13 Juli 1930

Piala Dunia 1930 di Antara Olimpiade dan Arogansi Inggris

Oleh: Eddward S Kennedy - 13 Juli 2018
Dibaca Normal 5 menit
Kilau piala.
Hajatan sepakbola
segala bangsa.
tirto.id - Estadio Centenario, 30 Juli 1930. Ada 93.000 manusia yang memadati stadion yang terletak di Montevideo, Uruguay, kala itu. Mereka hendak menyaksikan sebuah laga akbar yang menjadi cikal bakal pagelaran olahraga paling agung sejagat: Final Piala Dunia 1930.

Itu adalah final Piala Dunia pertama. Uruguay yang menjadi tuan rumah berhasil menembus babak puncak untuk bertemu Argentina. Laga tersebut berlangsung seru dengan enam gol tercipta: tiga gol di babak pertama, tiga gol di babak kedua.

Di babak pertama, Uruguay sempat unggul lebih dulu melalui gol Pablo Dorado (12'), namun Argentina mampu membalikkan keadaan berkat lesakan Carlos Peucelle (20') dan Guillermo Stabile (37'). Di babak kedua, Uruguay kembali unggul setelah sukses mencetak tiga gol dari Pedro Cea (57'), Victoriano Iriarte (68'), dan Hector Castro (89'). Skor 4-2 bertahan hingga babak usai dan Uruguay pun tercatat sebagai juara Piala Dunia pertama.

Guillermo Stabile dari Argentina menjadi pencetak gol terbanyak, dengan koleksi 8 gol. Selain itu, dalam seluruh 18 pertandingan yang digelar, tercipta total 70 gol. Sedangkan jumlah keseluruhan penonton mencapai 590 ribu atau rata-rata 32 ribu per pertandingan.

Di Piala Dunia pertama itu, yang dibuka pada 13 Juli 1930, tepat hari ini 88 tahun lalu, hanya ada 13 negara yang terlibat. Tujuh negara berasal dari Amerika Selatan, empat dari Eropa, dan dua dari Amerika Utara. Tim-tim yang berhak mengikuti turnamen tersebut juga tidak berasal dari babak kualifikasi, melainkan diundang oleh FIFA (sejauh mereka terdaftar resmi di FIFA). Tiap negara kemudian diberi tenggat untuk memutuskan keikutsertaan hingga 28 Februari 1930. Setelah 13 negara sudah dipilih, masing-masing dari mereka dibagi ke dalam empat grup.

  • Grup 1: Argentina, Chili, Perancis, Meksiko
  • Grup 2: Yugoslavia, Brasil, Bolivia
  • Grup 3: Uruguay, Rumania, Peru
  • Grup 4: Amerika, Belgia, Paraguay
Dengan peserta yang masih sedikit, maka setelah babak grup usai, pertandingan langsung berlanjut ke semifinal. Di fase tersebut, Argentina bertemu Amerika Serikat dan Uruguay berjumpa Yugoslavia. Baik Argentina dan Uruguay sama-sama meraih kemenangan telak 6-1 atas lawan mereka masing-masing.

Adapun jumlah peserta yang sedikit lantaran jarak yang amat jauh, sementara sarana transportasi juga masih sangat terbatas. Kendati Wright bersaudara sudah berhasil menemukan pesawat 30 tahun sebelumnya, biaya untuk membawa serombongan tim sepakbola masih kelewat tinggi. Selain itu, para pendukung pun juga kewalahan dengan masalah jarak.

Pendukung Argentina, misalnya, yang berjumlah sekitar 15.000 orang, pada laga final harus menaiki 10-11 kapal laut dari Buenos Aires untuk menuju pelabuhan Montevideo. Jumlah yang begitu banyak membuat para pengurus pelabuhan kewalahan. Enam jam sebelum laga dimulai, gerbang stadion sudah dibuka. Dengan segera penonton menyerbu masuk secara membabibuta.

Khusus Amerika, keikutsertaan mereka dalam Piala Dunia 1930 mendapat banyak dukungan dari publik sendiri. Media-media pun meliputnya dengan antusias. The New York Times bahkan mengeluarkan reportase yang nyaris serupa propaganda: Amerika dianggap sebagai kandidat terkuat untuk menjadi juara. Reportase tersebut diberi judul “US Favorite to Win World’s Soccer Title”.

Satu hal menarik terjadi saat final. Wasit asal Belgia yang memimpin laga, Jean Langenus, sempat mendapat ancaman sebelum laga dimulai. Ia pun baru bersedia menjadi wasit jika keamanannya betul-betul terjamin. Salah satu syarat yang diminta Langenus ialah disediakan sebuah kapal di pelabuhan agar ia bisa segera kabur jika terdesak keadaan.


Bermula dari Olimpiade, Berujung pada Arogansi Inggris

Setelah percobaan di Athena (1896), Paris (1900), dan St. Louis (1904), turnamen sepakbola Olimpiade akhirnya secara resmi diadakan pertama kali di London pada 1908. Inggris Raya selaku tuan rumah berhasil meraih medali emas.

Ada delapan tim yang mengikuti turnamen tersebut: Dua dari Perancis dan masing-masing dari Swedia, Belanda, Denmark, Inggris, Hungaria, serta Bohemia (sekarang berada di Cekoslowakia)—dua negara terakhir kemudian mengundurkan diri. Setelah Hungaria dan Bohemia keluar, Belanda dan Perancis berhak melaju ke semifinal tanpa bertanding.

Pertandingan pertama digelar di stadion White City pada 19 Oktober 1908. Di hadapan sekitar 2.000 penonton, Denmark meraih kemenangan telak 9-0 atas Prancis B. Striker Denmark, Vilhelm Wolfhagen, mencetak gol empat kali. Di pertandingan babak penyisihan lainnya, Inggris Raya juga mencatat kemenangan telak atas Swedia dengan skor 12-1.

Denmark kembali mencatat kemenangan telak di partai semifinal kala menghadapi Perancis. Tak tanggung-tanggung, mereka menang 17-1. Wolfhagen mencetak empat gol lagi, namun yang luar biasa adalah Sophus Nielsen. Striker yang kala itu memperkuat klub lokal, BK Frem, berhasil mencetak 10 gol dalam partai tersebut. Adapun Inggris Raya juga berhasil menang atas Belanda lewat keunggulan 4-0.

Inggris Raya kemudian berhasil mengalahkan Denmark di partai puncak dengan skor 2-0. Di hadapan 8.000 penonton, Frederick Chapman membuka kran gol Inggris pada menit ke-20. Di babak kedua, giliran pemain Tottenham Hotspur, Vivian Woodward, yang menambah keunggulan Inggris Raya. Adapun Belanda sukses meraih medali perunggu dengan mengalahkan Swedia 2-0.

Satu hal yang perlu diketahui, dari awal diadakan hingga Olimpiade 1920, tercatat hanya negara-negara Eropa saja yang berpartisipasi. Barulah pada Olimpiade 1924, untuk pertama kalinya negara-negara dari luar Eropa dapat ambil kesempatan. Mereka antara lain: Uruguay, Amerika Serikat, Turki, dan Mesir.

Uruguay kemudian berhasil menjadi juara beruntun dalam dua edisi Olimpiade: 1924 dan 1928. Kompetisi saat itu masih bersifat amatir. Artinya, pemain-pemain yang dianggap atau sudah termasuk profesional tidak diperkenankan ambil bagian.

Setelah Presiden FIFA Jules Rimet dan Sekretaris Federasi Sepakbola Perancis, Henri Delaunay, melakukan pertemuan pada 1926, akhirnya diputuskan untuk menggelar turnamen sepakbola sendiri yang bersifat profesional dan melibatkan negara-negara dari luar Eropa. Lima negara mencalonkan diri untuk menjadi tuan rumah: Belanda, Italia, Spanyol, Swedia, dan Uruguay. Dalam perjalanannya, Belanda dan Swedia mengundurkan diri dari pencalonan dan ikut mendukung Italia.

Namun, Jules Rimet kemudian memutuskan agar Uruguay yang menjadi tuan rumah. Alasannya: Uruguay merupakan tim terkuat karena telah menjadi juara Olimpiade dua edisi berturut-turut. Selain itu, turnamen ini dapat menjadi lebih global jika diselenggarakan di sana. Permasalahannya: Uruguay tidak memiliki sarana infrastruktur yang memadai. Jumlah stadion pun terbatas. Seluruh pertandingan pun akhirnya hanya dilaksanakan di satu kota saja: Montevideo.

Dalam Piala Dunia 1930 tersebut, striker Argentina, Guillermo Stabile atau yang dijuluki El Enfiltrador, tercatat sebagai pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak dengan raihan delapan gol. Sementara gol Piala Dunia pertama dicetak pemain Perancis, Lucien Laurent, pada menit ke-19 kala Les Bleus mengalahkan Meksiko 4-1. Adapun pemain Peru, Mario de Las Casas, menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah. Ia mendapatkannya ketika Peru dikalahkan Rumania 1-3 di babak grup.

FIFA sebetulnya turut mengundang Inggris untuk ikut serta dalam Piala Dunia 1930, namun undangan tersebut tidak pernah dijawab. Ini bukan tanpa alasan. Sebagai bangsa yang mengklaim telah menemukan sepakbola (berikut aturan-aturannya), ada sentimen kuat dan arogansi yang tinggi dari Inggris untuk ogah ikut turnamen tersebut. Bahkan sejak pendirian FIFA pada 1904, Inggris juga memilih absen.

Itulah kenapa kemudian para pendiri FIFA terdiri dari Belanda, Belgia, Denmark, Jerman, Perancis, Swedia, Spanyol, dan Swiss. Perancis menjadi dominan dan itulah yang menjelaskan mengapa nama resmi FIFA ditulis dalam bahasa Perancis: Fédération Internationale de Football Association. Inggris baru bergabung dengan FIFA pada 1905.


Tak lama setelah bergabung, Inggris tetap congkak: menekan FIFA agar menyingkirkan tiap negara anggota yang bergabung dengan Central Powers (dengan poros utama: Jerman dan Austria-Hungaria), musuh Inggris (yang bergabung dengan Allied Powers) dalam Perang Dunia I. FIFA menolak desakan tersebut. Inggris (bersama Wales, Irlandia, dan Skotlandia) lalu memutuskan keluar dari FIFA dan baru bergabung kembali pada 1924.

Beberapa waktu setelah kembali bergabung, negara-negara Inggris Raya bersitegang lagi dengan FIFA dalam isu pembayaran untuk para pemain amatir. Kisruh ini, lagi-lagi membuat mereka meninggalkan FIFA pada 1928 dengan alasan resmi: "Kami harus dibebaskan melakukan urusan (apa pun) berdasarkan pengalaman panjang kami".

Lewat dua insiden tersebut, maka tidak perlu heran jika Inggris, sang "penemu" sepakbola, justru absen dalam tiga edisi awal Piala Dunia (1930, 1934, 1938). Inggris baru bermain di Piala Dunia pada 1950 yang digelar di Brasil, empat tahun setelah mereka memutuskan untuk kembali bergabung dengan FIFA.



Infografik MOZAIK Piala Dunia 1930

Dua Ancaman Mati untuk Luis Monti

Argentina kala itu memiliki gelandang tengah yang amat disegani. Namanya Luis Monti. Ia memulai karier sepakbolanya di Club Huracan, Argentina. Namanya mulai melejit sejak ia bergabung dengan Juventus. Monti dikenal memiliki permainan keras dan ketahanan fisik yang luar biasa. Berkat itu, ia dijuluki “Doble Ancho”—Double Wide.

Dalam jazirah taktikal dunia, Monti memiliki peran penting. Kendati gaya bermainnya cukup kasar dan keras, ia dibekali teknik di atas rata-rata. Di Juventus, Monti bermain sebagai gelandang serang tengah dalam taktik Metodo kuno. Posisi tersebut kurang lebih sama dengan posisi gelandang bertahan dalam sepakbola era sekarang. Ketika tim dalam posisi diserang, ia akan menjadi pemain pertama yang mengawal striker lawan. Sementara jika tim ganti menyerang, Montilah komando permainannya.


Ada alasan serius kenapa Monti kemudian memilih hijrah ke Juventus. Dalam final Piala Dunia 1930, sebagaimana diketahui, Argentina sempat unggul 2-1 di babak pertama. Namun ketika istirahat, tanpa diduga beberapa pemain Argentina mulai mendapat ancaman pembunuhan dari para suporter Uruguay.

Monti termasuk pemain yang diancam. Bahkan ancaman pembunuhan tersebut juga menyasar keluarganya. Lorena Monti, salah seorang cucu Monti, membenarkan hal tersebut. “Saat istirahat, ketika Argentina masih unggul 2-1, mereka (suporter Uruguay) mengatakan jika Argentina tidak kalah, mereka akan membunuh nenek dan bibi saya.”

Di babak kedua, Argentina yang ketar-ketir akhirnya mesti kalah 2-4 dari Uruguay. Monti jelas kecewa, tapi ia tetap lega karena mengetahui keluarganya baik-baik saja. Usai laga final tersebut, bersamaan dengan tawaran yang datang dari Juventus, Monti akhirnya memilih hijrah ke Italia dan berganti kewarganegaraan.

Pada Piala Dunia 1934, Italia yang bertindak sebagai tuan rumah berhasil melanggeng ke final dan bertemu dengan Cekoslowakia. Monti pun ikut turun dalam laga tersebut. Namun berbeda dengan Argentina yang kalah di Piala Dunia edisi sebelumnya, Monti kali ini dapat merasakan gelar juara setelah Italia menaklukkan Cekoslowakia dengan skor 2-1. Monti pun tercatat sebagai satu-satunya pesepakbola yang pernah bermain di dua final dengan dua kewarganegaraan yang berbeda.


Hanya saja, ceritanya tidak semulus itu. Beberapa hari sebelum partai final digelar, Monti lagi-lagi mendapat ancaman mati. Kali ini ancaman tersebut tidak berasal dari pihak lawan, melainkan dari Benito Mussolini, diktator fasis Italia. Terkait hal ini, sang cucu kembali memberi kesaksiannya.

“Kakek saya sering mengatakan kepada kami bahwa ia memainkan dua Piala Dunia di bawah ancaman,” ujar Lorena membuka cerita.

“Dia mengatakan, sebelum partai melawan Cekoslowakia, seseorang mendatanginya ke ruang ganti dan membawa pesan dari Mussolini. Katanya akan ada konsekuensi berat yang menanti jika mereka gagal menang. Dia sering mengatakan itu waktu tahun 1930 di Uruguay, bahwa ia akan disakiti jika menang. Di Italia, empat tahun kemudian, mereka akan menyakitinya jika kalah.”

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Ivan Aulia Ahsan