Menuju konten utama

Karhutla di Sumsel Mengancam, Dikhawatirkan Sebesar 2015

Ferdian menyebut Karhutla hingga pertengahan tahun ini terbilang sangat besar dibanding beberapa tahun terakhir dalam periode yang sama.

Karhutla di Sumsel Mengancam, Dikhawatirkan Sebesar 2015
Tim Manggala Agni melakukan pemadaman karhutla di wilayah Sumsel, Rabu (15/72026). FOTO/Manggala Agni
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla ) di Sumatra Selatan (Sumsel) di awal-awal musim kemarau tahun 2026 sudah menunjukkan penyebaran di sejumlah wilayah. Karhutla tahun ini sangat berpotensi sama parahnya seperti 2015 lalu.

Tiap tahun, Provinsi Sumsel langganan mengalami Karhutla . Luas lahan, lahan kering akibat cuaca terik, banyaknya material, dan aktivitas pembakaran untuk membuka kebun menambah pemicu api semakin menyebar luas.

Sejak Mei 2026, pemerintah daerah telah melakukan mitigasi penanganan Karhutla . Apel siaga tersebut diikuti sejumlah instansi terkait digelar sebagai langkah antisipasi pembuka.

Ribuan personil dari Manggala Agni, TNI, Polri, Damkar, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Pemadam Kebakaran (RPK), relawan, dan pihak lain berkomitmen terlibat langsung dalam pencegahan dan penanganan Karhutla . Mereka telah berpengalaman mengatasi api dan tak perlu lagi diragukan kepiawaiannya memetakan kondisi lapangan.

Sejumlah daerah rawan menjadi fokus pengendalian. Kini, sudah ada sembilan wilayah di Sumsel yang berstatus siaga Karhutla , ditambah di tingkat provinsi hingga Desember 2026.

Optimalisasi dilakukan mengingat prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut durasi musim kemarau tahun ini lebih panjang dan kering dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sementara puncak musim kemarau bakal terjadi pada Agustus dan September 2026.

Dalam dua bulan itu, hari tanpa hujan diprediksi cukup lama yang menyebabkan lahan semakin kering dan sumber air berkurang drastis. Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada semester kedua akan memperparah keadaan karena uap air cenderung bergerak ke arah Samudera Hindia dan Afrika.

Dalam situasi itu, potensi Karhutla hebat pun sangat besar terjadi. Kekhawatiran bertambah jika Karhutla sudah mulai muncul di kawasan gambut. Lahan gambut sendiri menyebar di beberapa kabupaten di Sumsel dengan areal yang sangat luas.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memiliki lahan gambut seluas 640.000 hektare atau 70 persen dari luas wilayah. Lahan gambut itu tersebar merata di hampir seluruh kecamatan.

Di Ogan Ilir, terdapat 63.503 hektare lahan gambut. Sebagian besar lahan gambut berada di Jalan Tol Palembang-Indralaya, Indralaya-Prabumulih, dan Palembang-Kayugung. Karhutla di wilayah ini membuat pengguna jalan terganggu karena asap dan hawa panas memenuhi jalur tol. Kondisi ini kerap kali terjadi saat musim kemarau.

Di Kabupaten Musi Banyuasin memiliki lahan gambut seluas 373.360 hektare atau 25 persen dari total wilayah. Gambut berada di beberapa kecamatan, terutama di perbatasan Kabupaten Banyuasin dan daerah pesisir.

Kemudian, Kabupaten Banyuasin yang memiliki lahan gambut seluas 252.706 hektare. Ada beberapa kabupaten lain yang juga terdapat laham gambut luas seperti daerah Muara Enim, Musi Rawas, dan Ogan Komering Ulu Timur, Musi Rawas Utara.

Karhutla tahun ini sudah mulai merebak sejak dua bulan terakhir seiring datangnya musim kemarau. Setiap hari ada puluhan hektare lahan yang terbakar, dominan berada di lahan kosong.

Pemadaman Kebakaran karhutla di Sumsel

Tim Manggala Agni melakukan pemadaman karhutla di wilayah Sumsel, Rabu (15/72026). FOTO/Manggala Agni

Berdasarkan analisa citra satelit kerjasama Kementerian Kehutanan, BRIN, dan Kementerian Lingkungan Hidup, Karhutla di Sumsel periode Januari-Juni 2026 mencapai 664,87 hektare. Jumlah itu makin bertambah seiring di bulan ini terjadi Karhutla terus-menerus.

Lahan yang terbakar terdiri atas 642,30 hektare lahan mineral dan 22,37 hektare gambut. Lahan gambut yang terbakar enam bulan terakhir menunjukkan peningkatan dari 2025 yang tercatat hanya 1,9 hektare.

Pada pertengahan Juli 2026, Karhutla sudah menyasar lahan gambut, seperti di Ogan Ilir dan Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir. Di kabupaten ini memiliki hamparan lahan gambut yang sangat luas dan sangat sulit dipadamkan jika sudah masuk di kedalaman. Meski api tidak terlihat di permukaan, namun tetap merambat dari bawah gambut, bisa satu meter lebih dari permukaan. Hanya muncul asap dan sewaktu-waktu akan membesar dan merambat ke sekitar.

Dikhawatirkan akan Sebesar 2015

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, sangat khawatir Karhutla tahun ini sama parahnya seperti pada 2015. Hal itu dilihat dari karakter, areal, dan prediksi cuaca dari BMKG.

"Prediksi El Nino dari BMKG memperlihatkan seperti itu. El Nino sedang-kuat akan makin dirasakan dan sangat berpotensi menjadi salah satu faktor kondisi yang akan memperparah kebakaran," ungkap Ferdian Krisnanto, Jumat (17/7/2026).

Ferdian menyebut Karhutla hingga pertengahan tahun ini terbilang sangat besar dibanding beberapa tahun terakhir dalam periode yang sama. Sebab, musim kemarau tahun-tahun sebelumnya terbilang pendek dan basah sehingga Karhutla tergolong minim.

Pada 2025, luas lahan terbakar sebanyak 374,8 hektare, 2024 seluas 313,5 hektare, pada 2023 mencapai 1.129,4 hektare, 2022 seluas 2.222,6 hektare, dan pada 2021 terdapat 379,6 hektare. Karhutla pada 2020 menghanguskan 667,5 hektare dan pada 2019 seluas 245,4 hektare.

Mengingat pengaruh fenomena iklim El Nino, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tidak ingin Karhutla parah sebelas tahun lalu kembali terulang. Pada 2015, lahan yang terbakar di Sumsel mencapai 837.520 hektare.

Tahun itu menjadi salah satu bencana ekologis terbesar di seluruh wilayah Sumsel dan provinsi sekitar. Bahkan asap sampai ke Asia Tenggara sehingga pemerintah Malaysia dan Singapura waktu itu geram dan mengecam keras akibat asap kiriman.

Kabut asap akibat Karhutla pada tahun itu juga menyebabkan 3,5 juta warga Sumsel terpapar asap berbahaya. Ribuan orang mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan beberapa bayi meninggal dunia diduga akibat terpapar asap.

Belum lagi transportasi baik darat, laut, maupun udara terganggu terhalang asap. Maskapai penerbangan harus menunda penerbangan di pagi dan sore hari karena jarak pandang tak lebih dari 50 meter.

Seluruh sekolah diliburkan cukup lama karena khawatir anak-anak terpapar asap. Pemerintah mengambil kebijakan belajar tatap muka dihentikan dan diganti secara daring. Agar kejadian itu tidak kembali terjadi, Ferdian mengaku tim tetap berada di posko untuk siaga ketika menerima laporan kebakaran. Sebanyak 275 personil Manggala Agni dan ratusan tenaga pemadam dari berbagai instansi disiagakan di setiap daerah rawan.

Untuk mempercepat respons operasi didirikan pondok kerja dengan menempatkan satu regu dengan sarana prasarana lengkap. Mereka giat patroli baik darat maupun udara untuk memantau kondisi lahan.

"Selain antisipasi teknis yang dikerjakan, tentunya informasi dan peringatan kepada semua pihak agar tidak membakar lahan," kata dia.

Pemadaman Kebakaran karhutla di Sumsel

Tim Manggala Agni melakukan pemadaman karhutla di wilayah Sumsel, Rabu (15/72026). FOTO/Manggala Agni

Dalam proses pemadaman, tim pemadam mengalami banyak kendala. Mulai dari akses menuju lokasi kebakaran yang sulit, bahan bakaran yang melimpah, hingga makin berkurangnya sumber air akibat kemarau.

Kondisi ini diperparah masih banyaknya masyarakat yang sengaja membakar lahan. Hal ini terbukti dari temuan di lapangan adanya penyiapan lahan atau kebun di areal terbakar sehingga muncul indikasi pembakaran bertujuan untuk membuka kebun dan perumahan.

Sebelumnya, Gubernur Sumsel, Herman Deru, menyebut prediksi musim kemarau kering harus dijadikan alarm dini untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi Karhutla . Informasi BMKG mesti menjadi dasar dalam menyusun strategi pencegahan dan penyamaan persepsi antar pemangku kepentingan yang lebih efektif dan terarah.

Herman Deru mengatakan, Karhutla merupakan persoalan serius yang berdampak luas, khususnya terhadap kesehatan masyarakat. Pengalaman Sumsel yang pernah mengalami ISPA di atas ambang batas dalam waktu lama menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Karhutla ini kita hadapi setiap tahun. Konsepnya bisa berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu pencegahan. Karena itu, kesamaan persepsi menjadi sangat penting," kata Deru.

Strategi penanganan Karhutla dilakukan melalui tiga tahapan, yakni mitigasi, penindakan, dan pemulihan. Mitigasi meliputi patroli terpadu, sosialisasi, dan pengaktifan posko desa.

Penindakan mencakup kesiapan pemadaman darat dan udara, termasuk water bombing. Sementara itu, pemulihan difokuskan pada rehabilitasi lahan dan pemulihan ekosistem.

Kesiapsiagaan sejak dini harus digenjot sebelum api membesar. Namun pencegahan Karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Selain itu, peran dunia usaha di sektor kehutanan, perkebunan, dan pertambangan agar memenuhi seluruh kewajiban dalam pencegahan dan penanggulangan Karhutla di wilayah kerja masing-masing. Mereka harus menjadi bagian dari solusi, bukan sumber persoalan.

Jika mitigasi gagal, bukan tidak mungkin bencana kabut asap akibat Karhutla pada 2015 kembali terjadi di tahun ini. Semua sektor akan berdampak dan merugikan banyak pihak.

"Dengan semua upaya yang dilakukan, kita berharap Karhutla di Sumsel terkendali. Dengan catatan, seluruh pihak tidak menjadi pemicu munculnya kebakaran," kata Deru.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Andrian Pratama Taher