tirto.id - Bagi banyak manusia, membunuh hewan bukanlah masalah besar. "Toh, mereka nggak bisa mikir dan nggak punya hati. Yang penting mereka bermanfaat buat manusia," begitu kira-kira isi kepala orang-orang berpola pikir antroposentris.
Hal itu bisa dilihat dari banyaknya kasus pembunuhan terhadap hewan demi keuntungan manusia belaka. Dari yang ilegal seperti perburuan liar--biasanya berujung pada perdagangan komoditas hewan--hingga pembasmian secara tidak langsung dengan cara membabat habitatnya.
Pada awal 2025 lalu, misalnya, kasus perdagangan cula badak Jawa naik ke persidangan. Itu bermula dari kasus transaksi perdagangan cula badak Jawa hasil perburuan liar di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Tanpa dijelaskan pun kita seharusnya tahu bahwa kegiatan itu melibatkan pembunuhan terhadap satwa.
Namun, di mata hukum, kasus yang melibatkan Liem Hoo Kwan Willy itu tidak tergolong "kasus besar", jika dibandingkan pembunuhan terhadap manusia lain, misalnya. Willy, toh, hanya divonis setahun penjara. Ia bahkan sempat divonis bebas lantaran dianggap tak cukup bukti.
Di Palembang, kasus serupa juga terjadi. Kali ini tak cuma badak, tetapi juga gajah. Saat tepergok, pihak berwenang menemukan barang bukti berupa delapan cula badak dan pipa gading gajah. Vonis akhirnya adalah empat tahun penjara bagi tersangka, yang ditulis inisial oleh pihak berwajib, yakni ZA (60).
Itu baru kasus pembunuhan terhadap satwa liar yang ketahuan. Belum menyoal kejadian di lingkungan sehari-hari terhadap hewan domestik, seperti kucing atau anjing. Kasus pembunuhan secara tidak langsung dengan cara pembabatan habitat juga sama besarnya.
Melihat itu, apakah kita benar-benar mengamalkan perkataan René Descartes dalam Discourse on the Method (1637: 19), "Je pense, donc je suis 'aku berpikir, maka aku ada,'" sehingga eksistensi hewan dan makhluk lainnya yang tak berakal tidak kita akui? Ataukah itu dalih belaka sebab pada dasarnya kitalah yang serakah dan nirempati?
Lalu, apakah benar kita bisa mengabaikan nyawa hewan karena meyakini bahwa mereka tak berperasaan sehingga tak bisa berduka? Jika iya, sudah jelas bahwa kita perlu belajar lagi dan lagi.
Ziarah Gajah di Atas Jasad Sesamanya
Di antara semua mamalia darat, gajah merupakan hewan paling perasa, terutama dalam hubungan sosial dan—sesuatu yang akhirnya berujung—duka. Mereka memiliki kapasitas otak yang besar dan kemampuan sosial tinggi.
Contoh paling mudah adalah perilaku mengayomi yang ditunjukkan oleh induk gajah, terutama untuk melindungi anak-anaknya dari bahaya predator atau perkelahian agresif antarsesama.
Namun, empati itu tak hanya ditunjukkan kepada anaknya. Gajah kerap kali juga mengirimkan pesan dengan jangkauan sangat jauh kepada kawannya. Komunikasi itu pula yang membuat mereka mengetahui kondisi satu sama lain, meski terpisah berkilo-kilo meter jauhnya. Lain lagi ketika bertemu temannya yang sedang stres, gajah lain biasanya mendekat, menyentuhnya dengan belalai, dan mengeluarkan suara lembut untuk menenangkan.

Sifat kekeluargaan itu pula yang membuat para konservator dan peneliti menemukan pola: saat ada gajah mati di alam liar, hal paling umum yang ditemukan adalah tulang berserakan. Itu bukan tanda keberadaan para pemangsa yang memakan dagingnya secara brutal; bukan pula indikasi perkelahian antar-pemangsa.
Menurut para ahli, itu adalah tanda bahwa gajah lain telah melewati daerah tersebut untuk "menyampaikan" belasungkawa. Serupa dengan perilaku manusia mengunjungi kuburan, gajah juga kerap kali menyambangi jasad gajah yang telah meninggal.
"Mereka menghabiskan banyak waktu menyentuh dan mencium tengkorak dan gading, meletakkan telapak kaki mereka dengan lembut di atasnya, dan juga mengangkatnya dengan belalai," kata McComb, psikolog hewan yang telah mempelajari gajah Afrika selama 25 tahun di Taman Nasional Amboseli, Kenya.
Joyce Poole, seorang konservasionis gajah berpengalaman, bahkan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang cara gajah berduka. Ketika seekor gajah mati tepat setelah lahir, sang induk menunggui anaknya selama dua hari. Selama itu pula ia diam, menciptakan kesunyian di sekitarnya, tetapi garang saat ada burung atau hyena hendak memangsa anaknya.
"Saya sangat terkejut dengan ekspresi wajah dan tubuhnya. Dia tampak sangat sedih. Rasanya seperti, 'Ya Tuhan, hewan-hewan ini berduka....' Itu sangat berbeda," ujarnya.
Apakah itu semata karena insting atau benar-benar pengalaman emosional?
Dalam studinya yang terbit di jurnal Priamtes (2020), George Wittemyer dan Shifra Z. Goldenberg menyimpulkan bahwa gajah memiliki ikatan kuat terhadap jasad sesamanya, bukan semata insting hewani. Tak peduli seberapa lemah hubungan sosial yang terbangun di antara mereka, gajah tetap berkecenderungan mengunjungi jasad tersebut.
Kedua peneliti itu menduga, ada hubungan antara kemampuan sosial gajah dan duka yang dirasakan. Menurut pengamatan Wittemyer, ketika seekor gajah berusia 55 tahun di Kenya mati, ada beberapa keluarga mengunjungi jasadnya.
Tidak sekadar mengunjungi, di antara mereka ada seekor betina yang mencoba mengangkat jasad tersebut sekuat tenaga agar bisa berdiri. Bahkan sampai gadingnya patah. Padahal, "para peziarah" tersebut tak memiliki hubungan keluarga dengan gajah yang mati itu.
Paus dan Lumba-Lumba yang Menggendong Jasad Anaknya
Pada medio 2010-an, Melissa A. L. Reggente dan kolega meneliti tujuh spesies paus (termasuk lumba-lumba) yang ditinggal mati anaknya. Studi yang terbit di Journal of Mammology itu menemukan, ketika ditinggal mati anaknya, induk paus akan menggendongnya selama beberapa waktu.
Dalam kejadian lain di Laut Merah, seekor lumba-lumba pemintal juga menunjukkan perilaku sama, yakni menggendong lumba-lumba yang telah mati menuju sebuah perahu. Ketika para penumpang mengangkat jasad tersebut ke dek, sekumpulan lumba-lumba lain tampak berenang mengelilingi perahu sebelum pergi.
Selain perilaku duka dalam bentuk menggendong anak ke sana ke mari, dalam catatan studi itu juga diceritakan, suatu kali, ada spesies paus pilot bermoncong pendek di Samudra Atlantik Utara terlihat seperti menunjukkan belasungkawa kepada kematian kawanannya. Ia membentuk lingkaran di sekitar paus dewasa yang tengah menemani sang jasad anaknya.
Pada 2019, kejadian yang sama terjadi di lepas pantai Washington, AS. Suatu hari, seekor paus orca, yang dinamakan J-35 Tahlequah oleh para konservator, melahirkan anak hanya untuk melihatnya mati. Ia hanya bisa merasakan kebahagian kelahiran anaknya selama setengah jam. Selepas itu, nyawa sang anak terenggut.
Pada waktu setelahnya, ia menggendong sang anak di atas kepalanya, membawanya berenang sejauh 1.600 kilometer, berhari-hari. Menurut para pengamat, arak-arakan kematian sang anak itu dilakukan setidaknya selama 17 hari.
"Hal ini mencerminkan ikatan yang sangat kuat yang dimiliki oleh hewan-hewan ini. Dan sebagai orang tua, Anda bisa membayangkan jenis tekanan emosional apa yang dialami oleh mereka ketika peristiwa ini terjadi," kata seorang peneliti, dilansir oleh Seattle Times.

Lolongan Serigala Tersebab Kematian Kawannya
Tak hanya gajah dan paus yang bisa berduka. Di daratan ada spesies hewan lain yang menunjukkan kedukaan, yakni serigala, hewan liar yang dianggap buas.
Pada 2009, seekor serigala merah, yang dikaregorikan sebagai hewan hampir punah, dirawat oleh Wolf Conservation Center. Ia dinamakan dengan simbol, yakni F1397. Di waktu itu pula ia dipertemukan dengan pejantan bernama M1566.
Sejak itu, keduanya bersama, melewati hari-hari penuh kasih sayang. Pada 2010, setahun setelah pertemuan pertama, mereka bahkan dikaruniai dua anak, yakni Moose dan Thicket.
Menjadi seorang ibu membuat F1397 menjadi lebih bersemangat. Ia berjibaku menjaga sang anak dari bahaya, termasuk dari para manusia yang mengobjektivikasi mereka dengan moncong-moncong kamera. Sembari itu, ia juga rajin mondar-mandir mengumpulkan sesuatu untuk digunakan sebagai perkakas memperkuat sarang.
Sayangnya, kebersamaan keluarga kecil itu sirna. Pada 2012, F1397 meninggal secara tak terduga.
Tak seperti yang dikira oleh banyak orang bahwa hewan tak punya perasaan, apalagi otak, serigala menunjukkan kesedihan dan duka mendalam.
Pada hari ketika F1397 meninggal, sang pejantan melolong tak seperti biasa. Di hari-hari lain, suaranya terdengar melengking dan berisik. Namun, saat itu, lolongan M1566 bernuansa kelam dan terdengar seram. Ia seperti memanggil pasangan hidupnya, yang sebenarnya telah mati.
M1566 terus melolong tanpa heti selama beberapa menit, berharap ada lolongan balasan dari sang betina. Sayangnya, tak pernah ada balasan. "Teriakan" sepihak yang memilukan itu pun perlahan mereda, seolah akhirnya ia menyadari bahwa dirinya kini benar-benar sendirian.
Studi yang ditulis oleh Friederike Range dan kolega memvalidasi apa yang disaksikan oleh para konservator di Wolf Conservation Center pada 2012. Ketika mencoba menelaah karakter lolongan serigala saat ditinggal mati kawan atau pasangannya, para peneliti menemukan, dari segi intensitas dan frekuensi, serigala lebih banyak melolong ketika ditinggal oleh kawanannya.
Lolongan serigala ketika berduka lebih merupakan pemberi sinyal terhadap sosok yang telah pergi. Mereka berharap sosok yang telah mati itu dapat menanggapi lolongannya. Singkatnya, ikatan sosial-lah yang membuat mereka lebih sering melolong saat ditinggalkan.
Walakin, para peneliti juga menyebut kemungkinan adanya pengaruh peningkatan stres terhadap serigala yang ditinggal mati. Ada perubahan signifikan terhadap kortisol ketika pasangan atau temannya dikeluarkan dari kawanan atau mati.
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id




























