Menuju konten utama

Ada Apa di Balik Tekanan Berat Mahasiswa saat Susun Skripsi?

Skripsi yang semula menjadi gerbang masa depan, kini kerap menjelma beban mental yang meremukkan.

Ada Apa di Balik Tekanan Berat Mahasiswa saat Susun Skripsi?
ilustrasi mahasiswa mengerjakan skripsi. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lembar-lembar skripsi semula ditulis sebagai gerbang menuju masa depan. Namun kini, kerap menjelma jadi labirin penuh kecemasan yang meremukkan jiwa.

Kasus tragis yang menimpa mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) bernama Jessica Sofia Tunardjo memperpanjang daftar hitam mahasiswa yang tumbang di tengah jalan. Dia menjadi perhatian publik usai video dirinya menangis histeris karena pembatalan sidang skripsi viral di media sosial.

Dalam video berdurasi 31 detik yang beredar, Jessica meraung dan meronta di lantai. Kabar bahwa sidang skripsinya harus dijadwalkan ulang melenyapkan belasan penantian harap di depan mata. Narasi yang menyertai video juga menyebut dosen penguji meminta Jessica mencari penguji pengganti lain menjelang pelaksanaan sidang.

Mahasiswa tersebut dikabarkan mengalami depresi karena ujian sidang skripsinya itu telah dibatalkan hingga 12 kali oleh dosen penguji yang sama. Padahal, berdasarkan pengakuan keluarga, Jessica tidak pernah terlambat mendaftar sidang dan memiliki IPK di atas 3,5 sejak semester pertama.

Saat ini, Jessica harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Wirasakti Kupang. Rektorat Undana tengah melakukan investigasi terhadap kasus tersebut dan tidak menutup kemungkinan menjatuhkan sanksi, termasuk pemecatan, apabila ditemukan pelanggaran oleh dosen yang bersangkutan.

Apa yang menimpa Jessica memaksa kita semua untuk mempertanyakan ulang: mengapa dunia akademik terasa begitu menekan dan menghukum bagi mereka yang sedang mengejar mimpi?

Jejak Duka dan Angka Riil Stres Akademik

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kasus yang berkaitan dengan tekanan penyelesaian tugas skripsi memang beberapa kali mencuat ke ruang publik. Salah satunya terjadi di Tulungagung, Jawa Timur di mana seorang mahasiswi semester delapan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya setelah semalaman begadang mengerjakan skripsi bersama teman-temannya hingga sekitar pukul 03.00 WIB.

Pada kasus tersebut polisi menyatakan tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, sementara keluarga menyebut korban memiliki riwayat penyakit jantung.

Kasus lainnya terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, ketika seorang mahasiswi berinisial BK (21) ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya pada Agustus 2025. Kepolisian menyebut dari keterangan saksi dan orang terdekat, korban disebut sering mengalami stres sejak mengerjakan skripsi, meski penyelidikan polisi menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban

Apabila berdasarkan pada penelitian sejumlah Universitas di Indonesia, mahasiswa tingkat akhir memang merupakan kelompok yang rentan mengalami stres akademik selama menyusun skripsi. Misalnya sebuah studi Universitas Jambi pada 97 mahasiswa menemukan 83,6 persen responden mengalami stres tingkat sedang saat menyelesaikan skripsi dipicu juga oleh pemaksaan diri dan tekanan perilaku akademik.

Kemudian jurnal Flourishing Universitas Negeri Malang (2025) mencatat prevalensi stres akademik mahasiswa di Indonesia berkisar 36,7% hingga 71,6% berdasarkan kajian Ambarwati dkk. (2019). Penelitian yang sama juga menemukan bahwa mayoritas mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang mengalami stres akademik kategori sedang (60%), sementara 21,5% lainnya berada pada kategori tinggi. Tekanan tersebut berkaitan dengan beban tugas, kecemasan menghadapi ujian, serta tuntutan pencapaian akademik yang tinggi.

