tirto.id - Kolesterol termasuk jenis lemak yang diproduksi secara alami oleh tubuh ketika melakukan metabolisme. Gunanya membentuk membran sel, vitamin D, dan jenis hormon lain. Kelebihan kolesterol ternyata bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Tinggi kadar kolesterol salah satunya disebabkan oleh faktor genetik atau faktor keturunan. Dalam istilah medis disebut Familial Hypercholesterolemia (FH). FH bersifat dominan autosom, artinya pewarisan satu salinan gen mutan dari salah satu orang tua sudah cukup untuk menyebabkan penyakit ini.
Mengutip laporan Mayo Clinic, Familial Hypercholesterolemia terbagi menjadi dua, yaitu Hiperkolesterolemia familial heterozigot (HeFH) dan Hiperkolesterolemia familial homozigot (HoFH).
Hiperkolesterolemia familial heterozigot (HeFH) adalah jenis yang lebih umum terjadi. HeFH diwariskan dari salah satu orang tua. Sedangkan Hiperkolesterolemia familial homozigot (HoFH) merupakan jenis yang jarang terjadi. HoFH diwariskan dari kedua orang tua dan dapat menyebabkan bentuk kondisi yang lebih parah.

Salah satu risiko akibat Familial Hypercholesterolemia adalah penyakit kardiovaskular atau serangan jantung, yang dapat terjadi sebelum usia 50 tahun (pria) dan sebelum usia 60 tahun (wanita). Jika tidak didiagnosis atau ditangani, bentuk kondisi yang lebih parah dan jarang terjadi ini dapat menyebabkan kematian sebelum usia 20 tahun.
"Kolesterol tinggi memiliki banyak kemungkinan penyebab. Faktor-faktor seperti merokok, mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, dan kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan kadar kolesterol Anda," ungkap Dokter spesialis jantung Leslie Cho dikutip dari health.clevelandclinic.org.
"Kondisi medis tertentu dan bahkan obat-obatan juga bisa menjadi penyebabnya. Namun, kita juga tahu bahwa kolesterol tinggi bisa bersifat keturunan," lanjutnya.
Apa itu Familial Hypercholesterolemia?
Kolesterol tinggi tidak melulu karena pola hidup dan makanan yang dikonsumsi. Secara umum, kadar kelesterol tinggi dapat terjadi karena sering mengonsumsi makanan tinggi lemah jenuh dan lemak trans, seperti jeroan, gorengan, atau makanan olahan.
Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol juga dapat merusak dinding pembuluh darah. Pada tahap tertentu dapat meningkatkan kadar kolesterol. Tak hanya itu, seseorang yang kurang beraktivitas fisik atau jarang berolahraga juga dapat menghambat pembakaran lemak.
Dalam kondisi demikian, kadar high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik akan turun, sementara Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat akan naik dan bisa menyebabkan kadar kolesterol melebihi batas normal.

Namun, penyakit kolesterol tinggi dapat terjadi karena faktor keturunan. Dalam istilah medis, kolesterol tinggi karena faktor keturunan disebut dengan Familial hypercholesterolemian (FH).
Hiperkolesterolemia familial adalah kelainan genetik yang diturunkan dalam keluarga secara autosomal dominan. Artinya, hanya perlu mewarisi gen abnormal dari salah satu orang tua untuk menderita penyakit ini. Saat lahir, kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat sudah sangat tinggi.
Melansir laman Medline Plus, kelainan genetik terjadi karena varian gen pada kromosom 19 yang menyebabkan tubuh tidak mampu membuang kolesterol jahat dari darah. Akibatnya, kadar LDL dalam darah menjadi tinggi.
Kolesterol LDL bahkan menumpuk di dinding arteri, mengeras, lalu membentuk plak atau aterosklerosis. Penumpukan plak dapat mempersempit saluran darah dan meningkatkan risiko penyumbatan yang berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang paling umum berkaitan dengan Coronary Artery Disease (CAD) atau penyakit jantung koroner.
Ketika kondisi normal, ketika kadar kolesterol di dalam sel sudah mencukupi, mekanisme tubuh akan memberi sinyal kepada enzim untuk menghentikan sintesis kolesterol. Namun, enzim-enzim pada hiperkolesterolemia familial tidak lagi bekerja, sehingga memicu produksi kolesterol dalam jumlah berlebihan.
Laporan Medline Plus menyebutkan tentang kategori kadar kolesterol. Kategori normal didefinisikan jika kadar kolesterol berada di bawah 100 mg/dL. Lalu 100–129 mg/d tercatat sebagai batas normal dan angka 130–159 mg/dL tergolong sedikit tinggi. Sementara, angka 160–189 mg/dL termasuk ketagori tinggi dan di atas 190 mg/dL sudah sangat tinggi.
Familial Hypercholesterolemian umumnya diwarisi oleh gen abnormal dari salah satu orang tua, sebagaimana termuat dalam Center for Disease Control and Prevention. Namun, pada kasus yang jarang terjadi, seorang anak dapat mewarisi kelainan gen tersebut dari kedua orang tuanya.
Jika gen abnormal diwarisi dari kedua orang tua, maka peningkatan kadar kolesterol menjadi jauh lebih parah. Risiko terburuk adalah serangan jantung dan penyakit jantung, bahkan sejak masa kanak-kanak.
Sayangnya, Familial Hypercholesterolemian lebih sering terdeteksi setelah kejadian jantung pertama seseorang. Jika telah terjadi demikian, penderita FH biasanya memiliki riwayat kesehatan keluarga yang menderita penyakit jantung dini, dan riwayat kesehatan keluarga yang dikombinasikan dengan kadar LDL tinggi.

Padahal, peningkatan kadar LDL dapat terdeteksi sejak lahir dan perubahan kardiovaskular dapat terdeteksi pada masa kanak-kanak. Sebab itu, identifikasi dini penderita FH sangat penting dilakukan karena meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
Dalam praktik medis, diagnosis dini FH dan pengobatan yang tepat, serta skrining keluarga sangat penting untuk mencegah kematian dini. Studi memperkirakan bahwa prevalensi FH heterozigot adalah 1 banding 250 pada populasi umum, baik di Amerika Serikat maupun secara global.
Selain kelainan genetik yang menyebabkan kadar kolesterol tinggi sejak lahir, seseorang juga rentan menglami risiko kolesterol tinggi karena banyak perubahan gen kecil yang meningkatkan seiring berjalannya waktu.
Risiko poligenik tidak berarti pasien pasti akan mengalami kolesterol tinggi. Inilah yang membedakan. FH menyebabkan perubahan yang kuat dan langsung pada cara tubuh membersihkan LDL. Risiko poligenik berkembang secara lebih bertahap.
Gejala Fisik dan Risiko yang Mengintai

Pada tahun-tahun awal, gejala Hiperkolesterolemia familial mungkin tampak samar. Penyakit ini dapat ditandai dengan tiga ciri: hiper LDL, penyakit arteri koroner (CAD) dini, serta xantoma pada tendon dan kulit.
Pasien Hiperkolesterolemia familial mengalami hiper LDL sejak kecil, sehingga aterosklerosis menumpuk dan mengakibatkan penyempitan saluran darah. Pada kondisi ini, seseorang memiliki risiko yang tinggi terkena penyakit jantung.
Sebuah studi menarik tertulis dalam Guidelines for Diagnosis and Treatment of Familial Hypercholesterolemia 2017 yang ditulis Mariko Harada dan tim dalam Journal of Atherosclerosis and Thrombosis.
Isinya mengungkapan bahwa pria dengan FH heterozigot (HeFH) yang tidak diobati pada rentang usia 30 hingga 50 tahun dan wanita pada rentang usia 50 hingga 70 tahun memiliki kemungkinan besar untuk mengalami CAD, seperti infark miokard dan angina pektoris.
Risiko CAD pada pasien HeFH yang tidak diobati yaitu 13 kali lebih tinggi dibandingkan pada individu non-FH. Mengingat kadar kolesterol yang tinggi sejak dini, kerusakan pada arteri pun dimulai lebih awal. Penderita FH bisa mengalami serangan jantung atau stroke saat berusia 40-an atau bahkan lebih muda lagi.

Selain kadar kolesterol jahat yang tinggi, FH dapat dideteksi dengan penumpukan lemak di kulit atau istilah medis disebut xantoma kulit. Xantoma terjadi pada bagian tangan, siku, lutut, pergelangan kaki, dan di sekitar kornea mata.
Kondisi ini menyebabkan munculnya lingkaran berwarna putih, abu-abu, atau biru di sekeliling iris mata, yang disebut arcus senilis.
Kemudian, terjadi penumpukan kolesterol pada kelopak mata atau disebut xantelasma. FH juga ditandai dengan nyeri dada (angina) atau tanda-tanda penyakit arteri koroner lainnya yang muncul pada usia muda.
Gejala fisik penyakit FH lainnya adalah kram pada salah satu atau kedua otot betis saat berjalan karena penebalan tendon achilles. Tendon menghubungkan otot betis ke tulang tumit.
Pada kondisi tertentu, gejala penyakit FH juga dapat menyerupai stroke, seperti kesulitan berbicara, salah satu sisi wajah tampak turun, kelemahan pada lengan atau tungkai, dan hilangnya keseimbangan.
Jika dicurigai adanya penebalan, lakukan pemeriksaan radiografis dan ukur ketebalan maksimum tendon achilles. Jika ukurannya ≥ 9 mm, tendon tersebut dinyatakan mengalami penebalan.

Apa Saja yang Harus Dilakukan?
Apabila gejala-gejala penyakit FH di atas telah muncul pada diri seseorang, maka perlu melakukan pemeriksaan fisik, tes fungsi jantung, serta penelusuran riwayat keluarga dan tes genetik untuk memperoleh diagnosis yang pasti.
Sebagai langkah preventif, perlu dilakukan skrining kolesterol, karena kolesterol tinggi biasanya tidak menimbulkan gejala. Pasien dapat melakukan tes darah untuk mengetahui kadar kolesterol total, kadar LDL, dan kadar trigliserida yang normal
Skrining kolesterol universal untuk anak-anak dapat dilakukan pada usia 9-11 dan remaja pada 18-21 tahun. Khusus orang dewasa, perlu menjalani pemeriksaan setidaknya sekali setiap lima tahun.
Mengingat FH sebagai penyakit genetik, maka memungkinkan ditemukannya pasien FH baru dalam keluarga yang sama. Oleh karena itu, pasien perlu menyadari bahwa FH adalah penyakit keturunan autosomal dominan, dan harus melakukan diagnosis dini serta pengobatan yang tepat tidak hanya bagi pasien tersebut, tetapi juga bagi anggota keluarganya. Jika FH telah didiagnosis, pastikan untuk melakukan skrining terhadap kerabat sedarah.
Bagi pasien FH, sangat penting untuk mencegah kematian dini dengan melakukan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat, serta skrining keluarga (skrining berjenjang/cascade screening), mengingat hiper LDL terkadang tidak menimbulkan gejala.

Berdasarkan laporan Britannica, hiper LDL dapat ditekan dengan melakukan pola hidup sehat dan mengurangi lemak jenuh. Kurangi konsumsi daging sapi, ayam, babi, dan domba. Hindari kuning telur dan jeroan untuk mengurangi asupan makanan yang mengandung kolesterol tinggi. Ganti produk susu berlemak penuh (full-fat) dengan produk rendah lemak.
Pasien juga dapat berkonsultasi dengan ahli gizi yang dapat memberikan saran mengenai perubahan kebiasaan makan. Menurunkan berat badan dan berolahraga secara teratur juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol.
Pada tahap tertentu, pasien bisa menginsumsi beberapa jenis obat untuk membantu menurunkan kadar kolesterol darah, tentu dengan pengawasan dan anjuran dokter.
Beberapa obat didesain lebih efektif untuk menurunkan kolesterol LDL, ada yang efektif menurunkan trigliserida. Sementara yang lain membantu meningkatkan kolesterol HDL. Pilih obat sesuai gejala dan penyakit serta rekomendasi dari dokter.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































