tirto.id - Kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, kembali terulang. Terbaru, kebakaran mulai terjadi sejak Senin (3/8/2026). Pada Kamis (6/8/2026) pagi, api dilaporkan telah melalap sekitar 60 hektare lahan yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Probolinggo dan Malang.
Dilansir dari Antara, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan tim gabungan beberapa instansi masih terus berupaya melakukan penanganan darurat di kawasan wisata andalan Jawa Timur itu.
Tim gabungan ini terdiri dari personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Polisi Kehutanan (Polhut), serta relawan, dengan mengerahkan armada pemadam kebakaran (damkar) dan tangki air.
Kata Abdul, sebagian titik api seperti di Blok Bantengan hingga Pusung Jantur sempat dinyatakan berhasil dipadamkan. Namun, petugas masih terkendala oleh medan terjal di lereng Kaldera Bromo dan tiupan angin yang kencang.

Selain itu, personel BPBD Jawa Timur mengerahkan pesawat nirawak (drone) guna memetakan sebaran titik api yang berada di area sulit dijangkau, mulai dari sekitar kaldera hingga tugu perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Hal ini dilakukan untuk optimalisasi pemadaman darat.
Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan resmi oleh Balai Besar TNBTS. Namun, kondisi cuaca kering di musim kemarau serta tiupan angin kencang kemungkinan besar merupakan penyebab cepatnya perambatan api.
Karhutla ini mengingatkan pada kejadian yang sama pada 2023 lalu. Saat itu, Bromo terbakar seluas 504 hektare gara-gara penggunaan suar (flare) saat sesi foto prewedding di Bukit Teletubbies.
Tidak Ada Korban Jiwa, tapi Api Sulit Dipadamkan
Sejauh ini, tidak ada korban jiwa dalam karhutla di Bromo. Namun, Kapolres Probolinggo, AKBP Asmida Rizki Siregar, mengatakan api sulit dipadamkan lantaran terdapat sejumlah area yang curam.
Dia mengatakan sejumlah personel juga diturunkan untuk membatu memadamkan api dengan sejumlah cara, termasuk dengan alat pemukul api dan pembuatan sekat bakar.
Meski demikian, Asmida menekankan bahwa keselamatan petugas tetap menjadi prioritas saat melakukan pemadaman mengingat medan yang terjal dan kondisi angin yang cukup kencang.
"Upaya pemadaman dilakukan secara manual dengan menggunakan alat pemukul api dan pembuatan sekat bakar," kata Asmida dikutip dari Antara.
Butuh Petugas Skill Tinggi dan Ketersediaan Air
Pakar Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo, mengatakan karhutla sulit dipadamkan lantaran ketersediaan peralatan yang masih jauh dari kata layak, baik untuk pemadaman maupun pencegahan. Hal ini, kata Bambang, diperparah dengan kemampuan petugas pemadam yang belum memenuhi harapan.
"Sementara itu, kondisi kawasan sangat sensitif terhadap terjadinya kebakaran. Sehingga, ketika terjadi kebakaran tidak hanya satu titik, maka terjadi pembiaran. Akibatnya, kebakaran makin luas dan tidak terkendali," kata Bambang.

Bambang juga mengatakan bahan yang mudah terbakar bertebaran di sekitar area Bromo. Sehingga, ketika terjadi kebakaran api sulit dipadamkan. Ditambah dengan wilayah Bromo yang mengalami kesulitan air dan kondisi cuaca yang sering berubah khususnya arah dan kecepatan angin.
"Bahan bakar yang siap terbakar bertebaran di mana-mana sehingga ketika terbakar dan dibiarkan maka kebakaran meluas tanpa kendali. Ditambah lagi diwilayah tersebut sulit air dan kondisi cuaca yang sering berubah ubah khusus arah dan kecepatan angin," ujar Bambang.
Oleh karena itu, Bambang mengatakan kawasan Bromo harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap. Katanya, harus terdapat pasukan yang mumpuni dan peningkatan ketersediaan air.
Dia menyebut pengelola kawasan juga harus melakukan pengetatan keluar-masuk pengunjung untuk memastikan tidak ada yang tinggal dalam kawasan Bromo. Kata Bambang, petugas juga harus menggunakan drone serta melakukan patroli darat untuk memastikan pergerakan pengunjung sesuai dengan aturan yang ada.
"Sarprasnya dilengkapi, pasukan pemadam yang punya skill ditambah dan ketersediaan air juga perlu ditingkatkan. Ditambah lagi dengan pengetatan jalur keluar masuk pengunjung untuk memastikan tidak ada yang tinggal dalam kawasan. Gunakan drone dan patroli darat untuk memastikan pergerakan pengunjung sesuai guide yang disediakan," pungkas Bambang.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id
































