tirto.id - Tidak mudah menjadi warga negara Indonesia, terutama ketika berbicara soal kondisi perekonomian saat ini. Melonjaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian khusus lantaran dapat memicu efek domino kenaikan harga segala barang, mulai dari kebutuhan primer hingga tersier. Itu belum termasuk naiknya harga bahan bakar minyak akibat konflik AS-Israel vs. Iran, gelombang PHK yang tak disertai terwujudnya janji 19 juta lapangan kerja, serta inflasi tahunan.
Situasi tersebut berpotensi menimbulkan stres finansial yang punya banyak sekali efek negatif.
Studi Money and Mental Health Policy Institute (2019) menyebutkan bahwa 86 persen masalah mental masyarakat di Inggris berasal dari kesulitan finansial.
Itu tidak jauh berbeda dari hasil survei Katadata Insight Center pada 2025, yang mendapati 82,1 persen responden perempuan dan 76,1 persen responden laki-laki di Indonesia mengakui masalah finansial sebagai penyebab problem kesehatan mental.
Tentu saja, efek negatif stres finansial tidak berhenti sampai di situ.
Riset demi riset menunjukkan bahwa tekanan soal uang meninggalkan jejak jauh lebih dalam dari sekadar mood memburuk atau sulit tidur nyenyak. Stres finansial bisa membuat seseorang terlihat lebih tua dari usianya, mempercepat kemunduran daya ingat, menggerus kesehatan mental secara spesifik, dan mempercepat kerapuhan fisik di usia tua. Dari satu sumber masalah yang sama, efeknya bisa merembet ke mana-mana.
Stres Keuangan Bikin Kita Tampak Makin Tua
Studi di Boston, Amerika Serikat, mengamati 228 orang berusia 26 hingga 75 tahun selama rata-rata sepuluh tahun. Para peneliti memotret para peserta, lalu meminta sejumlah penilai independen untuk menebak usia mereka hanya dari foto.
Hasilnya, orang-orang yang melaporkan tingkat stres finansial lebih tinggi dinilai terlihat lebih tua dari usia sebenarnya, dan efek tersebut makin besar seiring waktu.
Hubungan itu tetap signifikan bahkan setelah peneliti mengendalikan faktor-faktor lain, seperti pendapatan, kesehatan umum, dan tingkat stres dari sumber lain.
Artinya, problematikanya tidak cuma menyerang orang miskin tetapi juga orang kaya. Siapa pun yang mengalami stres karena uang akan mengalami penuaan lebih cepat ketimbang orang seusianya.
Para peneliti menduga, penuaan tersebut berkaitan dengan respons stres kronis dalam tubuh, terutama peningkatan kadar kortisol, yang diketahui berdampak pada kondisi kulit dan rambut. Studi lain yang dikutip oleh penelitian tersebut menemukan peningkatan kadar kortisol pagi hari berkaitan dengan tampilan wajah lebih tua.
Kita Makin Mudah Depresi, Cemas, dan Marah
Namun, stres finansial tidak hanya mengubah penampilan seseorang secara fisik. Ia juga mengubah mental dan emosional. Sebuah survei nasional terhadap 3.977 warga lansia Kanada berusia 65 hingga 85 tahun menemukan, tekanan finansial secara signifikan berkaitan dengan meningkatnya gejala depresi, kecemasan, dan kemarahan.
Penelitian tersebut dilakukan antara 2021 dan 2022, tepat ketika inflasi melonjak di banyak negara sehingga para peserta benar-benar mengalami peningkatan tekanan finansial selama periode pengamatan.
Stres finansial bekerja secara perlahan dalam memengaruhi pikiran. Ia terlebih dahulu menggerogoti hal mendasar, yaitu rasa kendali atas hidup, yang dalam psikologi sosial disebut mastery, dan harga diri atau self-esteem.
Ketika merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, seseorang mulai merasa hidupnya berada di luar kendalinya. Akibatnya, depresi, kecemasan, dan kemarahan, menjadi jauh lebih mudah muncul.
Kecemasan merupakan dampak paling kuat. Para peneliti menduga hal itu terjadi karena tekanan finansial menciptakan beban kognitif berkelanjutan. Ketika pikiran terus berputar memikirkan tagihan, masa depan, serta kemungkinan-kemungkinan terburuk, otak seperti kehilangan tombol "off".

Masalah Finansial Menurunkan Fungsi Otak Kita
Usai menyebabkan depresi, kecemasan, dan kemarahan, stres finansial akhirnya dapat menurunkan fungsi otak. Studi yang menggunakan data dari Health and Retirement Study di AS—mencakup 7.676 orang dewasa berusia di atas 50 tahun yang dipantau dari 2010 hingga 2020—menemukan bahwa memburuknya kesejahteraan finansial berkaitan dengan penurunan fungsi memori lebih cepat.
Dalam riset itu, para peneliti membangun indeks kesejahteraan finansial dari delapan indikator, mulai dari kesulitan membayar tagihan, rendahnya rasa kontrol atas keuangan, ketidakpuasan finansial, hingga rendahnya pendapatan dan kekayaan.
Setiap satu poin penurunan dalam indeks tersebut dikaitkan dengan percepatan penurunan memori setara sekitar dua bulan penuaan otak per tahun. Bagi orang yang mengalami penurunan kesejahteraan finansial secara signifikan, angkanya lebih besar lagi, yakni setara dengan lima bulan tambahan penuaan otak per tahun.
Dampak tersebut paling dirasakan oleh orang berusia 65 tahun ke atas. Menurut para peneliti, itu terjadi karena lansia umumnya mengandalkan penghasilan tetap yang lebih kecil, seperti pensiun atau tabungan. Alhasil, ketika kondisi finansial memburuk, ruang geraknya untuk pulih jauh terbatas.
Kombinasi stres berkepanjangan, berkurangnya akses ke gaya hidup sehat, dan beban kognitif akibat kekhawatiran terus-menerus, membuat otak terbebani.
Satu Masalah Memantik Seribu Problem Lain
Tak cuma fungsi otak, penurunan fungsi juga bisa dirasakan tubuh secara keseluruhan akibat stres finansial.
Studi terbitan jurnal Ageing and Societymengamati lebih dari 15.733 orang dewasa berusia 50 tahun ke atas di Inggris selama hampir 15 tahun. Para peneliti tidak hanya melihat kekayaan atau pendidikan, melainkan membangun indeks bernama "Later Life Precarity Index" yang merangkum berbagai bentuk kerentanan yang dihadapi lansia, mulai dari masalah finansial, ketiadaan dana pensiun, kondisi perumahan yang buruk, tinggal sendirian, hingga beban merawat anggota keluarga tanpa bayaran.
Hasil penelitiannya, orang-orang dengan skor prekaritas (kerentanan) yang tinggi menunjukkan tingkat kerapuhan fisik jauh lebih buruk. Mereka yang menanggung beban terberat dari berbagai tekanan sosial dan finansial memiliki skor kerapuhan setara dengan rata-rata peningkatan yang dialami perempuan antara usia 50 hingga 80 tahun. Dengan kata lain, penuaan yang dialami setara dengan penuaan selama 30 tahun dalam rentang waktu hanya 15 tahun, alias dua kali lebih cepat dari seharusnya.
Yang membuat temuan tersebut makin kuat adalah fakta bahwa indeks prekaritas itu jauh lebih baik dalam memprediksi kerapuhan dibandingkan ukuran konvensional.
Artinya, jika ingin memahami alasan sebagian orang menua lebih cepat daripada yang lain, kita akan lebih banyak mendapatkan jawabannya dengan cara menelisik kondisi perumahan, akses pangan, dan beban perawatan, daripada sekadar soal seberapa kaya atau seberapa berpendidikan mereka.
Secara statistik, indeks prekaritas mampu menjelaskan 39,3 persen perbedaan tingkat kerapuhan antar-individu, dibandingkan hanya 22,8 persen oleh model yang hanya mempertimbangkan kekayaan dan pendidikan. Adapun risiko yang paling menonjol adalah yang berkaitan dengan perumahan, kerawanan pangan, dan kemiskinan energi.
Semua penelitian itu memang bersifat observasional. Para penelitinya juga mengingatkan bahwa hubungan sebab-akibatnya sulit dibuktikan secara mutlak. Namun, temuan dari berbagai studi dengan metode berbeda, di berbagai negara, dengan sampel besar dan periode pengamatan yang panjang, semuanya menunjuk ke arah sama. Bahwasanya kesulitan finansial yang berakibat pada stres finansial berefek negatif bagi manusia, baik dari sisi psikologis maupun fisik.
Maka, ketika rupiah melemah, harga-harga naik, dan lapangan kerja tidak kunjung terbuka, yang diam-diam tercipta adalah ancaman kesehatan jangka panjang yang mengancam banyak sekali orang Indonesia. Efeknya mungkin tidak akan langsung terasa atau terlihat. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, stres finansial akan menurunkan kualitas hidup orang Indonesia secara luas.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





