Skripsi Menekan tapi Bukan Penyebab Tunggal

Ilustrasi sekolah kedinasan

Ilustrasi sekolah kedinasan. FOTO/IStockphoto

Psikolog klinis, Veronica Adesla, melihat tugas akhir atau skripsi dalam perkuliahan memang memang pada dasarnya memberikan tekanan tersendiri karena menjadi penentu kelulusan mahasiswa. Di saat yang sama, mahasiswa juga menghadapi ekspektasi dari diri sendiri hingga situasi lingkungan yang tak menentu.

Tekanan itu dapat semakin berat ketika mahasiswa menghadapi kesulitan selama proses penyusunan skripsi, seperti hubungan dengan dosen pembimbing yang dirasakan kurang nyaman, revisi yang berkepanjangan, hingga rasa takut gagal. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat memicu mental breakdown, yang bermanifestasi menjadi kecemasan, panic attack, ataupun depresi.

“Nah keberhasilan kita dari bangku kuliah salah satunya ditentukan oleh lulusnya skripsi tersebut. Jadi skripsi tersebut sendiri memang udah punya tuntutan lah ya, maksudnya punya pressure gitu, jadi tekanan bagi kita,” kata Veronica saat dihubungi Tirto, Rabu (5/8/2026).

Namun, skripsi tidak bisa dianggap langsung sebagai penyebab tunggal seseorang mengalami gangguan psikologis. Veronica menyebut skripsi lebih tepat dipahami sebagai stressor atau pemicu yang dapat memperburuk kondisi seseorang, terutama apabila sebelumnya sudah terdapat kerentanan psikologis.

Tekanannya juga dapat meningkat ketika mahasiswa menghadapi revisi berkepanjangan, komunikasi yang tidak berjalan baik dengan dosen pembimbing, atau merasa tidak memperoleh dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Meskipun begitu, Psikolog Dian Wisnuwardhani berpandangan bahwa tekanan pada skripsi sangat bergantung pada bagaimana seseorang memaknai situasi yang dihadapinya. Ketika ada dua mahasiswa yang menghadapi tantangan akademik yang sama, hal itu bukan berarti keduanya mengalami tingkat tekanan yang sama pula.

Kondisi psikologis mahasiswa dibentuk oleh banyak faktor yang saling berinteraksi. Selain tekanan akademik, mahasiswa juga dapat menghadapi persoalan ekonomi, perbandingan dengan teman sebaya yang lebih dahulu wisuda, konflik dalam hubungan interpersonal, hingga riwayat kecemasan atau depresi yang telah dimiliki sebelumnya.

Kemampuan seseorang menghadapi tekanan juga dipengaruhi oleh pengalaman hidup sejak kecil, pola pengasuhan, hingga keterampilan mengelola masalah (coping skill).

Mahasiswa dibahasakan Dian berada pada fase remaja akhir, ketika hubungan dengan teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi psikologis mereka. Karena itu, keberadaan lingkungan pertemanan yang suportif menjadi salah satu faktor pelindung yang penting.

“Jadi ada kondisi-kondisi tertentu yang mungkin mereka juga mengalami overthinking,” kata Dian.

Menggugat Tembok Birokrasi Kampus dan Opsi Tugas Akhir

Ilustrasi sekolah kedinasan

Ilustrasi sekolah kedinasan. FOTO/IStockphoto

Burnout pada mahasiswa tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui proses kelelahan yang berkepanjangan. Mengacu pada konsep Maslach dan Leiter (2016), burnout ditandai oleh kelelahan emosional yang terus-menerus, munculnya sikap sinis atau hilangnya makna terhadap perkuliahan, serta menurunnya rasa mampu dan produktivitas dalam menyelesaikan tugas akademik.

Psikolog klinis, Adityana Kasandra Putranto, menilai kondisi yang lebih serius dapat dikenali dari perubahan perilaku seperti mulai menarik diri dari pergaulan, mengalami gangguan tidur dan pola makan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit berkonsentrasi, hingga sering merasa putus asa.

