tirto.id - Energi laut sebenarnya bisa dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan warga. Hal ini didukung dengan kondisi Indonesia dengan potensi cukup besar hingga dapat memberikan andil dalam menciptakan energi terbarukan.
Menurut catatan Badan Informasi Geospasial (2024) yang dikutip melalui laman Badan Geologi (13/8/2025), Indonesia merupakan negara kepulauan dan dilengkapi lebih dari 70% wilayah laut.
Sebanyak 17.380 pulau berada di wilayah Indonesia. Situasi ini membentuk bentangan selat di antara pulau-pulau dengan garis pantai sepanjang 99.093 kilometer. Alhasil, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.
Energi laut Indonesia terbilang melimpah, dengan wilayah laut dan garis pantai yang membentang sangat panjang. Jika dimanfaatkan secara maksimal, Indonesia bisa saja memiliki potensi sumber daya energi baru terbarukan (EBT) kelautan, sekaligus menjadi sumber pembangkit listrik.

Bentuk-Bentuk Energi Laut
Energi laut diartikan sebagai sumber energi terbarukan yang berasal dari fenomena alam yang terjadi di laut. Sumber energi itu mencakup gerakan dan sifat fisik.
Secara umum, energi laut dikategorikan menjadi lima jenis. Daftarnya mencakup energi arus laut, energi gelombang laut, dan energi pasang surut. Lalu energi yang memanfaatkan suhu air laut dan energi yang memanfaatkan perbedaan salinitas.
Energi arus laut adalah sumber daya energi yang memanfaatkan energi kinetik dari perpindahan massa air secara horizontal atau vertikal. Sementara energi gelombang laut merupakan sumber daya energi yang memanfaatkan gerakan naik-turunnya gelombang laut menjadi listrik.
Penjelasan mengenai energi pasang surut bisa dimaknai sebagai sumber daya energi yang memanfaatkan energi potensial dari perpindahan massa air secara vertikal akibat perbedaan ketinggian air pada saat pasang dan surut.
Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) termasukenergi yang memanfaatkan perbedaan suhu antara air permukaan laut yang hangat dan air di kedalaman yang dingin. Selain itu, terdapat energi yang memanfaatkan perbedaan salinitas (salinity gradient).

Potensi Energi Laut di Indonesia
Indonesia memiliki empat jenis atau bentuk energi laut. Di antaranya energi arus laut, energi gelombang laut, energi pasang surut, dan energi panas laut (OTEC).
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2007 tentang Energi telah mencantumkan gerakan air laut dan perbedaan suhu lapisan laut ke dalam jenis sumber EBT.
Melansir laman resmi Sucofindo(24/6/2026), gelombang laut memiliki potensi EBT yang bisa menandingi sinar matahari. Pasalnya, air laut mempunyai sifat tidak akan habis, sehingga cenderung bisa dimanfaatkan dalam kurun waktu yang lama.
Gelombang laut menghasilkan energi yang berasal dari perpindahan alami dari angin ke gelombang yang terjadi saat angin bertiup di atas air laut. Proses ini menghasilkan daya yang disebut sebagai fluks energi gelombang.
Selain itu, gelombang laut juga mempunyai densitas energi dan daya yang besar. Jika dibandingkan dengan energi angin, meski mengadaptasi konsep atau cara kerja yang sama, gelombang laut memiliki energi dengan densitas daya empat kali lebih tinggi.

Selain itu, faktor pemanfaatan dari energi gelombang laut juga tinggi dan sumber daya bisa diprediksi. Belum lagi, emisi karbon yang dihasilkan dari energi gelombang laut pun lebih rendah daripada pembangkit listrik non-terbarukan, yaitu 6g CO2/kWh daripada 250g CO2/kWh.
Masih berdasarkan sumber yang sama, dijelaskan bahwa berdasarkan laporan penelitian National Oceanic and Atmospheric Administration selama 21 tahun terakhir, laut di wilayah Indonesia memiliki gelombang dengan tinggi 2 meter dan rata-rata periode gelombang selama 12 detik.
Di wilayah Jawa, Nusa Tenggara, hingga Bali, area laut yang potensial terletak di Yogyakarta, Cilacap, Bali, dan Jember. Potensi energi gelombang laut mencapai lebih dari 40 kW/m.
Sementara itu, potensi energi gelombang laut berada di skala menengah, mulai dari 20 hingga kW/m, bisa ditemukan di Lombok, Sumba, Trenggalek, sampai Cianjur.
Jika dihitung secara menyeluruh, potensi energi gelombang laut Indonesia bisa mencapai 1,49 TW. Sebanyak 10 kW/m menjadi fluks energi gelombang minimum untuk 40% garis pantai di Indonesia.

Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir Badan Informasi Geospasial (BGPGP BIG) (3/3/2021) turut mencatat potensi energi terbarukan dari gelombang laut sebagai alternatif. Energi alternatif diklaim bisa mengurangi penggunaan energi fosil yang penggunaannya masih masif dan berpotensi habis di masa mendatang.
Energi terbarukan termasuk energi bersih yang bisa menggantikan energi fosil. Selain itu, dampak energi terbarukan tentunya lebih baik bagi lingkungan, karena minim emisi, termasuk emisi karbon.
Sumber energi alternatif ini sekaligus bisa dimanfaatkan masyarakat pesisir untuk mendapatkan listrik yang belum terlayani oleh Perusahaan Listrik Negara. Hal ini juga karena pasokan listrik ke sejumlah daerah dan pulau-pulau terpencil dinilai belum merata.
Dalam catatannya, berdasarkan potensi dari berbagai jenis energi, energi laut bisa mampu menghasilkan setidaknya 17,9 GW. Tak hanya itu, BGPGP BIG juga menghitung segi biaya berdasarkan tarif per kWh untuk tiap jenis energi.
Energi arus laut membutuhkan Rp1.268/kWh. Sedangkan energi gelombang laut memerlukan Rp1.709/kWh. Biaya energi pasang surut mencapai Rp2.048/kWh. Untuk energi dari perbedaan suhu air laut, kebutuhannya adalah Rp4.030/kWh.

Menurut catatan Badan Geologi Kementerian ESDM pada 13 Agustus 2025, Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan (BBSPGL), Badan Geologi, telah melakukan studi potensial energi laut di seluruh wilayah perairan Indonesia.
BBSPGL melakukan survei dan pemetaan lokasi potensi energi laut. Rinciannya terdiri dari 17 lokasi potensi untuk energi arus laut, 3 lokasi potensi energi gelombang laut, serta 2 lokasi potensi panas laut.
Sementara itu, hasil studi potensi yang telah dilakukan Badan Geologi dengan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) dan berbagai instansi lainnya, menunjukkan bahwa potensi energi laut praktis Indonesia mencapai sekitar 63 GW.
Potensi energi laut itu mencakup energi arus laut, energi gelombang laut, dan energi panas laut. Ini menjadikan Indonesia sebenarnya memiliki potensi sumber daya EBT kelautan yang melimpah. Pemanfaatan, salah satunya, bisa dijadikan sebagai pembangkit listrik yang besar.
Tantangan Pemanfaatan Energi Laut di Indonesia
Berbagai tantangan dan kendala turut dihadapi dalam pengembangan dan pemanfaatan energi laut di Indonesia. Hingga saat ini, perhitungan potensi tersebut masih bersifat teoretis, teknis, dan praktis.
Setidaknya perlu data potensi sampai yang bersifat aksesibel dan viabel. Gunanya untuk memastikan potensi energi laut di Indonesia bisa dimaksimalkan dan layak secara ekonomi.
Demi memperoleh data potensi yang bersifat aksesibel dan viabel, dibutuhkan peningkatan kualitas dan kuantitas data potensi yang lebih akurat, mengikuti standar yang berlaku, serta dilakukan secara periodik.

Sejumlah kendala secara rinci pernah disampaikan Badan Geologi. Semisal data potensi energi laut yang belum lengkap dan belum dimanfaatkan secara optimal. Termasuk teknologi pembangkit listrik energi laut di Indonesia dianggap masih dalam tahap riset dan industri energi laut belum disiapkan.
Biaya pembangkit listrik energi laut juga masih terbilang relatif tinggi dan belum dapat bersaing dengan sumber energi fosil ataupun sumber EBT lainnya. Lalu belum ada regulasi yang jelas mengenai pemanfaatan energi laut sebagai pembangkit listrik.
Kendala lain dalam rangka pemanfaatan energi laut di Indonesia adalah belum ada data hasil studi interkoneksi sistem kelistrikan PLN dalam menerima pembangkit listrik energi laut yang sifatnya intermittent. Selain itu,fasilitas dan industri pendukung energi laut juga tak kunjung terpetakan.
Pembaca dapat mengakses artikel mengenai energi terbarukan melalui tautan berikut ini:
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































