Menuju konten utama

Respons Isu Sell Indonesia, Purbaya: Penulis Gak Tahu Keadaan RI

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa merespons tren Sell Indonesia di Bloomberg. Ia tegaskan fiskal RI aman dan jauh dari krisis 1998.

Respons Isu Sell Indonesia, Purbaya: Penulis Gak Tahu Keadaan RI
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026). Menteri Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencetak defisit sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per Mei 2026. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, merespons ulasan media internasional Bloomberg mengenai tren “Sell Indonesia” yang memicu sentimen negatif di pasar keuangan. Menurutnya, analisis yang dirilis tersebut tidak akurat karena sang penulis tidak memahami kondisi fundamental ekonomi dan kesehatan fiskal Indonesia yang sebenarnya.

“Itu tren Sell Indonesia saya baca di Bloomberg ya, itu salah satu penulis mungkin yang nggak tahu keadaan Indonesia seperti apa,” ujar dia, usai meninjau penumpukan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6/2026).

Purbaya memastikan, Indonesia tidak sedang menuju krisis dan krisis keuangan 1998 tidak akan terulang kembali. Sebaliknya, fiskal Indonesia saat ini dalam kondisi baik dengan pertumbuhan ekonomi yang masih menunjukkan tren peningkatan.

“Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus,” kata dia.

Untuk menunjukkan kepada dunia, Purbaya bahkan memutuskan untuk mempercepat konferensi pers realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dus, pasar dapat melihat secara langsung kondisi riil dari kondisi makroekonomi nasional.

“Makanya kemarin saya sengaja percepat itu APBNKita untuk memperlihatkan ke pasar bahwa kondisi fiskal kita baik, ekonomi kita juga cukup kuat. Sehingga, nanti lama-lama sentimen negatif itu bisa hilang,” tegasnya.

Meski begitu, Bendahara Negara itu mengakui ada sedikit sentimen negatif yang membuat nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan.

“Tapi itu harusnya bisa diperbaiki dengan koordinasi yang baik-baik antara pemerintah, departemen keuangan, dengan bank sentral (Bank Indonesia),” imbuhnya.

Sementara itu, dalam laporannya Bloomberg melaporkan adanya tren "Sell Indonesia", kondisi di mana sejumlah investor global mulai mengurangi koleksinya terhadap aset-aset keuangan Indonesia, mulai dari saham, obligasi, hingga rupiah.

Sentimen tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi, termasuk disiplin fiskal di tengah kebutuhan anggaran yang besar, meningkatnya peran negara dalam sektor strategis dan komoditas, pergantian kepemimpinan ekonomi, serta ketidakpastian kebijakan yang membuat investor asing cenderung mengambil posisi lebih defensif.

Meski demikian, tekanan tersebut lebih banyak didorong oleh persepsi risiko kebijakan daripada pelemahan fundamental ekonomi.

Baca juga artikel terkait PEREKONOMIAN INDONESIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah