tirto.id - Keberadaan badak Kalimantan atau Bornean rhinoceros (nama ilimiahnya: Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) kritis alias di ambang kepunahan. Tercatat, hanya dua ekor badak Borneo yang masih ada dan keduanya betina. Opsi bayi tabung menjadi pilihan darurat yang logis demi menjaga populasi jenis badak terkecil di dunia ini.
Tersisa hanya dua ekor betina tentu tidak memungkinkan bagi badak Kalimantan untuk berkembang biak secara alami. Kedua badak Kalimantan itu bernama Pahu dan Pari Mahulu, yang sama-sama hidup di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.
Pahu berada dalam pengawasan ketat di Suaka Badak Kelian, Kabupaten Kutai Barat. Sedangkan Pari Mahulu masih hidup bebas di alam liar, yakni di hutan pedalaman Kabupaten Mahakam Ulu.
Pihak-pihak terkait sedang menyiapkan rencana translokasi (pemindahan) Pari dari alam liar untuk disatukan dengan Pahu di suaka penangkaran.
Badak Termungil dan Penyendiri
Jika dilihat dari nama ilmiahnya, badak Kalimantan merupakan subspesies dari badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis).
Secara umum, jenis badak terkecil di dunia adalah badak Sumatra. Faktanya, badak Kalimantan yang merupakan subspesies badak Sumatra ternyata memiliki tubuh yang jauh lebih mungil lagi.
Sebagai perbandingan, Pahu, badak Kalimantan yang hidup di Kutai Barat, punya berat badan 320 kg Saat pertama kali masuk hutan lindung. Berkat asupan nutrisi yang tercukupi, berat badan Pahu bertambah menjadi 366 kilogram.
Namun, penambahan berat badan Pahu itu ternyata masih jauh dari badak Sumatra yang bobotnya bisa mencapai 600 kilogram, hampir dua kali lipat.
Bahkan, sebagai gambaran, apabila dibandingkan dengan jenis badak lain di dunia, badak Sumatra apalagi badak Kalimantan terbilang sangat kecil. Badak Putih Afrika, misalnya, beratnya bisa mencapai 2.300 kilogram alias 2,3 ton!

Dilihat dari postingan akun Instagram resmi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, struktur tulang dan dimensi tubuh badak Kalimantan juga lebih pendek dengan tinggi bahu berkisar antara 1 hingga 1,2 meter. Ini menjadikan badak Borneo tampak seperti badak versi miniatur atau kerdil (pygmy).
Badak Kalimantan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan jenis badak yang lain, antara lain bercula dua dan berambut di lipatan kulit pangkal paha, pinggang, hingga pangkal kaki depan, serta bahu.
Sayangnya, upaya menambah populasi badak Kalimantan tidak mudah, terlebih kini yang diketahui hanya tersisa 2 ekor saja, itu pun betina semua.
Selain itu, badak adalah hewan yang soliter alias penyendiri, punya indera penciuman yang kuat sehingga selalu menghindar atau bersembunyi jika mencium aroma asing.
Ancaman Nyata Kepunahan Badak Kalimantan
International Union For Conservation of Nature (IUCN) menetapkan badak Kalimantan dalam daftar merah satwa langka yang harus dilindungi. Meskipun merupakan subspesies badak Sumatra, hewan mamalia ini merupakan binatang endemik asal Kalimantan dan pernah tersebar luas di berbagai kawasan di Pulau Borneo.
"Badak ini (pernah) ada di seluruh daratan Kalimantan. Bahkan bisa dibilang, mereka adalah penduduk asli Kalimantan yang sudah ada sejak zaman dulu," kata Kepala Resort Konservasi Suaka Badak Kelian, Jono Adiputro, dikutip dari laman Diskominfo Kaltim, Jumat (23/9/2022).
"Hampir di seluruh wilayah Kaltim disinyalir menjadi sebaran habitat satwa badak. Bahkan sampai ke wilayah Sabah, Malaysia," lanjutnya.
Badak Kalimantan sebenarnya sempat diduga telah punah alias sudah tidak ada sejak beberapa dekade yang lalu, hanya tinggal cerita rakyat Dayak. Namun, beberapa kali masyarakat lokal melaporkan telah melihat tanda-tanda keberadaan badak tersebut.
Upaya pencarian pun dilakukan pada 2013 oleh tim gabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Mahakam Ulu, Universitas Mulawarman (Unmul), Yayasan Badak Indonesia (YABI), serta WWF Indonesia.
Hingga akhirnya, dari alat dokumentasi yang dipasang, terlihat sosok badak Borneo yang konon sudah jadi legenda itu. Inilah badak Kalimantan yang kemudian diberi nama Pahu. Proses evakuasi Pahu lantas diupayakan sejak 2015 hingga berhasil dipindahkan ke Suaka Badak Kelian pada 2018.
Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, habitat badak Kalimantan berada sebagian besar di kawasan konsesi hutan produksi. Akibatnya, habitat terpecah oleh lahan kelola perusahaan. Kondisi ini mengganggu masa depan badak Borneo dan mengancam populasinya.
Sebaran populasi badak Kalimantan terkonsentrasi pada kantong-kantong habitat yang tersebar di Kutai Barat hingga Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Semula, populasi badak di sebaran kantong habitat yang teridentifikasi berkisar 7-15 ekor.
Angka tersebut merupakan perkiraan atau estimasi populasi potensial berdasarkan luas kantong habitat yang tersisa di Kutai Barat dan Mahakam Ulu, bukan jumlah individu yang fisiknya berhasil ditemukan satu per satu.
Tekanan antropogenik terhadap populasi badak Sumatera di Kalimantan menyebabkan habitat dan populasinya semakin menurun dan menjadi tidak viable. Artinya, populasi tersebut secara biologis sudah tidak mampu lagi mempertahankan eksistensinya di alam liar untuk jangka panjang.
Tak hanya itu, populasi badak Borneo mengalami penurunan drastis dalam waktu yang relatif singkat akibat habitat yang terfragmentasi oleh konsesi hutan besar-besaran di Kalimantan dan aktivitas manusia. Jumlah sebaran yang kecil di dalam satu titik lokasi menyulitkan badak saling bertemu untuk kawin.
Angka kelahiran yang amat rendah, kelainan reproduksi, dan perburuan liar atau poaching turut menambah faktor penyebab ancaman nyata kepunahan mamalia endemik Kalimantan ini, hingga tinggal menyisakan 2 ekor saja yang diketahui, yakni Pahu dan Pari.
Sebenarnya, ada satu badak Kalimantan lagi yang ditemukan. Pada 12 Maret 2016, badak Borneo yang diberi nama Najaq itu awalnya berhasil diamankan di sebuah lubang jebakan (pit trap) penyelamatan di kawasan hutan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Penemuan Najaq ini amat berkesan dan monumental. Untuk pertama kalinya, manusia bisa berinteraksi langsung serta mengamankan fisik badak Kalimantan setelah puluhan tahun hanya terdeteksi lewat jejak kaki dan rekaman kamera.

Sayangnya, Najaq ditemukan dalam keadaan luka yang cukup parah. Sebelum berhasil diamankan, kaki kiri belakang Najaq terjerat tali jebakan babi yang dipasang oleh pemburu liar dan itu berlangsung cukup lama. Akibatnya, kaki sang badak mengalami infeksi berat.
Meskipun tim dokter gabungan telah sekuat tenaga memberikan perawatan medis intensif, antibiotik, hingga vitamin demi kesembuhan Najaq, infeksi berat tersebut tidak bisa diobati lagi. Kurang dari sebulan setelah diselamatkan, Najaq dinyatakan mati pada 5 April 2016.
Kisah sedih Najaq menjadi salah satu contoh betapa cepatnya populasi badak Kalimantan di tanah Borneo bisa berkurang dalam beberapa tahun terakhir akibat berbagai faktor.
Maka itu, penyelamatan dan konservasi menjadi pilihan terbaik yang harus dilakukan meskipun sejumlah pihak tetap berusaha menyelidiki populasi yang mungkin masih tersisa tiga kawasan di dataran Borneo, yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Bayi Tabung Satu-satunya Solusi Saat Ini
Lantaran yang terdata menyebutkan hanya tinggal 2 ekor saja badak Kalimantan yang tersisa, dan keduanya betina, upaya non-alami pun dimunculkan sebagai opsi untuk mempertahankan populasi si mungil ini.
Jika memang benar kondisinya seperti itu, program bayi tabung atau Assisted Reproductive Technology (ART) dengan metode In Vitro Fertilization (IVF) menjadi satu-satunya harapan terakhir untuk menyelamatkan badak Kalimantan dari kepunahan total.
Skenarionya, para ahli veteriner mengambil sel telur (oosit) langsung dari ovarium badak Kalimantan betina yang tersisa, yaitu Pahu dan Pari. Proses pengambilan sel telur Pahu sudah dilakukan di Suaka Badak Kelian. Namun, karena usianya yang sudah tua, kualitas sel telur Pahu terus menurun.
Pari sebenarnya berusia jauh lebih muda dan secara fisik terdata sehat. Hanya saja, Pari masih hidup di alam liar sehingga masih terus diusahakan untuk bisa dipindahkan ke suaka.
Sementara sperma yang akan membuahi sel telur badak Kalimantan betina diambilkan dari badak Sumatra jantan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Perkawinan silang antar-subspesies ini secara biologis sangat memungkinkan karena keduanya masih tercatat sebagai satu spesies.
Pembuahan sel telur dan sperma dilakukan di laboratorium canggih milik Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat. Dengan metode khusus, yakni Intraceutical Sperm Injection (ICSI), proses pembuahan dilangsungkan hingga membentuk embrio badak,
"Selain pengambilan sel telur, kami pun mengoleksi sampel material biologi dan genetik lainnya dari Badak Pahu, seperti jaringan kulit dan darah. Kami akan proses di laboratorium ART dan Biobank kami di Bogor, Jawa Barat,” kata dokter hewan yang menjadi Ketua Tim ART IPB, Muhammad Agil, dilansir Antara, Rabu (1/11/2023).

Jika proses pembuahan embrio berjalan lancar, embrio badak Pahu akan dititipkan ke rahim badak betina di Way Kambas sebagai induk titip atau induk pengganti (surrogate mother) hingga melahirkan. Alasannya, tubuh badak Kalimantan yang terlalu kecil bisa berisiko selama mengandung nanti.
Tantangan selanjutnya adalah usaha pemindahan Pari yang masih hidup di alam liar pedalaman Mahakam Ulu ke Suaka Badak Kelian. Terbaru, dalam rapat koordinasi pada 9 Juni 2026, telah disepakati skenario evakuasi Pari menggunakan jalur udara dengan helikopter.
"Kami tidak main-main dengan akuntabilitas dan keamanan saat membawa Pari. Setiap langkah, mulai dari pemilihan vendor hingga pembuatan perangkap, diatur dengan standar internasional," ungkap Kurnia Oktavia Khairani dari Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert) yang resmi terlibat dalam proses evakuasi Pari.
"Kami juga menyusun aturan komunikasi yang jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan," imbuhnya dikutip dari Antara.
Di habitat aslinya, tim gabungan rutin melakukan survei serta pemantauan pergerakan Pari. Ini dilakukan untuk memastikan posisi Pari tetap berada di area pantauan sebelum tindakan evakuasi.
Masyarakat adat setempat pun mendukung upaya evakuasi Pari. Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur, Victor Juan, menyatakan, pelestarian badak Borneo merupakan tanggung jawab bersama.
"Hutan dan isinya adalah bagian dari kehidupan masyarakat adat. Karena itu kami mendukung penuh agar satwa ini tidak punah sehingga keseimbangan alam tetap terjaga," tegas Juan.
Secercah harapan mulai terlihat, bahkan semakin terang. Jika proses bayi tabung dari sel telur Pahu -juga skenario serupa untuk Pari setelah dievakuasi- berjalan lancar, bukan mustahil badak Kalimantan akan benar-benar selamat dari kepunahan total.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id






