Perhatian khusus perlu diberikan apabila seseorang mulai mengucapkan kalimat seperti “lebih baik saya tidak ada” atau “semua akan lebih baik tanpa saya”, karena itu bisa menjadi sinyal adanya krisis psikologis yang membutuhkan bantuan profesional.

“Risiko bunuh diri meningkat ketika seseorang mengalami kombinasi perasaan menjadi beban bagi orang lain (perceived burdensomeness), merasa tidak memiliki hubungan yang bermakna (thwarted belongingness), serta memiliki kemampuan untuk melukai diri,” katanya kepada Tirto.

Sementara mengacu pada teori Vincent Tinto (1993), Kasandra melihat kampus perlu membangun lingkungan yang membuat mahasiswa merasa didukung dan menjadi bagian dari komunitas akademik.

Kampus dalam hal ini juga bisa memberi dukungan lewat perkuatan layanan konseling yang mudah diakses, meningkatkan kemampuan dosen pembimbing dalam komunikasi, mentoring, dan deteksi dini mahasiswa yang mengalami tekanan, serta membangun sistem pemantauan progres skripsi agar hambatan mahasiswa dapat teridentifikasi lebih cepat.

Selain itu, kebijakan akademik juga perlu dibuat lebih adaptif tanpa mengorbankan mutu ilmiah, disertai edukasi mengenai kesehatan mental, manajemen stres, dan regulasi emosi sejak awal masa perkuliahan.

Pemerintah juga harus mengambil peran melalui penguatan standar nasional layanan kesehatan mental di perguruan tinggi.

“Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tinggi bukan hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari kemampuan institusi menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan psikologis mahasiswa,” katanya.

Di luar faktor individu, pengamat pendidikan Ina Liem juga melihat perlunya evaluasi sistem pendidikan tinggi. Skripsi tidak harus menjadi satu-satunya bentuk tugas akhir bagi seluruh mahasiswa program sarjana sebab karakter mahasiswa sangat beragam. Ada yang memiliki minat pada penelitian akademik, tetapi ada pula yang lebih unggul dalam praktik, inovasi, maupun penyelesaian masalah di lapangan.

Dia mencontohkan di sejumlah negara yang terdapat pembedaan antara universitas berbasis riset dan universitas terapan.

Lebih jauh, Ina melihat perlunya perguruan tinggi memiliki standar layanan akademik yang jelas, termasuk target waktu pemberian umpan balik, mekanisme ketika pembimbingan mengalami hambatan, serta evaluasi apabila keluhan terhadap dosen terus berulang.

“Standar tersebut bukan untuk membatasi kebebasan akademik dosen, melainkan memberikan kepastian proses bagi mahasiswa,” katanya.

Desakan Senayan: Skripsi Bukan Ancaman Keselamatan

Kasus-kasus mahasiswa yang mengalami tekanan berat selama proses penyusunan skripsi harus menjadi peringatan serius bagi seluruh perguruan tinggi. Skripsi harusnya menjadi bagian dari proses akademik yang bertujuan membentuk kapasitas ilmiah mahasiswa, bukan menjadi sumber tekanan yang mengancam kesehatan mental, apalagi keselamatan mereka.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, meminta evaluasi terhadap sistem bimbingan akademik, beban penyelesaian tugas akhir, serta efektivitas layanan konseling di kampus.

Kata dia, perguruan tinggi perlu memiliki mekanisme deteksi dini dan pendampingan bagi mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis, sekaligus memastikan dosen pembimbing menjalankan fungsi pembinaan secara profesional dan empatik.

“Di sisi lain pemerintah melalui kementerian terkait perlu memperkuat regulasi dan pengawasan,” kata Lalu dihubungi Tirto.

Baca juga artikel terkait SKRIPSI atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - News Plus
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah