Menuju konten utama

Megafauna Asia Tenggara Menipis akibat Kembalinya Hutan Tropis?

Benarkah kepunahan megafauna di Asia Tenggara disebabkan oleh pulihnya hutan hujan? Simak penjelasannya di sini.

Megafauna Asia Tenggara Menipis akibat Kembalinya Hutan Tropis?
Ilustrasi Badak. FOTO/IStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wilayah Asia Tenggara pernah memiliki berbagai spesies megafauna atau hewan berukuran besar. Namun, eksistensinya kian menipis karena berbagai faktor.

Hingga hari ini, sebagian besar orang percaya bahwa punahnya beberapa spesies dari zaman purba, termasuk megafauna, adalah karena diburu oleh manusia. Namun, kondisi alam turut andil dalam punahnya sebagian megafauna tersebut.

Saat ini, satwa langka yang tersisa, seperti badak, tapir, hingga gajah dan harimau, juga terancam punah. Mereka adalah beberapa dari sekian hewan yang tersisa dari kehidupan masa lampau.

Situs Mongabay (15/12/2019) menyebut, wilayah Asia Tenggara mengalami penurunan satwa liar yang benar-benar tajam dibandingkan tempat lain dengan area wilayah dunia lain. Bahkan, data dari Daftar Merah IUCN memperlihatkan, Asia Tenggara menonjol karena banyaknya spesies yang teridentifikasi dengan status terancam.

Namun, sesuatu menarik terjadi berkaitan dengan hutan hujan tropis. Wilayah Asia Tenggara tercatat berada di bentang 28° LU–11° LS dan 93° BT–141° BT.

Sebagian besar wilayah Asia Tenggara memiliki iklim tropis yang panas dan lembap sepanjang tahun dengan curah hujan yang melimpah. Hutan hujan di wilayah ini adalah salah satu yang terbesar di bumi.

Itulah yang menyebabkan wilayah Asia Tenggara memiliki hewan-hewan yang sangat beragam. Sebagian di antaranya bahkan tergolong satwa endemik yang langka.

Namun, kondisi hutan hujan tropis di wilayah Asia Tenggara ternyata sempat mengalami perubahan. Sebuah studi yang dikabarkan Science Daily (7/10/2020), yang diterbitkan di jurnal Nature, menyebut bahwa wilayah Asia Tenggara sebelumnya adalah padang rumput.

Kondisi tersebut berkaitan dengan kepunahan megafauna yang pernah hidup di Asia Tenggara sebelum wilayah ini berubah didominasi hutan hujan tropis.

Apa Saja Megafauna yang Sempat Ada di Asia Tenggara?

Ilustrasi Hutan lindung

Ilustrasi Hutan lindung. ANTARA FOTO/Ampelsa

Peneliti dan ilmuwan dari Departemen Arkeologi di MPI-SHH di Jerman dan Pusat Penelitian Evolusi Manusia Australia di Universitas Griffith, sebagaimana diberitakan Science Daily, meneliti catatan isotop stabil pada gigi mamalia modern dan fosil.

Dari penelitian tersebut, peneliti bisa merekonstruksi apakah hewan-hewan di masa lalu sebagian besar memakan rumput atau dedaunan tropis. Tak hanya itu, penelitian itu juga bisa mengungkap kondisi iklim pada saat mereka hidup.

Data isotop yang dikumpulkan, mencakup periode Pleistosen (2,6 juta tahun lalu) dan menambahkan lebih dari 250 pengukuran baru mamalia modern Asia Tenggara yang mewakili spesies yang belum pernah dipelajari dengan cara ini sebelumnya.

Hasilnya, penelitian itu menunjukkan bahwa hutan hujan mendominasi wilayah dari Myanmar hingga Indonesia selama awal Pleistosen. Namun,wilayah tersebut digantikan oleh lingkungan padang rumput.

Padang rumput itu mencapai puncaknya sekitar 1 juta tahun lalu. Kondisi ini mendukung komunitas besar hewan pemakan rumput seperti Stegodon yang mirip gajah.

Tak hanya itu, padang rumput juga memungkinkan kerabat hominin terdekat Homo sapiens untuk berkembang. Hewan lain yang juga tercatat sempat hidup di ekosistem tersebut, yakni kera terbesar, Gigantopithecus

The Conversation (9/10/2020) mencatat, hewan-hewan megafauna lain yang hidup saat itu, yakni serow atau binatang yang mirip kambing. Kemudian, ada pula goral yang juga bertubuh mirip kambing atau antelop.

Namun, penurunan luas padang rumput memengaruhi kehidupan fauna yang hidup saat itu. Mereka kehilangan tempat tinggal yang mendoroang terjadinya kepunahan.

Penyebab Beberapa Jenis Megafauna Asia Tenggara Punah

Terkait penyebab punahnya megafauna di Asia Tenggara, terdapat pendapat yang berbeda-beda. Salah satunya, yakni kedatangan manusia ke pulau-pulau baru selama lebih dari 60.000 tahun terakhir.

Manusia terlalu banyak berburu dan mengubah habitat. Inilah yang menyebabkan cepatnya laju kepunahan megafauna Asia Tenggara.

Namun, para peneliti lain juga berpendapat bahwa perubahan iklim turut menjadi penyebab kepunahan megafauna tersebut. Sementara itu, sebagian lain mengatakan bahwa keduanya, manusia dan iklim, sama-sama memberi pengaruh.

Kendati demikian, The Conversation telah merunut kondisi hutan yang berubah-ubah setiap zaman. Menurut catatannya, selama 1,5 juta tahun pertama (Pleistosen), bagian utara Asia Tenggara sebagian besar adalah hutan, sedangkan bagian selatan adalah hutan atau padang rumput.

Kemudian, sekitar 1 juta tahun lalu atau 500.000 tahun berselang, hutan mulai menyusut di mana-mana. Padang rumput pun mulai mendominasi wilayah tersebut.

Megafauna beradaptasi dengan hutan, seperti Gigantopithecus atau kera besar. Sedangkan, panda besar relatif menghilang dari wilayah utara Asia Tenggara.

Berangsur-angsur, sekitar 600.000 tahun kemudian atau 400.000 tahun yang lalu, Paparan Sunda Asia Tenggara mulai tenggelam dan siklus iklim mulai berubah. Saat itulah kondisi hutan kembali pulih.

Namun, perubahan atau pulihnya kondisi kembali menjadi hutan hujan menyebabkan beberapa spesies yang telah beradaptasi dengan padang rumput turut punah atau menghilang di ujung era Pleistosen. Di antaranya, seperti hyena (anjing hutan) raksasa, stegodon, bovid, hingga Homo Erectus.

Sementara itu, hewan-hewan besar lainnya berpindah ke hutan hujan. Mereka bisa kembali beradaptasi dan ada hingga saat ini.

Jenis-Jenis Megafauna yang Tersisa di Asia Tenggara

Kelahiran bayi badak sumatra di Suaka Rhino Sumatera TNWK

Seekor induk badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) Ratu (23) menemani anaknya berjenis kelamin betina yang baru lahir di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas (SRS TNWK), Lampung Timur, Lampung, Sabtu (30/9/2023).ANTARA FOTO/HO/Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/Lmo/tom.

Megafauna yang bisa beradaptasi dengan perubahan dari kondisi padang rumput menjadi hutan hujan di wilayah Asia Tenggara sekitar 400.000 tahun lalu bisa dibilang terselamatkan dari kepunahan. Namun, saat ini mereka justru kembali mengalami krisis ruang hidup.

Jika kepunahan megafauna Asia Tenggara sebelumnya adalah karena pulihnya hutan hujan tropis, kini kepunahan selanjutnya yang mengancam mereka justru adalah hilangnya hutan. Masalah utamanya adalah deforestasi dan pelakunya tak lain ialah manusia.

Tak hanya itu, megafauna yang tersisa di Asia Tenggara juga masih harus menghadapi tindakan manusia yang memang memburunya sebagai satwa langka. Ini semakin memperparah kelangkaan dan mengancam kelestarian satwa.

Hingga saat ini, masih ada megafauna yang tersisa di Asia Tenggara. Penelitian Tariq Mahmood, dkk. berjudul “Historical and Current Distribution Ranges and Loss of Mega-herbivores and Carnivores of Asia” (2021) turut menyebutkan megafauna apa saja yang masih ada sebagai berikut.

Gajah Asia

Pada masa sejarah, gajah asia juga menyebar ke Asia tenggara. Saat ini, distribusi International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan spesies ini tersebar di wilayah yang lebih kecil, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Badak Jawa

Dulunya, spesies ini tersebar dari Jawa dan Sumatra hingga India melalui Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Tiongkok Selatan, Myanmar, Bangladesh, Bhutan, dan Nepal. Kini, badak jawa hanya ditemukan di Semenanjung Ujung Kulon di Jawa.

Badak Sumatra

Badak Sumatra, menurut catatan distribusi historis, tercatat tersebar dari Sumatra dan Kalimantan hingga kaki pegunungan Himalaya di Bhutan melalui Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Tiongkok selatan, Myanmar, dan India timur laut.

Tapir Asia/Melayu

Saat ini tapir asia telah punah di Cina, Kamboja, Vietnam, Laos, dan India. Spesies ini hanya terdapat di 96 kawasan lindung.

Harimau

Secara historis, harimau tersebar luas di seluruh Asia, dari Turki di barat melalui Asia Selatan dan Tenggara hingga pantai timur Rusia, dalam bentuk 9 subspesies yang hanya 6 yang masih bertahan hingga saat ini.

Baca juga artikel terkait SATWA LANGKA atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora