Menuju konten utama

Kala UMKM Lokal dan Disabilitas Kian Berdaya Lewat Bakti BCA

BCA Expo Jabodetabek 2026 menjadi ruang bagi mereka yang selama ini dibina BCA untuk terus berdaya dan makin naik kelas di panggung perekonomian.

Kala UMKM Lokal dan Disabilitas Kian Berdaya Lewat Bakti BCA
Nail Art by MUA Tuli Bakti BCA. foto/Dok. BCA
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sabtu siang, 12 September 2026, Hall 5-10 ICE BSD City, Tangerang, telah riuh oleh pengunjung BCA Expo Jabodetabek 2026. Di tengah deretan promo bunga KPR dan pajangan mobil baru, ada satu sudut yang bergerak dalam sunyi. Jemari-jemari lincah menari di atas kuku pengunjung, membentuk motif bunga tanpa sepatah kata terucap. Bahasa isyarat dan senyum hangat menjadi bahasa utama di sana.

Nagita, salah satu perias di booth itu, adalah penyandang tuli. Namun keterbatasan pendengaran sama sekali tak menghalangi tangannya memoles kuku pengunjung dengan rapi sebagai bagian dari Nail Art by MUA Tuli Bakti BCA. Ia adalah bagian dari komunitas rias yang seluruh seniman di baliknya penyandang disabilitas.

"Saya merasa Bakti BCA mendukung teman-teman Tuli dan penyandang disabilitas, bahwa kami juga harus pasti bisa," kata Nagita ditemui di BCA Expo 2026, Sabtu (12/9/2026).

Booth kecil di dekat pintu Hall 7 ICE BSD itu adalah satu dari sekian wajah pemberdayaan dari Bakti BCA, program tanggung jawab sosial BCA yang membentang di lima sektor: kesehatan, pendidikan, budaya, UMKM dan Desa Bakti BCA, serta lingkungan.

BCA mendampingi setiap komunitas binaan secara human to human, rata-rata tiga tahun, hingga mereka bisa bergerak secara mandiri. Saat ini Bakti BCA membina puluhan desa wisata di berbagai penjuru Indonesia, dan BCA Expo menjadi salah satu panggung tahunan bagi mereka untuk tampil ke publik lebih luas.

“Kami senang Bakti BCA mendukung dan memberikan semangat,” terang Nagita sumringah dengan bahasa isyarat.

Beberapa meter dari booth Nail Art binaan Bakti BCA, aroma rebusan dan jajanan pasar mengundang nostalgia. Inilah tempat Warung Bakti BCA, yang dijaga oleh Radit siang itu. Konsepnya dibuat jadul, dan pengunjung tak perlu membayar tunai untuk mencicipinya, cukup mengaktivasi konten di media sosial.

"Konsepnya jadul, menawarkan jajanan zaman dulu bagi pengunjung," kata Radit di lokasi.

Menurut Radit, Warung Bakti BCA menjadi simbol bahwa UMKM lokal bisa memiliki panggung lebih luas. Ia mengaku antusiasme pengunjung yang mampir ke warung jadul tersebut begitu antusias.

“Responsnya antusias, banyak yang merasa flashback,” sambung Radit.

Tak jauh dari situ, booth Toserba UMKM binaan Bakti BCA tampak lebih ramai. Handaru, penjaganya, sibuk melayani pengunjung yang memborong batik Pekalongan, keripik tempe, hingga olahan bawang dari Brebes.

Produk-produk itu, kata Handaru, adalah hasil UMKM binaan yang selama ini didampingi Bakti BCA agar naik kelas dan dikenal pasar yang lebih luas.

"Tujuannya memperluas pasar UMKM, membantu mereka berkembang dan dikenal lebih luas. Yang paling diminati keripik tempe, bawang-bawangan, dan outer batik Pekalongan," kata Handaru ditemui Tirto di lokasi.

Di dalamnya, terdapat kain-kain dengan gradasi warna alami dari cokelat tanah hingga biru nila terpajang di bagian Wastra Warna Alam binaan Bakti BCA. Kain itu diwarnai memakai tanaman indigo dan akar mengkudu, lalu dirajut tangan oleh penenun binaan Bakti BCA di Sumba Timur, Sumatra Utara, hingga Badui.

Proses seni kebudayaan lokal yang bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan untuk selembar kain. Menurut Handaru, lewat Bakti BCA, komunitas dan UMKM lokal di berbagai daerah jadi memiliki kesempatan untuk tampil di panggung nasional dan bahkan internasional lewat berbagai pendampingan pemasaran.

“Tujuannya adalah memperluas pasar UMKM. Membantu agar berkembang dan dikenal lagi lebih luas,” terang Handaru.

Terpisah, Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengenakan salah satu kain tersebut saat berkeliling area Bakti BCA. Hera menyatakan semakin sering para komunitas dan UMKM ini tampil di ruang publik seperti BCA Expo, kian terbuka pula peluang mereka untuk mandiri secara ekonomi.

"Kami ingin memberikan kesempatan perluasan akses pasar, dari produk, talenta, hingga juara-juara binaan Bakti BCA, agar bisa hadir dengan standar nasional," kata Hera.

Dari sisi bisnis korporasi, Hera menegaskan kehadiran Bakti BCA bukan sekadar etalase kebaikan. Baginya, BCA menegaskan diri sebagai bank yang hadir untuk semua lapisan masyarakat, bukan hanya nasabah kelas menengah-atas.

"BCA adalah milik semua lintas masyarakat," ujarnya, sembari berharap kehadiran BCA Expo mendongkrak pendapatan komunitas yang selama ini berada di bawah payung besar Bakti BCA.

Jika Bakti BCA memberdayakan komunitas lokal dan individu difabel untuk terus mandiri, satu program lain milik BCA menyasar sisi berbeda: jenama-jenama rintisan lokal yang tengah bertumbuh. Program itu bernama Bangga Lokal BCA, berjalan sejak 2020 dan kini sudah diikuti lebih dari seribu jenama lokal lintas kategori, mulai makanan-minuman, fesyen, hingga perawatan tubuh.

Selain showcase produk di berbagai acara BCA, jenama yang tergabung juga mendapat pendampingan branding dan akses ke ekosistem pembayaran BCA yang terintegrasi luas.

Di BCA Expo Jabodetabek 2026, sejumlah jenama Bangga Lokal BCA ikut mejeng dengan berbagai produk: mulai dari Candia, Botanical Essentials, Voyej, HMNS, hingga Dippolar dan Smithberlin.

Di salah satu booth Bangga Lokal BCA, Kashaya dan Margie, dua perempuan di balik jenama Candia, tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Momentum ini menjadi kali pertama Candia ikut Bangga Lokal BCA.

"Melihat ekosistem pembayaran BCA yang sudah terintegrasi, kami yakin kerja sama ini bisa memberi eksposur lebih luas," kata Margie di lokasi. Ia mengaku sampai harus mengisi ulang stok dagangannya pada hari pertama pameran karena penjualan yang melonjak.

Sementara bagi Kashaya, pengalaman tampil di Bangga Lokal BCA tak kalah berharga. Sebagai jenama yang baru merintis, ia sangat terkejut melihat antusiasme pengunjung dari berbagai usia dan daerah.

"Ini jadi kesempatan kami bertemu pengunjung dan demografi yang lebih beragam. Seru banget," kata Kashaya dalam kesempatan yang sama.

Berbeda dengan Candia yang baru bergabung, jenama perawatan tubuh Botanical Essentials setidaknya sudah dua tahun berturut-turut tampil di gelaran BCA Expo. Kayleen, perwakilan jenama, mengatakan keikutsertaan mereka tak melulu soal angka penjualan.

"Kami bisa menawarkan produk dan promosi langsung ke konsumen, sekaligus mendapat feedback secara langsung, mulai dari keluh kesah sampai dampak positifnya," kata Kayleen ketika ditemui Tirto di lokasi.

Gelaran BCA Expo Jabodetabek 2026 sendiri berlangsung hingga Minggu (13/9/2026), menyusul rangkaian serupa yang sudah digelar di Surabaya, Malang, Semarang, Medan, Bandung, dan Denpasar sejak Agustus lalu, serta bisa diakses daring lewat expo.bca.co.id hingga akhir Oktober. Dari berbagai cerita individu dan komunitas Bakti BCA serta penuturan jenama perintis di Bangga Lokal BCA, Expo tahunan ini menjadi ruang bagi mereka yang selama ini dibina BCA untuk terus bersuara, berdaya, dan semakin naik kelas di panggung perekonomian.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis