tirto.id - Kala itu 18 Desember 1956, musim dingin berangsur "membekukan" Prancis, menandai berakhirnya seluruh kompetisi sepak bola profesional di Eropa. Di Paris, puluhan jurnalis dari seluruh penjuru dunia berkumpul, menggelar pungutan suara, demi menentukan pesepak bola pria terbaik Eropa.
Dua nama teratas mencuat, bersaing meraup poin suara terbanyak, demi memperebutkan podium pertama. Pria pertama adalah Stanley Matthews (41 tahun), sayap kanan asal Inggris yang berjuluk The Wizard of Blackpool. Selanjutnya Alfredo Di Stéfano (30 tahun), legenda Spanyol kelahiran Argentina yang berhasil mengantarkan Real Madrid menjadi juara European Champion Cup (kini Liga Champions UEFA) 1955.
Gelar prestisius European Champion Cup tak cukup mendongkrak Di Stéfano menjadi pemenang. Padahal, di musim 1955/56, Di Stéfano berhasil mencetak 29 gol dalam 37 pertandingan bersama Los Blancos.
Sebaliknya, pesepak bola yang telah menginjak usia kepala empat berhasil menempati posisi teratas dalam pungutan suara. Boleh jadi Matthews layak memenangkan Ballon d’Or lantaran rasa hormat, terima kasih, atas dedikasinya dalam sepak bola. Sebab, secara statistik, ia tidak lebih menonjol. Apalagi, klub yang ia perkuat, Blackpool, hanya finis sebagai runner up liga, di bawah Manchester United, serta mengakhiri musim tanpa gelar.
Stanley Matthews memenangkan Ballon d’Or 1956 dengan mengantongi 47 poin, unggul tiga poin atas Di Stéfano (44). Ia menjadi pemenang pertama penghargaan pesepak bola putra terbaik Eropa, sekaligus yang tertua sepanjang sejarah hingga saat ini.
Mangsi Sakti Penggagas Ajang Bergengsi
Kendati Ballon d’Or pertama dimenangkan orang Inggris, yang tak boleh luput tersorot adalah pionir di balik penganugerahannya. Notabene, mayoritas pemilih suara Ballon d’Or adalah jurnalis asal Prancis. Hal itu bisa dibilang "wajar", mengingat ajang tersebut diprakarsai seorang wartawan cum mantan pesepak bola Prancis, Gabriel Hanot.
Sebelum menggagas Ballon d’Or, Hanot sudah beken lewat tulisan yang terbit di L’Equipe pada 15 Desember 1954. Tulisan itu memuat ide proyek European Champion Cup, mencakup kompetisi antarklub dari liga-liga papan atas Eropa, digelar saat tengah pekan, lengkap dengan liputan televisi internasional.
Gagasan tersebut akhirnya terealisasi pada 1955, dibantu oleh beberapa rekannya di L’Equipe, seperti Jacques de Ryswick dan Jacques Ferran. Enam belas tim terdaftar, termasuk Stade de Reims sebagai wakil klub Liga Prancis.
Lewat kompetisi European Champion Cup itu pula Hanot kemudian melahirkan penghargaan Ballon d’Or.

Jauh sebelumnya, Hanot juga berjasa dalam mengadvokasi berbagai hal di kancah sepak bola Prancis, mulai dari legalitas pesepak bola, gaji, aturan, hingga seleksi klub yang layak masuk ke dunia profesional.
“... pada 1932 Hanot ikut menggagas kejuaraan profesional Prancis (kini Ligue 1),” tulis Patrick Boudreault, lewat tulisan yang dimuat di LaDepeche pada 6 Agustus 2007.
Di Prancis, Kami Punya Ide
Hanot bukan satu-satunya praktisi sepak bola asal Prancis yang berpengaruh besar dalam penyelenggaraan sepak bola Eropa. Ada pula Henri Delaunay, sosok yang kemudian menjabat Sekretaris Jenderal UEFA sejak pertama didirikan (15 Juni 1954) hingga 9 November 1955.
Kariernya bisa dibilang cukup moncer, mengingat sekitar dua dekade sebelumnya, tepatnya 1926, Delaunay baru menduduki jabatan sebagai Sekretaris Jenderal di Comité français interfédéral (cikal bakal Federasi Sepak Bola Prancis). Namun, berkat kepiawaiannya dalam bernegosiasi, kiprahnya perlahan dilirik Presiden FIFA Jules Rimet.
Tak lama berselang, keduanya lantas menghelat pertemuan eksklusif. Hasilnya bukan main-main: sebuah turnamen sepak bola profesional mandiri, melibatkan negara-negara dari luar Eropa. Itulah akar terbentuknya Piala Dunia 1930.
Selang setahun setelah pertemuan dengan Jules Rimet, Delaunay berhasil menggagas kompetisi berformat European Cup, yang menjadi cikal bakal Kejuaraan Eropa UEFA (Euro).
Nahasnya, sampai maut menjemput Delaunay pada 1955, dia tak pernah berkesempatan menyaksikan gelaran European Cup. Oleh karena itu, demi menghormati buah pikirnya, piala edisi perdana 1960 dinamai Trofi Delaunay.

Apa-apa yang lahir ide cerlang orang-orang Prancis kebanyakan berbuah manis, setidaknya bisa kita rasakan hingga kini. Dan hal itu selaras dengan slogan beken mereka.
“Di Prancis, kami tidak punya minyak, tetapi kami punya ide” adalah ungkapan populer Prancis yang berasal dari kampanye L'Agence des économies d'énergie (AEE). Ungkapan tersebut muncul pada 1970-an, merespons krisis minyak yang menjadi momok Prancis tahun 1973.
Slogan itu mengguratkan benang merah bahwa orang-orang Prancis benar-benar berpengaruh besar di kancah olahraga tingkat global, tak cuma sepak bola.
Editor L’Auto (nenek moyang L’Equipe), Henri Desgrange, menciptakan kejuaraan balap Tour de France pada 1903; Pierre de Coubertin, akademisi sekaligus penulis, menggagas format Modern Olympics; Robert Guerin, jurnalis dari Le Matin, menjadi presiden pertama FIFA pada 1904.
Mengapa Jurnalis Bisa Dominan?
Sejak digagas oleh Hanot, selama bertahun kemudian, Ballon d’Or menjadi menara gading yang didambakan para pesepak bola terhebat Eropa.
Agenda penghargaan tahunan tersebut bahkan sempat berkolaborasi dengan FIFA pada 2010-2015, meski pada akhirnya pecah kongsi. FIFA memutuskan menggelar penganugerahan pemain sepak bola terbaik versinya sendiri, yakni FIFA The Best, alternatif "pesaing" Ballon d’Or.
Berbeda dari Ballon d’Or yang didominasi jurnalis, FIFA The Best memungkinkan para penggemar memilih beberapa kategori. Meski begitu, sensasi pemilihannya belum bisa menandingi gala Ballon d’Or.
“Ballon d’Or adalah salah satu momen yang berarti para pembuat konten platform media sosial, dan platform media di semua pasar utama Eropa fokus pada hal yang sama,” kata Dan Haddad, kepala strategi komersial di Octagon, dikutip dari New York Times.
Bagi Haddad, alasan kuat FIFA The Best belum bisa mengungguli supremasi Ballon d’Or adalah karena keterlibatan penggemar cenderung bermuatan maniak. Loyalitas terhadap pemain tertentu biasanya mendorong keinginan suporter untuk melihat jagoan mereka mendulang penghargaan. Dan justru karena itulah penilaiannya sering mengabaikan aspek terpenting: sportivitas.
Haddad kemudian mencontohkan sistem penghargaan di National Basketball Association (NBA). Menurutnya, NBA ideal menjadi gambaran tentang liga olahraga yang membangun popularitas dengan menempatkan pemain sebagai pusat perhatian. Hal ini terlihat dari kuatnya posisi pemain dan selebritas dalam ekosistem NBA.
Itulah yang juga diusahakan oleh gelaran Ballon d’Or, meski dengan pendekatan yang berbeda.
Kredibilitas jurnalis profesional sebagai penentu pemenang seolah merupakan upaya menjaga penghargaan tersebut tetap berjarak dari popularitas industri olahraga. Tujuannya adalah menentukan “siapa yang seharusnya menjadi yang terbaik”, bukan semata-mata "siapa yang berhasil 'disulap menjadi selebritas'”. Itulah sebabnya Real Madrid menunjukkan kemarahannya ketika Vinicius Junior tak memenangkan Ballon d’Or 2024. Sebab, di tahun yang sama, FIFA The Best memberikan penghargaan pemain terbaik dunia kepadanya, alih-alih Rodri, sang pemenang Ballon d’Or.
Selain itu, dari sisi sejarah, ajang FIFA The Best jelas kalah jauh. Ballon d’Or sudah beken dan menjadi hak paten milik France Football sejak 1956. Sementara itu, FIFA The Best baru menetas pada 2017.
Berkat catatan sejarah panjang itu, secara prestise, Ballon d'Or unggul di atas penghargaan lain. Selama lebih dari 50 tahun penyelenggaraan, trofi Bola Emas telah mendapat tempat khusus di jantung sepak bola Eropa, bahkan dunia. Generasi pesepak bola saat ini menilai tinggi dirinya ketika berhasil mengangkat trofi bola emas Ballon d'Or.
“Semua pekerjaan yang kulakukan, aku tidak pernah menyerah. Itu [Ballon d’Or] adalah mimpi masa kecil,” kata Karim Benzema, pemain Real Madrid yang memenangkan Ballon d’Or pada 2022.
Mekanisme pungutan suaranya pun berbeda. Ballon d’Or secara eksklusif mendatangkan jurnalis kompeten dari seluruh dunia, kecuali periode 2010-2015 yang berkolaborasi dengan FIFA. Di sisi lain, FIFA The Best mengumpulkan suara dengan turut melibatkan pelatih tim nasional, kapten tim nasional, dan penggemar, di samping jurnalis.
Karena belum tentu mereka menonton setiap pemain sepak bola di dunia, para pemilih FIFA The Best cenderung hanya memantau statistik pemain di tim favoritnya. Sementara itu, jurnalis, yang tentu memiliki standardidasi kepakaran, lebih diunggulkan dari sisi analisis di luar lapangan. Itulah sebabnya jurnalis masih cukup dominan dalam kebutuhan penilaian.
Lain itu, kanal penyebaran informasi sepak bola yang digaungkan oleh jurnalis-jurnalis Prancis sedikit banyaknya telah menginfeksi jutaan pemirsa di bumi. Semua bermula ketika L’Equipe, sebagai corong media Prancis, ikut merangsek ke kanal TV dan radio. Padahal, dulu tidak demikian.
Didier Roustan, jurnalis France Televisions, Canal+, dan L’Equipe dalam wawancara yang dipublikasikan Le Cornermengungkapkan alasannya.
Pada 1976, tayangan frekuensi publik macam TV dan radio di Prancis tidak memiliki program khusus sepak bola. Acara "Telefoot" sempat ramai pada 1977, tetapi hanya berupa laporan singkat berdurasi 12 menit, sebelum tayangan pertandingan dimulai. Seusai sesi itu, romantisisme televisi dan bola kembali senyap.
Segalanya berubah ketikaL’Equipe masuk ke ranah frekuensi publik pada 2012. Berbeda dari media sepak bola lokal di Prancis lainnya, akses mereka ke seluruh penjuru bola dunia lebih luas. Tidak hanya menayangkan liputan Coupe de France (Piala Liga Ligue 1), jaringan mereka juga menyiarkan kejuaraan Copa del Rey, DFB-Pokal, Piala Super Spanyol, UEFA Nation League, hingga UEFA Women's Champions League, dan lain-lain, yang kemudian membuat budaya sepak bola kian meledak.
Ada pula majalah bulanan populer seperti Miroir du Football, yang khas dengan ulasan pertandingan klinis dan teknis. Pelanggan juga dapat menikmati foto berkualitas tinggi dari para pemain dan bahwa mengkritisi pemain yang tak tampil sesuai ekspektasi.
Itulah titik puncak dominasi orang-orang Prancis, utamanya di media massa, mengontrol sepak bola dunia, dari gagasan kompetisi hingga penghargaan individu. Di tangan merekalah sepak bola menjelma lebih dari sekadar kegemaran.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































