tirto.id - Kasus Influenza A pada anak dilaporkan meningkat di sejumlah rumah sakit besar, memicu kekhawatiran orang tua akan penuhnya ruang rawat inap anak. Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), Hikari Ambara Sjakti, menyebut lonjakan kasus rawat inap ini menjadi kekhawatiran bersama.
"Tampaknya banyak lonjakan kasus yang harus dirawat di ruang perawatan anak di beberapa rumah sakit," kata Hikari, dalam taklimat media daring PP IDAI yang diikuti Tirto, Jumat (18/9/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang juga anggota UKK Infeksi dan Penyakit Tropik PP IDAI, Anggraini Alam, memaparkan data situasi regional WHO Kantor Regional Pasifik Barat (WPRO) per 10 September 2026. Dibanding periode sama tahun lalu, kawasan Pasifik Barat mengalami peningkatan kasus influenza, didominasi Influenza A.
Singapura mencatat lonjakan paling tajam di antara negara tetangga Indonesia.
"Yang lonjakannya sangat tajam di area WPRO adalah Singapura, di mana kasus flunya melonjak hingga 37 persen. Mengingat mobilitas masyarakat perkotaan Indonesia yang kerap melakukan perjalanan bisnis dan transit ke Singapura, ini menjadi kewaspadaan kita bersama," ujar Anggraini.
Malaysia, Vietnam, dan Filipina juga menunjukkan tren naik, sementara Laos relatif stabil atau menurun.
Untuk Indonesia sendiri, Anggraini menjelaskan data nasional belum memperlihatkan lonjakan drastis dibanding September tahun lalu, meski kewaspadaan tetap diperlukan karena negara-negara tetangga yang menjadi simpul perjalanan internasional sedang mengalami kenaikan kasus.
Di rumah sakit rujukan tipe A tempatnya bertugas, ia mengakui peningkatan pasien flu memang terasa nyata. Kesenjangan dengan data nasional ini, menurutnya, terjadi karena kapasitas tes diagnostik yang membaik serta pola hidup masyarakat perkotaan yang cenderung berkumpul di ruangan tertutup ber-AC saat cuaca panas.
Karakteristik dan Gejala Influenza A

Anggraini menjelaskan Influenza A menjadi subtipe paling diwaspadai karena mudah bermutasi baik pada manusia maupun hewan seperti babi, dan berpotensi memicu pandemi seperti Spanish flu dan swine flu di masa lalu.
Mutasi minor rutin (antigenic drift) membuat tubuh belum memiliki antibodi memadai terhadap galur yang bersirkulasi, sehingga gejala cenderung lebih berat dan penyebaran lebih luas. Soal gejala, ia menegaskan flu jauh lebih berat ketimbang selesma biasa.
"Kalau flu itu lebih berat teman-teman semua, nyeri badannya sakit kepalanya, demam tingginya hilang itu namanya nafsu makan, dan gejala semua ini munculnya cepat dibandingkan dengan selesma," jelas Anggraini.
Sekitar 5 persen anak yang terinfeksi memerlukan rawat inap, dengan 80 persen di antaranya berusia di bawah dua tahun dan separuhnya di bawah enam bulan.
Komplikasi paling umum dari Influenza A pada anak adalah ke saluran pernapasan bawah berupa bronkopneumonia dan pneumonia, akibat kerusakan mukosa yang membuka jalan bagi infeksi bakteri sekunder. Komplikasi ke otak (ensefalopati) jauh lebih jarang terjadi, namun tetap jadi perhatian khusus.
"Terkait komplikasi kerusakan otak akibat Influenza A, angkanya relatif jarang, yakni sekitar 0,2 persen atau sekitar 4 kasus per 100.000 anak yang terinfeksi flu. Dari kasus komplikasi neurologis tersebut, sekitar 80 persen dipicu oleh Influenza A," ungkap Anggraini.
Ia menambahkan, kondisi ini biasanya terjadi pada anak dengan komorbid atau daya tahan tubuh menurun.
Karena anak kerap belum bisa mengeluhkan kondisinya dengan jelas, Anggraini mengimbau orang tua berpegang pada tiga tanda pemantauan di rumah.
"Karena anak belum bisa mengeluh dengan jelas, orang tua dan pengasuh harus berpegang pada 3 Petunjuk Emas: aktivitas anak, asupan cairan, dan keluaran urine. Pada anak yang memakai popok, cek tiap 4 jam. Jika dalam waktu 4 hingga 6 jam popoknya kering atau uriennya sangat pekat, itu tanda bahaya dehidrasi," jelasnya.
Tanda bahaya lain yang mengharuskan anak segera dibawa ke IGD meliputi sesak napas dengan tarikan dinding dada, bibir atau kuku membiru, kejang, tidak kencing lebih dari enam jam, atau munculnya perdarahan.
Pencegahan dan Vaksinasi
Soal vaksinasi influenza, Anggraini menyebut efektivitasnya berkisar 40 hingga 60 persen terhadap galur A dan B, menurunkan risiko rawat inap dan komplikasi fatal secara signifikan.
Vaksin diberikan mulai usia enam bulan dan memerlukan sekitar dua minggu pascasuntik untuk membentuk antibodi optimal. Sementara itu, Anggraini turut menegaskan cuaca kemarau bukan penyebab langsung lonjakan kasus flu.
"Cuaca kemarau sendiri bukanlah penyebab langsung terjadinya lonjakan kasus flu. Yang menjadi masalah adalah perubahan perilaku kita di musim kemarau, yaitu kecenderungan berkumpul di ruangan tertutup ber-AC dengan ventilasi minim, serta abai terhadap higienitas tangan dan etika batuk," katanya.
Ia menambahkan, tingginya polusi udara di perkotaan saat kemarau turut mengiritasi dan melemahkan lapisan pelindung saluran napas anak, membuatnya lebih rentan terinfeksi.
Anggraini mengajak masyarakat melindungi anak-anak dengan ventilasi udara yang baik, perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi dan hidrasi, serta vaksinasi influenza tahunan.
Sorotan DPR dan Kemenkes

Di tengah kekhawatiran publik, Ketua DPR RI, Puan Maharani, ikut menyoroti lonjakan kasus influenza dan mendesak pemerintah memberi penjelasan yang lebih komprehensif ke publik.
"Pemerintah perlu memberikan penjelasan komprehensif mengenai laporan peningkatan kasus Influenza A di Indonesia. Apalagi dilaporkan terjadi kepadatan IGD rumah sakit di sejumlah daerah akibat peningkatan kasus Influenza A ini," kata Puan dalam keterangan persnya, Kamis (17/9/2026).
Ia mendorong pemerintah memperbanyak sosialisasi dan edukasi ke masyarakat guna mencegah keresahan, serta memastikan informasi yang beredar dapat dipercaya.
"Masyarakat membutuhkan informasi yang dapat dipercaya mengenai tingkat penyebaran, kelompok yang perlu mendapat perhatian, serta langkah yang harus dilakukan apabila anggota keluarga mengalami gejala," tutur Puan.
Selain edukasi, Puan turut meminta penguatan infrastruktur kesehatan, khususnya di wilayah dengan penyebaran Influenza A yang cukup tinggi, serta memastikan ketersediaan layanan IGD dan obat-obatan.
Sementara itu, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, membenarkan adanya kenaikan kasus influenza, namun menyebutnya sebagai fenomena musiman yang masih terkendali.
"Nomor satu, memang ada kenaikan kasus influenza. Nomor dua, yang masyarakat mesti tahu, influenza itu ada musimnya. Jadi, memang bulan-bulan ini pasti ada kenaikan," kata Budi seusai rapat di DPR, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Ia menyebut belum ada kenaikan yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan galur yang tengah beredar bukan tipe yang berbahaya.
"Yang naik ini banyak di influenza tipe A, sama ada rhinovirus sedikit. Ini bukan strain yang berbahaya. Kita sementara mau monitor terus, kita kasih tahu daerah-daerahnya agar kalau ada kenaikan dikasih tahu ke kita kalau ada yang benar-benar parah kondisinya. Tapi sampai so far saya masih bisa lihat ini masih terkendali," ujar Budi.
Di sisi lain, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI yang juga Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto, Jumat (18/9/2026), mengingatkan bahwa Influenza A sebenarnya mencakup ratusan subtipe.
Mulai dari kombinasi H1 hingga H18 dengan N1 hingga N11, yang perangainya berbeda-beda, dan bisa berubah lagi lewat mutasi.
Ia mencontohkan galur H1N1 yang sudah dikenal puluhan tahun, namun pada 2009 memunculkan varian bermutasi yang diberi nama H1N1pdm, singkatan dari pandemi.
"Kalau lebih rinci informasinya maka tentu akan lebih jelas cara antisipasinya dan kita tahu lebih jelas pula tentang kemungkinan berat ringannya," ujar Tjandra.
Ia mendorong agar publik diberi tahu subtipe spesifik yang kini dominan, bukan sekadar label "Influenza A" secara umum.
Menjawab pertanyaan soal potensi keparahan Influenza A saat ini, Tjandra menyodorkan tiga faktor penentu.
Pertama, tingkat keparahan bergantung pada strain yang beredar — kombinasi H dan N tertentu. Kedua, strain apa pun, termasuk flu musiman biasa, tetap berpotensi menjadi berat pada kelompok rentan.
"Perlu diketahui bahwa strain apa pun, termasuk yang flu musiman, maka kalau daya tahan tubuh lemah, lansia dan lain-lain, maka tentu saja bisa jadi berat, pneumonia, dan bukan tidak mungkin fatal, walaupun persentasenya rendah," ungkap Tjandra.
Ketiga, jika muncul mutasi baru, tingkat keparahannya akan sangat bergantung pada karakter mutasi tersebut.
"Kalau ada mutasi baru maka tentu lain ceritanya, tergantung bagaimana mutasi yang terjadi," pungkas Tjandra.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































