Menuju konten utama

Update Kondisi Mahasiswi Undana yang 12 Kali Batal Ujian Skripsi

Jessica, mahasiswi Undana yang viral usai 12 kali batal sidang skripsi, mulai membaik. Kampus menjamin hak akademik dan mengevaluasi prosedur sidang.

Update Kondisi Mahasiswi Undana yang 12 Kali Batal Ujian Skripsi
Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Prof. DR. Ir. Jefri S. Bale di wawancara saat menjenguk mahasiswi Jessica di RS Wira Sakti. ANTARA/HO-Undana
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kasus Jessica Sofia Tunardjo, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, memasuki babak baru setelah pihak universitas turun langsung memberikan pendampingan.

Jessica sebelumnya viral di medsos usai video dirinya menangis setelah disebut mengalami tekanan akibat 12 kali penundaan sidang skripsi.

Rektor Undana Jefri S. Bale bersama jajaran pimpinan universitas kemudian menjenguk Jessica yang tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Wirasakti Kupang.

Dalam kunjungan tersebut, pihak kampus memastikan akan mengawal proses pemulihan kesehatan Jessica sekaligus menjamin hak akademiknya hingga dapat menyelesaikan studi.

"Kami hadir untuk memberikan dukungan langsung. Kami sudah bertemu keluarga dan Jessica. Saat ini yang utama adalah fokus pada pemulihan kesehatannya. Soal kelanjutan studi dan hak akademiknya, kampus menjamin akan dipenuhi sepenuhnya," kata Jefri dikutip Antara News, Selasa (4/8/2026).

Kondisi Terkini Mahasiswi Undana yang 12 Kali Batal Sidang Skripsi

Dalam kunjungan tersebut, pihak kampus yang diwakili Jefri didampingi wakil rektor serta sejumlah dosen dan tenaga kependidikan menyebut memastikan akan mengawal proses pemulihan kesehatan Jessica sekaligus menjamin penyelesaian hak akademiknya hingga mahasiswa semester X tersebut dapat menyelesaikan studinya.

Menurut Rektor Jefri, kondisi Jessica menunjukkan perkembangan yang lebih baik setelah menjalani perawatan selama beberapa hari. Meskipun masih membutuhkan perawatan lanjutan, pihak kampus menilai kondisi tersebut menjadi perkembangan positif.

"Kami tentu bukan tenaga kesehatan, tetapi dari penyampaian Jessica sendiri, kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu. Meski masih membutuhkan perawatan lanjutan, perkembangan ini menjadi kabar baik. Yang terpenting sekarang adalah memastikan ia dapat pulih dengan tenang," jelasnya.

Jessica sebelumnya menjadi perhatian publik setelah video dirinya menangis histeris viral di media sosial. Dalam video berdurasi sekitar 31 detik tersebut, Jessica terlihat mengalami tekanan emosional setelah mendapat informasi bahwa jadwal ujian skripsinya kembali mengalami penundaan.

Berdasarkan informasi yang beredar, penundaan tersebut disebut terjadi ketika waktu pelaksanaan sidang sudah semakin dekat, bahkan terdapat dugaan bahwa jadwal ujian skripsinya telah dibatalkan hingga 12 kali oleh pihak penguji yang sama.

Dalam video tersebut juga disebutkan bahwa Jessica mengalami tekanan psikologis akibat persoalan tersebut hingga harus mendapatkan perawatan medis. Narasi yang beredar menyebut Jessica mengalami depresi setelah diminta mencari dosen penguji pengganti secara mendadak menjelang pelaksanaan ujian skripsi.

Keluarga Jessica sebelumnya juga menyampaikan keberatan dan mempertanyakan alasan di balik pembatalan berulang tersebut, dengan menyebut bahwa Jessica telah memenuhi sejumlah persyaratan akademik, termasuk memiliki IPK di atas 3,5 dan tidak mengalami keterlambatan dalam proses administrasi.

Dalam proses penyelesaian kasus ini, Undana juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap prosedur akademik untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Perhatian terhadap kasus Jessica juga datang dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Rektor Undana menyampaikan bahwa Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sempat berkomunikasi melalui panggilan video dengan Jessica untuk mengetahui kondisinya serta memberikan dukungan agar mahasiswa tersebut segera pulih dan dapat melanjutkan penyelesaian studinya.

Wakil Rektor IV Undana Prof. Philiphi de Rozari menegaskan bahwa universitas menerapkan prinsip zero tolerance terhadap segala bentuk pelanggaran etika maupun tindakan yang tidak sesuai aturan di lingkungan kampus.

Ia mengatakan proses pemeriksaan masih berlangsung dan pihak universitas sedang mengumpulkan seluruh informasi dari pihak-pihak terkait agar keputusan yang diambil nantinya berdasarkan fakta yang lengkap.

Baca juga artikel terkait SKRIPSI atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra