Piala Dunia Italia 1934 adalah Awal Dominasi

Oleh: Bulky Rangga Permana - 12 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia pertama membuat Piala Dunia 1934 diikuti banyak tim.
tirto.id - Berbeda dengan turnamen Piala Dunia pertama yang hanya diikuti tiga belas peserta, kompetisi Piala Dunia kedua yang digelar di Italia diikuti tiga puluh dua tim nasional. Tak hanya itu, pertandingan tidak dilakukan di satu kota sebagaimana empat tahun sebelumnya, melainkan digelar di delapan kota, yakni Napoli, Fiorentina, Genoa, Bologna, Milan, Turin, dan Trieste.

Banyaknya peserta yang berpartisipasi membuat FIFA memutuskan menggunakan babak kualifikasi. Bahkan sang tuan rumah sendiri tak otomatis lolos ke putaran final. Di babak kualifikasi, Italia mengalahkan Yunani dengan skor 4-0.

Dari tiga puluh dua tim yang mengikuti babak kualifikasi hanya enam belas tim yang akhirnya lolos ke putaran final. Amerika Serikat, Mesir, Argentina, dan Brasil merupakan tim non-Eropa yang berhasil lolos dari babak kualifikasi.


Namun, setelah bersusah-payah menempuh jarak ribuan kilometer, keempat tim tersebut hanya berlaga sekali di Italia. Mereka langsung gugur di putaran pertama. Turnamen kali ini memang menggunakan sistem knock-out.

Akan tetapi, seperti empat tahun sebelumnya, Piala Dunia 1934 masih tak seluruhnya merepresentasikan tim-tim terkuat Dunia saat itu. Uruguay, sang juara bertahan, memutuskan tak tampil akibat sedikitnya tim Eropa yang bersedia datang ke Montevideo pada 1930. Sedangkan Inggris masih berselisih dengan FIFA.

Argentina, sebaliknya, datang dengan pemain amatir setelah klub-klub sepakbola di sana tak mengizinkan para pemainnya datang ke Italia. Mereka khawatir para pemainnya akan dibujuk meninggalkan Argentina oleh klub-klub setempat.

Kekhawatiran bukan tanpa alasan. Empat pemain timnas Argentina yang bermain untuk klub Italia—Luis Monti, Raimundo Orsi, Attilio Demaria, dan Enrique Guaita—memutuskan membela Italia pada Piala Dunia 1934.

Piala Dunia 1934 dan Fasisme

Benito “Il Duce” Mussolini yang naik ke tampuk kekuasaan pada 1922 menandai kelahiran rezim fasis di Eropa. Oleh Mussolini turnamen Piala Dunia 1934 betul-betul dijadikan ajang propaganda dan unjuk supremasi fasisme.

Meski bukan penggemar sepakbola, Mussolini “berperan besar dalam pembangunan stadion-stadion baru dan transportasi transportasi massa bagi tiffosi yang akan menonton pertandingan,” tulis Jim Hart dalam “When the World Cup Rolled into Fascist Italy in 1934” di thesefootballtimes.co.

Menurut Clemente Angelo Lisi hal itu karena bagi Mussolini Piala Dunia lebih dari sekadar turnamen sepakbola. Seperti yang ditulisnya dalam bab dua A History of World Cup 1930-2014 (2015), Piala Dunia merupakan “sebuah kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa rezim totalitarian yang dipimpinnya telah mengubah Italia menjadi negara adikuasa.”

“Hasilnya,” lanjut Lisi, “Mussolini sangat terlibat langsung, bahkan sampai meyampaikan kata-kata penyemangat di sebuah hotel Roma di malam sebelum partai pembuka lawan Amerika Serikat.”

Penunjukan Italia sebagai tuan rumah pun tak lepas dari serangkaian lobi yang dilancarkan rezim fasis. Meski Italia baru ditunjuk sebagai penyelenggara pada kongres FIFA 1932, namun menurut Jim Hart lobi informal sudah dilakukan sejak 1930-an.

