belum juga melakukan debut, Kallstrom sudah langsung divonis absen untuk 5 sampai 6 pekan sesaat setelah penandatanganan kontrak.

Masalah-masalah yang dialami Arsenal ini, dalam 4 tahun terakhir, jika digabungkan seluruh pemain yang cedera telah menghabiskan waktu 19 tahun. Bahkan durasi Arsenal menunggu para pemainnya sembuh dari cedera jauh lebih tua daripada usia Gianluigi Donnaruma. Untuk musim ini saja, Arsenal punya 38 jenis cedera bervariasi dengan 23 pemain yang bolak-balik masuk ruang perawatan. Jumlah pemain yang sama dengan skuad yang berangkat untuk putaran final Piala Dunia.

Dari data-data tersebut, merupakan hal yang mengerikan jika siklus ini tidak juga ditemukan solusinya. Satu-satunya hal yang patut dicurigai adalah Arsenal memang sedang ingin menciptakan fenomena alam terbaru yang akan membuat nama klub ini dikenang sepanjang masa dalam dunia ilmu pengetahuan alam. Fenomena alam yang nantinya akan bernama; siklus cedera Arsenal.

Baca juga artikel terkait ARSENAL atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - daf/nqm)

Keyword