Menuju konten utama

Ada Apa dengan Houthi dan Arab Saudi, Benarkah Saling Serang?

Ketegangan Houthi dan Arab Saudi kembali meningkat setelah Saudi mencegat drone dekat Makkah. Houthi membantah menargetkan kota suci.

Ada Apa dengan Houthi dan Arab Saudi, Benarkah Saling Serang?
Citra satelit memperlihatkan kerusakan pada fasilitas pipa Timur-Barat di wilayah Hejaz, Arab Saudi, pada 11 September 2026. 2026 Foto/Planet Labs PBC/Handout via REUTERS.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Arab Saudi melaporkan telah berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah drone yang disebut diluncurkan kelompok Houthi dan bergerak menuju Makkah pada Selasa malam, 15 September 2026.

Insiden tersebut kemudian diikuti peringatan keamanan di Makkah, Jeddah, dan Taif, yang diaktifkan selama beberapa menit sebelum dicabut. Ada apa dengan Houthi dan Arab Saudi?

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki al-Maliki, mengatakan sistem pertahanan udara Saudi menghancurkan drone tersebut di sebelah selatan Makkah sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas kota suci.

Saudi menyebut insiden itu sebagai upaya kedua Houthi untuk menargetkan Makkah setelah serangan rudal balistik yang menurut Riyadh terjadi pada Juli 2017. Al-Maliki menyebut keamanan dua Masjid Suci dan para jemaah sebagai “garis merah”.

Namun tuduhan Arab Saudi itu dibantah oleh Houthi. Sumber militer Houthi yang dikutip SABA mengatakan pihaknya sama sekali tidak mengancam Makkah maupun situs-situs suci Islam. Mereka juga menyebut tuduhan Saudi sebagai informasi yang keliru.

"Kami secara tegas membantah adanya ancaman apa pun dari Yaman yang ditujukan ke kota Mekkah atau situs suci lainnya," ujar sumber tersebut seperti dilaporkan Al Jazeera, Selasa(15/9/2026).

Ada Apa dengan Houthi dan Arab Saudi, Benarkah Saling Serang?

Arab Saudi kembali menghadapi ketegangan dengan kelompok Houthi di Yaman setelah konflik di sepanjang perbatasan selatan kedua negara meningkat sejak Juli 2026.

Houthi, kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman dan memiliki hubungan dekat dengan Iran, kini berhadapan dengan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan dari Arab Saudi.

Bagi Riyadh, persoalan ini tidak hanya menyangkut perang di Yaman, tetapi juga telah berkembang menjadi ancaman langsung terhadap keamanan wilayah Saudi dan kepentingan ekonominya.

Serangkaian serangan Houthi ke wilayah Saudi dilaporkan telah melukai sekitar 100 orang sejak konflik kembali meningkat pada Juli. Pada Senin malam, serangan terbaru bahkan menyebabkan 13 orang terluka.

Houthi Blokir Pengiriman Minyak Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb

Salah satu persoalan yang membuat situasi semakin serius adalah posisi geografis Yaman yang berada di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur laut sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur ini sangat penting bagi perdagangan internasional dan pengiriman energi.

Pada Juli 2026, Houthi dilaporkan memblokir pengiriman minyak Saudi melalui Bab el-Mandeb. Jalur tersebut menjadi semakin penting bagi Saudi karena pada saat yang sama Selat Hormuz, jalur utama lainnya untuk pengiriman minyak dari kawasan Teluk, mengalami gangguan akibat konflik AS dengan Iran.

Dengan demikian, tekanan terhadap Bab el-Mandeb membuat Saudi menghadapi persoalan yang bukan hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga ekspor minyak dan kestabilan perekonomian.

Situasinya menjadi lebih memanas setelah jalur alternatif pengiriman minyak Saudi melalui jaringan pipa East-West juga dilaporkan mengalami serangan sehingga membutuhkan waktu untuk diperbaiki.

"Pipa East-West di wilayah Riyadh dan Madinah mengalami beberapa serangan. Operasi pipa dihentikan sebagai langkah pencegahan, dan serangan tersebut mengakibatkan sejumlah orang terluka," ujar seorang pejabat kepada kantor berita SPA dikutip DW, 11 September 2026.

Houthi juga dilaporkan berhasil mengambil alih sejumlah posisi strategis di pesisir Yaman, termasuk wilayah sekitar Mokha dan Pulau Perim yang berada di dekat Bab el-Mandeb.

Arab Saudi Minta Dukungan Mesir

Karena serangan Houthi dirasa semakin meningkat, Arab Saudi juga mulai mencari dukungan dari negara lain. Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman pada Selasa (15/9) menghubungi Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi untuk membahas perkembangan tersebut.

Kedua pemimpin menekankan pentingnya menjaga kebebasan dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan Saudi-Houthi kini sudah berkaitan dengan keamanan jalur perdagangan internasional, bukan hanya perang di Yaman.

Konflik Arab Saudi vs Houthi Terjadi Sejak 2015

Konflik Arab Saudi dan Houthi sebenarnya berawal dari perang saudara di Yaman. Houthi berhasil menguasai ibu kota Sanaa pada 2014 dan kemudian menggulingkan pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi.

Kondisi tersebut membuat Arab Saudi turun tangan pada 2015 dengan memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintah Yaman dan melawan Houthi.

Perang kemudian berlangsung selama bertahun-tahun, dengan Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Saudi, sedangkan koalisi pimpinan Saudi melakukan serangan udara terhadap wilayah yang dikuasai Houthi. Konflik ini juga semakin terkait dengan persaingan regional antara Saudi dan Iran, yang disebut mendukung Houthi.

Pertempuran besar mulai mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022. Meski gencatan senjata resmi berakhir pada Oktober tahun yang sama, tingkat kekerasan tetap jauh lebih rendah dibandingkan periode perang sebelumnya dan upaya mencari penyelesaian politik terus berlangsung.

Namun, konflik tidak benar-benar selesai. Ketegangan kembali meningkat, terutama setelah Houthi terlibat dalam serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah sejak perang Israel-Hamas 2023 serta kembali melakukan serangan ke wilayah Saudi pada 2026.

Baca juga artikel terkait HOUTHI atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra