Menuju konten utama

Update Perang Saudi-Houthi: Turki Siap Bantu Militer Saudi

Seiring pertikaian Saudi dan Houthi Yaman, Turki telah menawarkan diri untuk membantu militer Saudi. Di sisi lain, serangan Houthi ke Saudi makin intens.

Update Perang Saudi-Houthi: Turki Siap Bantu Militer Saudi
Ilustrasi militer arab saudi. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perang antara Arab Saudi dan kelompok bersenjata Houthi di Yaman makin intensif dalam sepekan terakhir. Berdasarkan update situasi yang terjadi, Turki belakangan menyatakan kesiapan mereka untuk membantu Saudi secara militer dan menandakan eskalasi konflik semakin meluas.

Kesiapan Turki untuk membantu Saudi itu dilaporkan telah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Seturut The Economic Times, Fidan membuat pernyataan pada Sabtu (19/9/2026) bahwa Ankara siap memberikan “solidaritas serius” kepada Riyadh.

Fidan menyebut Ankara akan memberikan bantuan kepada Saudi sesuai dengan pakta pertahanan trilateral yang disepakati Saudi, Turki, dan Pakistan. Menurutnya, serangan yang dialami Saudi belakangan ini telah memenuhi syarat untuk mengaktifkan isi perjanjian itu.

“Mereka [Saudi] mungkin mempunyai kebutuhan militer, terutama pada beberapa masalah teknis. Kami tidak punya masalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” kata Fidan.

Melansir India Today, Turki telah menandatangani pakta pertahanan trilateral dengan Saudi dan Pakistan pada Agustus 2026. Pakta yang diberi nama Perjanjian Makkah ini menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota pakta maka akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiga negara tersebut.

Menurut Fidan, sejauh ini Ankara belum melakukan diskusi bersama Islamabad terkait respons militer terhadap Houthi berdasarkan pakta trilateral itu. Namun, ia menyebut semua pihak akan bertindak ketika “waktunya tiba”.

Houthi Klaim Lakukan Serangan ke Riyadh

Kesiapan Turki untuk membantu Saudi itu diungkap seiring eskalasi pertempuran yang terjadi antara Saudi dan Houthi. Terbaru, Houthi mengklaim bahwa pihaknya telah melancarkan serangan ke Riyadh, ibu kota Saudi.

Menukil The Guardian, Houthi membuat pernyataan resmi pada Sabtu (19/9) waktu setempat berisi klaim bahwa mereka telah menyerang situs “sensitif” Saudi di Riyadh dengan rudal dan drone. Pernyataan ini dikeluarkan beberapa jam setelah kobaran api dan kepulan asap hitam besar terlihat membumbung di atas bandara Riyadh.

Kebakaran itu dilaporkan telah terjadi di area Bandara Internasional King Khalid di kota tersebut. Tangki bahan bakar berlogo perusahaan Aramco disebut merupakan sumber kepulan asap membumbung ke udara.

Sepanjang Jumat (18/9) malam hingga Sabtu pagi, Pemerintah Saudi juga dilaporkan telah mengirimkan peringatan serangan udara kepada penduduk di Riyadh. Peringatan macam itu dilakukan selama eskalasi pertempuran Saudi dan Houthi terjadi sejak Juli lalu.

Laporan AFP pada Sabtu juga menyebut penduduk Riyadh mendengar sejumlah suara mirip ledakan yang menggema di beberapa bagian kota itu selama beberapa jam peringatan diberikan. Namun, sejauh ini otoritas Saudi belum memberikan keterangan resmi terkait potensi kerusakan di Riyadh.

Menurut laporan Al Arabiya, otoritas Saudi sejauh ini hanya merilis klaim bahwa sistem pertahanan mereka telah mencegat sebuah rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke Riyadh pada Sabtu dini hari. Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi di Yaman, Mayjen Turki al-Malki, menyebut serangan itu dilancarkan Houthi untuk menargetkan warga dan objek sipil di Riyadh.

“[Houthi telah] menunjukkan sikap keras kepala milisi dan penargetan warga sipil dan objek sipil yang terus-menerus, sengaja, dan sistematis, yang mencerminkan perilaku bermusuhan dan teroris,” kata al-Malki dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu malam.

Juru bicara itu juga menuding Houthi telah melancarkan serangan meluas. Selain Riyadh, serangan Houthi disebutnya juga menargetkan kawasan Baish, Taif, Farasan, dan Yanbu. Namun, al-Malki mengeklaim serangan-serangan itu berhasil digagalkan.

Sejauh ini, tak ada laporan yang terkonfirmasi secara independen terkait skala kerusakan yang terjadi akibat serangan ke Saudi pada Sabtu. Laporan korban jiwa juga sejauh ini tak disebutkan.

Pertempuran antara Saudi dan Houthi sebelumnya telah meningkat seiring berlangsungnya Perang Iran-AS sejak Februari lalu. Pertempuran ini menjadi dampak turunan akibat perang tersebut.

Houthi, yang dikenal sebagai kelompok bersenjata yang didukung Iran, belakangan berupaya untuk mengintensifkan pengaruh mereka di Selat Bab el-Mandeb. Selat tersebut merupakan jalur penting dalam distribusi komoditas energi via Laut Merah.

Di sisi lain, Saudi kini makin bergantung dengan jalur pelayaran Laut Merah via selat tersebut untuk mendistribusikan komoditas energi mereka. Jalur itu kian jadi pilihan Saudi seiring tak kunjung terselesaikannya persoalan jalur pelayaran via Selat Hormuz.

Kompleksitas itu kini jadi persoalan terbaru terkait distribusi energi global imbas penutupan Selat Hormuz di Teluk. Hal ini seiring status Saudi sebagai salah satu eksportir minyak mentah terbesar di dunia.

Baca juga artikel terkait ARAB SAUDI atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar