Menuju konten utama

KSSK Sebut Sistem Keuangan Indonesia Terjaga Triwulan II 2026

Selain itu, perekonomian domestik juga masih menunjukkan ketahanan meski ketidakpastian global meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik dan pasar uang.

KSSK Sebut Sistem Keuangan Indonesia Terjaga Triwulan II 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan situasi keuangan negara pada konferensi pers APBN KiTa edisi Juli 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026). Kementerian Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga semester I 2026 mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), namun masih dalam kondisi terkendali. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang triwulan II 2026, meski ketidakpastian global kembali meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan gejolak pasar keuangan internasional.

Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut, keberhasilan untuk menjaga kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan didorong oleh eratnya koordinasi kebijakan antara pemerintah melalui Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan II 2026 tetap terjaga di tengah konflik geopolitik yang kembali meningkat, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas," katanya dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2026, di Kantor LPS, Jakarta Selatan, Senin (3/8/2026).

Selain itu, perekonomian domestik juga masih menunjukkan ketahanan. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan ketahanan sektor keuangan yang tetap terjaga.

Namun demikian, Purbaya mengakui bahwa tekanan global meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi, mendorong kenaikan harga minyak dunia, memicu volatilitas pasar keuangan, serta meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal ke negara berkembang.

Di Amerika Serikat, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve juga mempersempit ruang pelonggaran moneter global. Kondisi tersebut mendorong kembali fenomena flight to safety, tercermin dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan keluarnya sebagian modal dari negara berkembang.

"Memasuki Juli 2026, risiko global kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik Amerika Serikat dan Iran. Situasi di Selat Hormuz yang sempat membaik setelah interim deal antara AS dan Iran pada pertengahan Juni 2026 kembali terhambat pascareeskalasi intensitas perang antara AS dan Iran pada awal Juli," papar Purbaya.

Di tengah tekanan tersebut, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Update Juli 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3 persen pada 2026, dari sebelumnya 3,1 persen.

"Dengan perkembangan tersebut, risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan perlu terus diwaspadai untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi," tukas Purbaya.

Baca juga artikel terkait KINERJA PEREKONOMIAN INDONESIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher