tirto.id - Istilah Thousand-Yard Stare atau tatapan kosong seribu yard merujuk pada kondisis psikologis seseorang yang terpisah dari realita sosial akibat trauma, kelelahan emosional, dan perlindungan sistem otak.
Meskipun istilah ini bermula di medan perang, episode disosiatif yang menghasilkan tatapan kosong semacam ini dapat terjadi dalam berbagai konteks. Siapa pun yang terpapar stres akut atau tekanan yang luar biasa dapat mengalaminya.
Pemicunya bukan secara khusus pertempuran, melainkan situasi apa pun di mana kapasitas otak untuk mengatasi apa yang sedang disaksikannya menjadi kewalahan. Gangguan disosiatif dapat muncul secara tiba-tiba maupun bertahap, serta dapat berlangsung dalam waktu singkat atau menjadi kronis.
Meski begitu, sejumlah strategi grounding dapat dilakukan untuk memulihkan kembali ingatan seseorang agar kembali terhubung dengan kenyataan. Di fase yang berat, disosiatif perlu ditangani oleh para ahli termasuk psikiater.
Apa Itu Thousand-Yard Stare? Begini Asal-usulnya
Thousand-Yard Stare (Tatapan kosong seribu yard) atau Two-Thousand-Yard Stare (Tatapan kosong dua ribu yard) digunakan untuk menggambarkan ekspresi kosong dan tanpa emosi yang dialami seseorang saat mengalami stres hebat atau disosiasi, trauma ekstrem, atau ketakutan yang melampaui batas kemampuan kognitifnya. Tatapan kosong ini menjadi upaya tubuh untuk melawan atau melarikan diri terhadap stres.
Dalam sejarahnya, frasa Two-Thousand-Yard Stare bermula dari lukisan berjudul “Marines Call It That 2,000 Yard Stare” karya seniman Tom Lea yang terbit di majalah LIFE tahun 1945. Lukisan Tom Lea itu menggambarkan seorang tentara Perang Dunia II berdiri di depan medan perang yang hangus sambil menatap kosong, dengan ekspresi terpaku, menatap lurus ke depan. Lea menjumpai marinir tak bernama tersebut setelah dua hari pertempuran pada Februari 1944.
Melansir laman Tomlea.com, Tom Lea yang lahir di El Paso, Texas, Amerika Serikat merupakan salah satu seniman paling ikonik dari wilayah Barat Daya Amerika pada abad ke-20. Dalam kurun waktu 1941-1946, Tom Lea bertugas sebagai seniman koresponden perang untuk majalah LIFE. Dalam misi penugasan itu, Tom Lea menghasilkan sejumlah lukisan dan sketsa yang menggugah.
Ia menempuh perjalanan lebih dari 100.000 mil ke berbagai medan perang tempat pasukan Amerika terlibat, termasuk Atlantik Utara dan Pasifik Selatan. Lukisan tersebut bagian dari karya Lea untuk mengenang sosok marinir yang ia lihat di Pertempuran Peleliu (1944), salah satu pertempuran paling berdarah dalam Perang Dunia II.
Dalam lukisannya, Lea menggambarkan situasi saat ia melihat "Tatapan Dua Ribu Yard" sebagai berikut:
"Saat kami melewati pos medis darurat yang masih berada di dalam lubang bekas ledakan peluru, tempat itu dipenuhi orang-orang yang terluka, namun terasa sunyi senyap dalam cahaya senja. Saya melihat seorang marinir dengan seragam compang-camping berdiri diam di dekat petugas medis, menatap kosong tanpa fokus. Pikirannya telah runtuh akibat pertempuran, rahangnya terkulai, dan matanya tampak seperti dua lubang hitam kosong di wajahnya. Kembali ke arah pantai, kami berjalan dalam diam melewati barisan panjang jenazah marinir yang ditutupi terpal."
Mengutip Publikasi ilmiah berjudul The 2,000 Yard Stare yang dimuat di American Journal of Psychiatry Volume 172, Number 5 (2015), Tom Lea juga menyematkan keterangan gambar tersebut di majalah LIFE dengan "kelelahan akibat pertempuran" (battle fatigue).
Lukisan tersebut kini disimpan oleh United States Army Center of Military History di Fort Lesley J. McNair, Washington, D.C. Pada awalnya, Thousand-Yard Stare digunakan untuk menggambarkan kondisi kombatan perang dan stres pascatrauma.
Seiring waktu, Thousand-Yard Stare bisa disematkan pada siapa pun yang berada di bawah tekanan berat atau memiliki masalah kesehatan mental tertentu. Seperti menggambarkan ekspresi tanpa emosi yang sama yang mungkin dialami orang-orang dengan trauma selama episode disosiasi.
Hingga kini, lukisan tersebut sangat lekat dengan citra prajurit aktif dan veteran perang. Lukisan itu telah ditetapkan sebagai simbol nasional untuk Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan melambangkan dampak psikologis dari pertempuran.
Ciri-ciri Fisik dan Faktor Penyebabnya
Pandangan kosong cenderung dialami oleh siapa saja, terutama pada mereka yang pernah mengalami trauma. Secara psikologis, trauma dapat mewujud menjadi kecemasan, kelelahan, dan mati rasa. Dari segi fisik, trauma dapat berbentuk masalah tidur dan kondisi kesehatan jangka panjang.
Meski terkadang tak terlihat, trauma dapat dilihat dari tanda-tanda yang muncul, salah satunya tatapan kosong. Saat seseorang memiliki tatapan kosong akibat trauma, mimik wajahnya cenderung abai, tidak fokus, atau bahkan melamun. Di satu waktu, mereka tidak lagi menyadari apa yang terjadi di sekitarnya, termasuk tidak responsif terhadap pertanyaan. Secara psikologis, kondisi ini disebut disosiasi, yang lahir karena trauma tertentu.

Laporan Healthline.com menjelaskan disosiasi sebagai mekanisme pertahanan alami otak untuk melarikan diri secara mental ketika tubuh tidak bisa melarikan diri secara fisik dari situasi yang sangat tertekan, menakutkan, atau menyakitkan.
Disosiasi dapat memengaruhi persepsi, kesadaran, ingatan, identitas, dan bahkan kontrol motorik seseorang tidak lagi terintegrasi secara alami. Saat mengalami disosiasi, seseorang dapat merasa terlepas dari diri mereka sendiri atau dunia di sekitarnya.
Mereka mengalami perasaan mati rasa fisik dan emosional, atau mengalami kilas balik, yang membuat tidak fokus, terputus, atau melamun. Dalam fase tertentu, disosiasi dapat menyebabkan seseorang tidak tehubung dengan realita.
Disosiasi bagian dari pola aktivitas otak yang spesifik. Mengutip laporan psychologytoday.com, otak bekerja melalui jaringan wilayah yang saling terhubung, masing-masing memiliki peran khusus dalam mengatur emosi, ingatan, dan kesadaran diri. Saat terjadi disosiasi, jaringan-jaringan otak mengalami gangguan regulasi, yang menimbulkan sensasi khas berupa rasa terlepas dan terputus dari kenyataan.
Secara khusus, otak memiliki pengatur emosi yang disebut Korteks Prefrontal (PFC). Letaknya berada di belakang dahi. Saat disosiasi terjadi, aktivitas PFC menurun, sehingga seseorang lebih sulit mengatur emosi atau merasa terhubung dengan dunia di sekitar. Itulah sebabnya mengapa disosiasi sering kali terasa seperti mati rasa secara emosional atau kondisi mental yang seolah mati.
Selain itu, otak juga memiliki amigdala yang bertugas mendeteksi rasa takut di otak. Saat disosiasi, aktivitas amigdala bisa berubah secara ekstrem. Saat menemui atau mengingat trauma, amigdala bisa menjadi sangat aktif sehingga memperkuat rasa terancam.
Sebaliknya, pada kondisi depersonalisasi atau derealisasi, aktivitasnya mungkin menurun yang menumpulkan respons emosional dan memicu rasa terlepas dari kenyataan. Perubahan aktivitas amigdala ini menunjukkan mengapa pengalaman disosiasi bisa terasa sangat berbeda tergantung pada konteksnya.
Otak juga memiliki area penyimpanan ingatan yang disebut sebagai hipokampus. Bagian ini berperan penting dalam pembentukan dan pemanggilan kembali ingatan. Itu sebabnya, ingatan seseorang mengenai peristiwa traumatis menjadi terpecah-pecah atau tidak beraturan.
Ada pula bagian Default Mode Network (DMN) yang aktif saat seseorang merenungkan diri sendiri atau pengalaman hidup, dan mengalami gangguan regulasi selama disosiasi. Melalui bagian otak inilah gangguan disosiasi dapat menimbulkan perasaan terputus dari jati diri, seolah-olah pasien adalah orang asing di dalam tubuh sendiri. Selain wilayah otak, zat kimia juga memainkan peran penting dalam disosiasi.
Melansir laman Britannica, gangguan disosiatif terbagi menjadi beberapa bentuk. Di antaranya gangguan identitas disosiatif (Dissociative identity disorder). Gangguan identitas disosiatif terjadi ketika seseorang menunjukkan dua atau lebih kondisi kepribadian yang berbeda dan mengambil alih kendali atas perilaku orang tersebut.
Berikutnya, amnesia disosiatif (Dissociative amnesia) yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi penting yang sering kali berkaitan dengan stres atau trauma. Kondisi ini dapat pulih kembali, dan biasanya bermula serta berakhir secara tiba-tiba.
Gangguan disosiatif juga dapat berupa fuga disosiatif (Dissociative fugue). Keadaan fuga ditandai dengan tindakan meninggalkan rumah secara tiba-tiba dan tak terduga, disertai ketidakmampuan untuk mengingat sebagian atau seluruh masa lalu seseorang. Kondisi ini muncul secara mendadak, biasanya setelah adanya stresor psikososial yang berat.
Gangguna lainnya berupa gangguan depersonalisasi-derealisasi yaitu kondisi seseorang merasa terlepas atau asing dari dirinya sendiri --termasuk tubuhnya- serta merasa terpisah dari kenyataan. Penderita mungkin merasa seperti pengamat yang sedang melihat dirinya sendiri, seolah-olah sedang berada dalam mimpi atau film. Sebagian besar pasien mengalami kecemasan, kepanikan, atau depresi dan dapat kambuh jika dipicu oleh peristiwa penuh tekanan.
Apakah Berbahaya & Bagaimana Cara Mengatasinya?
Reaksi stres akut yang disertai disosiasi dianggap wajar pada beberapa hari pertama setelah peristiwa traumatis. Jika gejala tersebut menetap selama tiga hari hingga empat minggu, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai gangguan stres akut. Berikutnya, ketika gejala disosiasi berlanjut lebih dari empat minggu, kondisi tersebut dapat memenuhi kriteria untuk gangguan stres pascatrauma.
Dalam kondisi disosiasi, seseorang dapat memabantu pasien untuk mengembalikan kesadaran secara perlahan. Proses ini disebut grounding atau membumikan kesadaran dengan cara mengaktifkan kembali indra agar otak terhubung kembali dengan lingkungan fisik di sekitarnya.

Cara paling umum yang dapat dilakukan untuk mengembalikan gangguan disosiasi yaitu dengan teknik hitung mundur berbasis indra. Caranya, mintalah orang tersebut menyebutkan lima hal yang bisa mereka lihat, empat hal yang bisa mereka sentuh, tiga hal yang bisa mereka dengar, dua hal yang bisa mereka cium aromanya, dan satu hal yang bisa mereka rasakan atau kecap rasanya.
Jika kondisi pasien terlalu parah untuk merespons secara verbal, seseorang dapat memandu pasien dangan menunjuk benda-benda di ruangan, dekatkan sesuatu yang beraroma kuat seperti, letakkan benda bersuhu dingin atau bertekstur di tangan mereka, atau bicaralah dengan nada suara yang tenang dan stabil sembari mendeskripsikan situasi di sekitar.
Lalu strategi grounding lainnya berupa stimulasi visual yang dapat membantu memutus siklus disosiasi, misalnya menyalakan lampu terang. Lalu mengajak pasien menarik napas dalam secara perlahan. Atau mengusap atau memijat lembut lengan dan kaki agar bisa merasakan tubuh mereka sendiri, serta memberikan sesuatu yang memiliki rasa kuat seperti jus jerukatau permen karet rasa mint.
Beberapa orang yang sering mengalami disosiasi, biasanya membawa benda transisi seperti batu kecil, potongan kain, atau barang pribadi yang bermakna. Gunanya untuk mereka genggam dan menstabilkan diri saat merasa episode disosiasi akan dimulai.
Menurut laporan American Psychiatric Association, jika kondindisinya teramat berat, pasien dapat melakukan pengobatan dengan melibatkan psikoterapi. Terapi dapat membantu seseorang mengendalikan proses dan gejala disosiatif. Proses terapi bisa jadi intens dan sulit karena melibatkan upaya mengingat serta menghadapi pengalaman traumatis di masa lalu.
Terapi perilaku kognitif dan terapi perilaku dialektikal adalah dua jenis terapi yang umum digunakan. Hipnosis juga terbukti bermanfaat dalam pengobatan gangguan identitas disosiatif.
Tidak ada obat yang secara langsung mengobati gejala gangguan identitas disosiatif. Namun, obat-obatan dapat membantu mengatasi kondisi atau gejala terkait, misalnya penggunaan antidepresan untuk menangani gejala depresi.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