Mengikuti Uruguay, “Sekretaris Federasi Sepakbola Italia Giovanni Mauro atas nama pemerintah fasis meyakinkan FIFA bahwa Italia akan menanggung setiap kerugian yang terjadi selama turnamen berlangsung.”

Italia vs Austria

Piala Dunia 1934 menandai lahirnya sebuah dominasi dan akhir sebuah dominasi yang lain. Italia tak hanya akan memenangkan Piala Dunia 1934, tetapi juga merebut medali emas Olimpiade Berlin 1936 dan menjuarai Piala Dunia 1938. Austria, sebaliknya, mulai memasuki periode kemunduran setelah menjadi kekuatan utama sepakbola Eropa pada awal 1930-an.

Kendati demikian, tim berjuluk “Wunderteam” ini tetap difavoritkan juara. Apalagi empat bulan sebelum turnamen Piala Dunia 1934 resmi dibuka, Austria sempat membungkam Italia 4-2 di Turin.

Berada di bawah asuhan Hugo Meisl, orang yang berperan penting dalam menjadikan sepakbola sebagai olahraga profesional, Austria menjadi tim nasional yang paling disegani sebelum Perang Dunia II. Menerapkan gaya yang dikenal dengan sebutan Mazhab Danube—sebuah perpanjangan dari permainan upan cepat ala Skotlandia—Austria mencatatkan empat belas kemenangan beruntun dari April 1931 hingga Desember 1932.


infografik piala dunia kedua

Namun, Austria, seperti timnas Hongaria 1954 dan Belanda 1974 “menjadi tim nasional besar pertama yang tak menjuarai turnamen utama,” tulis Jonathan Wilson dalam bab dua Inverting The Pyramid: The History of Soccer Tactics (2013).

Kutub kekuatan sepakbola Eropa kemudian memang beralih ke timnas Italia yang saat itu ditangani oleh Vittorio Pozzo, seorang pelatih yang dicatat FIFA “tidak hanya membangun kesebelasan yang dianggap setara dengan tim besar lain di setengah abad pertama abad 20, melainkan juga menjadi figur utama yang memberi landasan bagi banyak karakteristik tradisional sepakbola Italia: pragmatisme kukuh bercampur dengan ketelitian yang kompleks.”

Sayangnya keduanya tak bertemu di partai puncak, melainkan di semifinal. Italia melaju ke semifinal setelah mengalahkan Spanyol di putaran dua. Digambarkan sebagai pertandingan paling keras di Piala Dunia 1934, kemenangan harus ditentukan lewat pertandingan ulang, setelah pada laga pertama kedua tim berakhir imbang 1-1 selama 120 menit. Di partai ulangan, Italia berhasil mengunci pertandingan lewat gol yang dicetak Giuseppe Meazza di menit ke-12. Sedangkan Austria berhasil melangkah ke semifinal setelah mengalahkan Hongaria 2-1.


Namun, di pertandingan semifinal yang dipadati 35 ribu penonton itu keberuntungan rupanya tak berpihak pada Austria. Di bawah guyuran hujan, Austria yang mengandalkan pada penguasaan teknik dan umpan-umpan pendek menjadi tak berdaya di lapangan San Siro yang becek.

Di menit 19 Italia memimpin lewat gol Enrique Guaita dan selama babak pertama Austria hanya mampu mencatatkan satu kali tendangan ke gawang. Selepas turun minum, Austria memang mencoba bangkit. Serangan demi serangan bertubi-tubi dilancarkan tim asuhan Meisl. Namun, Gianpiero Combi, kapten sekaligus penjaga gawang tim tuan rumah berhasil mematahkan itu semua. Italia menang 1-0 dan melaju ke final.

Di partai puncak, Italia berhadapan dengan tim dari Mazhab Danube yang lain, Cekoslovakia, dan kembali menang.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA atau tulisan menarik lainnya Bulky Rangga Permana
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Bulky Rangga Permana
Penulis: Bulky Rangga Permana
Editor: Zen RS