Piala Dunia 2018

Faktor-Faktor yang Membuat Eropa Mendominasi Piala Dunia

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 12 Juli 2018
Dibaca Normal 5 menit
Selama 1958-2002, tim Eropa dan Amerika Latin selalu silih bergantian juara. Setelah 2002, 4 kali berturut-turut tim Eropa menjuarai Piala Dunia.
tirto.id - Usai Uruguay kalah dari Perancis pada babak perempatfinal, seseorang wartawan Bolivia bertanya pada Óscar Tabárez. Pertanyaannya kira-kira: "Mengapa sepakbola Amerika Selatan kini terpuruk? Bagaimana mungkin benua yang melahirkan Messi, Pele dan Maradona serta permainan cantik garra charrúa ala Uruguay atau joga bonito ala Brasil begitu kepayahan?

Si wartawan bertanya pada waktu yang tak tepat. Brasil kala itu belum bertanding melawan Belgia. Wajar jika jawaban Tabarez tidak memuaskan.

“Jangan tanya saya sesuatu yang belum terbukti. Saya pikir ada hal-hal lain yang patut dikomentari,” katanya dikutip dari Sport Illustrated.

Tabarez bersikeras Brasil akan tetap bertahan. "Kita tidak bisa mengambil pertandingan hari ini sebagai titik acuan [sebagai kegagalan Amerika Selatan]," tuturnya. Beberapa jam usai mengatakan ini, Brasil pun pulang kampung menyusul Uruguay.

Alhasil wakil di semifinal tinggal menyisakan Perancis, Belgia, Inggris dan Kroasia yang semuanya berasal dari Eropa. Hal ini ditanggapi Gary Lineker yang berkelakar Piala Dunia 2018 kini tak ubahnya seperti "Piala Eropa". Untuk menggambarkan kekalahan Brasil atas Belgia, harian olahraga terkemuka di Spanyol, AS bahkan memakai judul "Europemundial" sebagai headline mereka.

Eropa sudah pasti akan meraih gelar juara dunia empat kali berturut-turut, sejak 2006 (Italia), 2010 (Spanyol) dan 2014 (Jerman). Padahal jika merujuk statistik sebelum Brasil memenangkan Piala Dunia 2002, trofi ini selalu digilir selang-seling pindah kepemilikan dari Eropa atau Amerika Selatan setiap turnamen digelar. Kali terakhir terjadi gelar juara berturut-turut oleh negara dari benua yang sama terjadi pada 1954 dan 1958 oleh Brasil. Sebelum 2002, kali terakhir Eropa mengklaim gelar berturut-turut terjadi saat Italia juara pada 1934 dan 1938.

Saat ini, secara head to head, dari 20 gelaran Piala Dunia, 9 gelar lari ke Amerika Selatan dan 11 sisanya dimenangkan Eropa. Pada statistik tim yang lolos ke final, Eropa sudah 28 kali meloloskan anggotanya ke final, 12 juara dan 16 runners-up. Sedangkan Amerika Selatan dari 14 kesempatan ke final, hanya lima yang gagal dikonversi jadi juara.

Dalam konteks semifinal yang seluruhnya diisi oleh negara dari benua Eropa, yang terjadi di Rusia ini merupakan peristiwa kelima. Sebelumnya, pada 1934, 1966, 1988, dan 2006, hal yang sama pernah terjadi.

Kenapa Eropa Begitu Superior?

Dalam hitung-hitungan kasar, probabilitas bagi Eropa memang lebih tinggi ketimbang benua lain sebab alokasi wakil dari Eropa adalah yang terbanyak. Di Piala Dunia kali ini, jatah Eropa mencapai 13 tim. Amat timpang dibandingkan benua lain yang hanya dapat jatah empat plus ditambah 2 kursi dari babak play-off.

Meski begitu kekuatan tim Eropa juga lebih merata ketimbang benua lain. Eropa juga unggul dalam kedalaman bakat yang bisa menyamai Eropa. Hal ini bisa dilihat dari catatan statistik 13 semifinalis Eropa terakhir, hampir 80 persennya berasal dari sembilan negara berbeda. Beda dengan Amerika Latin yang hanya mengandalkan Brasil, Argentina, dan Uruguay saja.

Tabárez juga memberi jawaban yang lain kepada wartawan Bolivia itu. "Anda telah mengatakan sepakbola Eropa lebih kuat, ini berarti Anda menganggap realitas sepakbola hanya dianggap dari sudut pandang keuangan ketimbang sudut pandang sejarah," katanya, masih dikutip dari Sports Illustrated.

Uang adalah kunci kenapa sepakbola Eropa begitu dominan dalam dua dekade terakhir. Industrialisasi sepakbola di Eropa semakin berkembang pesat dengan perputaran uang hingga milyaran dolar.

Laporan terbaru Delloite menyebut pasar sepakbola Eropa saat ini bernilai 25,5 miliar euro atau 4.241 triliun, angka ini lebih besar ketimbang GDP gabungan antara Brasil, Argentina, Uruguay, dan negara Amerika Latin lain ditambah seluruh GDP negara Afrika yang jika ditotal hanya berkisar 15 miliar Euro. Menurut Deloitte, 20 klub teratas olahraga - yang semuanya berasal dari Eropa - memperoleh pendapatan lebih dari $9 miliar pada 2016-17.

Permintaan untuk menonton tim-tim top di TV ini membuat pemasukan dari televisi dan sponsor menjadi semakin melambung. Pada musim 2016-17 saja, 20 klub di Liga Inggris menghasilkan pendapatan sekitar $ 6 miliar. Uang ini belum termasuk konsesi dari UEFA. Otoritas tertinggi di Eropa ini memperkirakan Liga Champions, Liga Europa, dan Piala Super musim depan akan menghasilkan sekitar 3,8 miliar dolar.

Banyak uang ini dihabiskan untuk meningkatkan sepakbola mereka sendiri. Dari mulai membangun pusat pelatihan yang bagus, yang menggunakan semua kemungkinan teknologi terbaru, pusat pengembangan fisik dan nutrisi, pusat database atlet dan lain-lain. Proses pengembangan ini dilakukan kepada para pemain sejak dini. Hal ini tak dilakukan sepenuhnya di luar Eropa. Tidak ada klub di luar Eropa yang masuk dalam daftar 50 besar klub terkaya di dunia. Sejauh ini, tidak ada yang mengalahkan pembinaan tim-tim Eropa.


Misal, di saat Kevin de Bruyne sudah mendapatkan fasilitas teknologi modern sejak usia 8 tahun di Akademi Genk, Belgia, sebaliknya Gabriel Jesus masih jadi pesepakbola jalanan dan baru bergabung di klub profesional pada umur 16 tahun.

Selain faktor perputaran uang di kompetisi Eropa, tingginya GDP per kapita di Eropa ketimbang Amerika Latin atau Afrika ditengarai jadi sebab lain. GDP selalu jadi patokan kemajuan sebuah negara. Namun asumsi ini dibantah oleh majalah The Economist dalam riset mereka berjudul What makes a country good at football yang mengatakan GDP ini tak mesti linier dengan prestasi. Ada banyak faktor penentu lain.

Jika GDP jadi patokan, lantas mengapa China dan negara-negara Arab gagal mengembangkan sepakbola? Presiden China, Xi Jinping yang ingin negaranya menjadi negara adidaya pada 2050 memiliki "proyek 119" dengan membangun 20.000 pusat pelatihan baru dan akademi terbesar di dunia di Guangzhou, dengan menelan biaya 185 juta dollar. Tak ayal ia pun merealisasikan pendidikan sepakbola pada 50.000 sekolah di China.

Begitu juga dengan Uni Emirat Arab dan Qatar yang telah menghabiskan miliaran dolar untuk membeli klub-klub top Eropa macam PSG, Manchester City dll dan berharap untuk belajar dari mereka. Arab Saudi membayar La Liga agar mau menampung sembilan pemain timnas Saudi di liga Spanyol. Hasilnya mereka tetap saja gagal.

Iklim Bagus agar Sepakbola Bisa Berkembang

The Economist telah membangun model statistik untuk mengidentifikasi apa saja yang membuat timnas sebuah negara bisa berkembang. Mereka mengambil data dari semua pertandingan internasional sejak 1990 dan melihat variabel mana yang berkorelasi dengan selisih gol antar tim.

Mereka meniru apa yang dilakukan Stefan Szymanski, seorang ekonom di University of Michigan, yang telah membangun model serupa, dan menemukan bahwa negara-negara kaya cenderung lebih berprestasi di bidang olahraga. Data ini dikombinasikan dengan GDP dan sejauh mana popularitas sepakbola di negara itu berdasarkan pencarian orang di Google.

Ada empat sebab membuat sebuah negara bisa berprestasi. Pertama, dorongan kepada anak untuk mengembangkan sepakbola secara kreatif. Kata Jonathan Wilson, apa yang dilakukan China dengan memaksa ribuan anak mengikuti program secara terpaksa hanya akan seperti robot. Triknya bukan hanya membuat banyak anak bermain bola, tetapi juga membiarkan mereka berkembang secara kreatif.

George Weah, pemain terbaik dunia pada 1995 yang sekarang menjadi Presiden Liberia, mengembangkan kompetisi sepakbola dengan bola kain di daerah kumuh berawa agar memancing anak miskin bermain bola. Di Perancis, ballon sur bitume atau sepakbola jalanan kini berkembang pesat. Dari permainan lima versus lima banyak menghasilkan pemain brilian dan terampil macam Pele, Maradona, Messi, Cristiano Ronaldo, Neymar dan Iniesta.


Infografik Dominasi Eropa di Piala Dunia


Masih dalam laporan The Economist, syarat sebuah negara bagus untuk perkembangan sepakbola adalah saat remaja-remaja berbakat itu tetap ada di jalur sebagai atlet. Di Korea Selatan, Hiddink melihat pesepakbola potensial malah banyak bermain di klub milik tentara dan kampus.

Dalam kasus berbeda, untuk menyiasati ini federasi sepakbola Jerman (DFB) membikin 360 pusat pelatihan regional bagi mereka yang gagal seleksi bersaing di tahap nasional. Namun siapa sangka, dari kelompok buangan inilah lahir Andre Schurrle. Namun bagi negara Afrika dan Amerika, program semacam itu amat musykil terjadi. Sebab, kata Abdoulaye Sarr, mantan manajer Senegal, faktor kemampuan finansial menjadi faktor penting. Senegal yang punya banyak kumpulan bakat hebat itu nyaris tak tersentuh semuanya.

Faktor ketiga soal jaringan. Amat penting sebuah negara memiliki pemain yang diekspor ke negara lain, khususnya ke negara yang maju secara sepakbola. Berkaca pada Kroasia, sejak 1991, ketika 4 juta orang Kroasia meraih kemerdekaan, tidak ada klub Kroasia yang berprestasi di Liga Champions. Namun mereka memiliki pemain yang bekerja untuk Real Madrid, Barcelona, ​​Bayern Munich, dan Milan, dan saat kembali dari perantauan itulah mereka membawa Kroasia ke semifinal pada 1998 dan 2018.

“Sekali tim nasional tampil baik di Piala Dunia, dan beberapa pemainnya melakukannya dengan baik, maka akan ada banyak klub yang ingin merekrutnya,” kata Jonathan Wilson.

Soal jaringan ini juga yang membikin Belgia dan Perancis jadi salah satu tim terkuat di Piala Dunia. Mereka mampu memanfaatkan kelebihan para imigran Afrika yang data ke negaranya. Patrick Vieira adalah contohnya. Ia meninggalkan Dakkar saat berusia delapan tahun. Dia adalah salah satu dari beberapa imigran Prancis yang memenangkan Piala Dunia pada 1998. Ia bergabung bersama Perancis sebab negara asalnya tidak pernah menghubungi dia.


Pakem-pakem di atas sebenarnya sudah dilakukan oleh negara-negara Eropa. Namun, kata Szymanski, strategi ini akan jadi semacam "perangkap" bagi negara berkembang yang ingin cepat menyalin teknologi dari yang kaya, sebab pada ujungnya mereka akan gagal menerapkan reformasi struktural ini. Reformasi semacam ini membutuhkan kesabaran, rencana yang rapi, dan tak bisa dibebankan secara individual. Ia merujuk pada China yang membayar Marcelo Lippi hingga 28 juta dollar per tahun untuk melatih tim nasional.

Namun bagi negara yang punya kultur sepakbola kuat di Amerika Latin seperti Argentina atau Brasil, reformasi sistem ini sebetulnya lebih mungkin dilakukan karena banyaknya pemain muda berbakat. Namun, sejauh ini, dalam soal pengembangan usia dini, Eropa lebih maju ketimbang Amerika Latin atau Afrika. Lagipula jika menilik kekuatan tim-tim non-Eropa, inti kekuatan mereka amat bergantung pada pemain diaspora yang bermain di Benua Biru. Lambannya pembinaan pada tim-tim dan kompetisi domestik di luar Eropa menjadi sebab Benua Biru akan mendominasi kembali Piala Dunia.

Terakhir kali tim Amerika Latin menjadi juara terjadi pada 2002. Brasil saat itu masih diperkuat oleh Ronaldo, Rivaldo dan Ronaldinho (dengan Kaka di bangku cadangan) secara berbarengan. Mereka menjadi juara dengan mengalahkan Jerman di final. Yang orang banyak lupa, skuat Brasil saat itu diperkuat oleh 13 pemain (lebih dari 50 persen) yang sehari-harinya bermain di liga lokal Brasil.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Zen RS
DarkLight