tirto.id - Seniman Susilo Nugroho alian Den Baguse Ngarso meninggal dunia pada Senin (21/9/2026). Ia merupakan seniman senior di Yogyakarta dengan rekam jejak panjang dalam dunia seni peran.
Kabar duka bagi dunia seni peran Yogyakarta ini telah dikonfirmasi oleh para kerabat Susilo. Beberapa rekan sesama seniman yang telah mengonfirmasi kabar ini termasuk Bambang Paningron.
Susilo dilaporkan meninggal dunia di kediamannya di Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Seniman itu meninggal dunia di tempat tidurnya.
Jenazah Susilo juga sempat dibawa ke Rumah Sakit Bethesda untuk dikonfirmasi secara medis. Setelah itu, jenazah dibawa ke rumah duka di Mantrijeron.
Sepanjang hidupnya, Susilo Nugroho dikenal sebagai pelaku seni peran asal Yogyakarta. Namanya melekat pada karakter Den Baguse Ngarso yang pernah ia perankan dalam serial Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Yogyakarta.
Profil Susilo Den Baguse Ngarso dan Jejaknya dalam Seni Peran
Di Yogyakarta, nama Susilo Nugroho dikenal sebagai salah satu aktor senior dalam industri seni peran Ia merupakan aktor yang mentas dari kultur teater di sana.
Susilo dikenal luas oleh publik Yogyakarta karena perannya dalam serial Mbangun Deso yang sempat populer melalui TVRI Yogyakarta pada dekade 1990-an. Kala itu ia memerankan karakter antagonis Den Baguse Ngarso dengan begitu apik hingga membuat sosok itu begitu identik padanya.
Akan tetapi di luar perannya sebagai Den Baguse Ngarso, ia telah sejak lama turut menghidupkan geliat seni peran di Yogyakarta. Kemampuannya dalam berakting telah dipraktikkan Susilo di satu panggung teater ke panggung teater lainnya.
Susilo merupakan salah satu penggiat yang memotori kelahiran Teater Gandrik pada 1983. Ia salah satu pemrakarsa teater tersebut bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Novi Budianto.
Pada dekade 1980-an, Yogyakarta masih menjadi salah satu wilayah dengan kultur teater yang menggeliat hebat. Teater Gandrik saat itu menjadi salah satu yang menonjol. Grup ini memiliki pendekatan dalam memainkan lakon-lakon yang dekat dengan rakyat jamak.
Salah satu kekhasan Teater Gandrik adalah kepiawaian dalam menjadikan komedi sebagai metode untuk menyuarakan pendapat, termasuk kritik kepada penguasa. Sebagaimana anggota yang lain, Susilo juga berperan untuk membangun ciri khas Teater Gandrik itu.
Kekhasan Teater Gandrik memandang seni peran sebagai alat menyuarakan aspirasi, terus melekat dalam diri seorang Susilo. Ketika ia tergabung dalam produksi serial Mbangun Deso, karakter Den Baguse Ngarso juga tak luput dari spektrum itu.
Den Baguse Ngarso merupakan karakter antagonis. Ia perwujudan golongan priyayi yang sombong, mau menang sendiri, dan sinis pada kelas masyarakat di bawahnya. Susilo kemudian dinilai banyak pihak telah menghidupkan karakter itu sebagai bentuk kritik dan teguran terhadap dinamika politik yang terjadi.
Susilo memang unik. Ia mendapatkan sumber humor dalam perannya dari ekspresi kesadaran diri dan sinismenya dalam memandang beragam masalah sosial, politik, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari. Alhasil, peran yang disajikan cukup mengena.
Meskipun tak memiliki riwayat pendidikan formal di bidang kesenian, namun kiprah Susilo di dunia seni peran telah diakui oleh banyak pihak. Pengalamannya dari satu panggung teater ke teater lain bahkan membuatnya kerap diminta bantuan oleh para mahasiswa jurusan seni di Yogyakarta untuk terlibat dalam pentas yang mereka buat.
Ketika lampu sorot seni peran Indonesia mulai meluas dari teater panggung ke format film, Susilo juga turut serta mengikuti perkembangan zaman. Ia tercatat ikut membintangi dalam sejumlah film dan serial.
Di kancah perfilman tanah air, Susilo turut bermain dalam film Preman in Love (2019), Ayat-Ayat Adinda (2015), Ipar adalah Maut (2024), dan Sah! Katanya… (2025). Selain itu, ia juga pernah memainkan peran dalam film pendek Lemantun (2014) dan Nusabrata (2022).
Dalam format serial, nama Susilo Nugroho identik sebagai pemain tayangan Mbangun Deso yang mengudara di TVRI Yogyakarta pada 1988-2008. Selain itu, ia juga berperan dalam serial web Telu (2020-2021).
Sementara itu, Susilo memiliki riwayat pendidikan formal yang lengkap tapi tidak ada yang berlatar seni. Ia merupakan alumni SD Suryodiningratan II Yogyakarta (1971), SLIP Pangudi Luhur I Yogyakarta (1974), dan SMA Kolese de Britto Yogyakarta (1977). Pendidikan tingginya diseleseaikan di jurusan Ekonomi IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1982).
Susilo juga pernah mengampu pekerjaan sebagai guru. Ia tercatat menjadi pensiunan guru di SMK Negeri 1 Bantul (2019)
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































