Menuju konten utama

Mengubah Batu Bara Jadi Bensin, Mungkinkah?

Indonesia berencana mengolah batu bara menjadi bensin. Teknologi coal to liquid memungkinkan, tetapi biaya produksi dinilai belum ekonomis.

Mengubah Batu Bara Jadi Bensin, Mungkinkah?
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Senin (21/9/2026). Kementerian ESDM menetapkan harga batu bara acuan (HBA) periode kedua September 2026 untuk batubara berkalori tinggi 6.322 kcal/kg GAR sebesar 123,54 dolar AS per ton yaitu turun dari periode pertama September 2026 di level 126,87 dolar AS per ton, sedangkan untuk batu bara nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR naik dari 44,15 dolar AS per ton pada periode pertama, naik menjadi 44,53 dolar AS per ton pada periode kedua. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Indonesia membutuhkan sekitar 40 juta kiloliter bensin guna mencukupi kebutuhan nasional. Namun, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi kurang dari setengahnya.

Gejolak geopolitik di Timur Tengah masih mengganggu rantai pasok minyak global. Ini membuat biaya impor diprediksi tetap tinggi hingga akhir tahun 2026. Selain itu, dunia dihadapkan pula kondisi kelangkaan solar setelah Ukraina menyerang fasilitas pengolahan minyak milik Rusia pada Minggu (20/9/2026).

Menghadapi ancaman ketidakstabilan harga minyak global, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengatakan akan membuat bensin dari batu bara. Hal ini disampaikan Prabowo saat berpidato dalam acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (19/9/2026).

"Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit. Dan kita juga nanti akan bikin juga bensin dari batu bara," ujar Prabowo dalam pidatonya.

Prabowo bersyukur Indonesia dikaruniai pohon kelapa sawit sehingga berhasil memproduksi solar B50. Ini membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar per 1 Juli 2026.

"Dari kelapa sawit kita bisa dapat 57 derivatif. Kita bisa mendapat obat. Kita bisa dapat sabun. Kita bisa dapat macam-macam, terutama kita dapat BBM," kata Prabowo.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pemikiran presiden mengubah batu bara menjadi bensin berangkat dari kondisi geopolitik yang tidak menentu. Maka, seluruh potensi energi dalam negeri harus dioptimalkan.

Menurut Bahlil, batu bara merupakan salah satu potensi energi alternatif yang dapat dimanfaatkan menggunakan perkembangan teknologi saat ini. Terlebih, potensi pengolahan batu bara berkalori rendah di Indonesia terbilang besar.

"Di beberapa negara, seperti di Cina, itu gasnya sudah diambil dari batu bara low kalori. Beberapa perusahaan yang sudah melakukan penawaran kepada kami untuk melakukan kerja sama," ujar Bahlil dalam acara Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81 di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Bahlil menilai pemanfaatan sumber energi domestik diperlukan agar kebutuhan energi Indonesia tak melulu bergantung pada impor. Selain mengembangkan batu bara berkalori rendah, ada pula pengembangan bahan bakar campuran etanol yang diklaim turut berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mendorong pertumbuhan kawasan di daerah.

Bahlil mengatakan pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen (E10) pada 2027 dan pengembangan E20 pada 2028. "2027 kita akan menerapkan E10. 2028 kita akan bangun E20, sampai ke depan," terangnya.

Data Kementerian ESDM memperlihatkan sepanjang Januari-Juni 2026, impor bensin Indonesia mencapai 61,73 persen dari kebutuhan nasional. Mayoritas BBM diimpor dari Singapura dan sisanya berasal dari Malaysia serta sejumlah negara ASEAN.

Bagaimana Cara Mengubah Batu Bara Jadi Bensin?

Proses mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair dikenal sebagai coal to liquid (CTL). Teknologi ini dapat dilakukan melalui pencairan langsung, yakni mengubah batu bara menjadi produk cair melalui proses hidrogenasi, atau pencairan tidak langsung dengan mengubah batu bara menjadi gas sintesis sebelum disintesis menjadi hidrokarbon cair.

Pencairan langsung (direct coal liquefaction/DCL) dilakukan dalam suatu reaktor sampai menghasilkan synthetic grade oil. Setelah itu bahan tersebut diolah sampai menghasilkan fraksi-fraksi dalam bentuk bahan bakar premium ataupun solar. Teknologi dan tahapan pengolahan dapat berbeda bergantung pada proses yang digunakan.

Sementara itu, proses tidak langsung (indirect coal liquefaction/ICL) biasanya melibatkan gasifikasi batu bara, produksi gas sintesis (syngas), kemudian sintesis hidrokarbon, misalnya melalui proses Fischer–Tropsch (serangkaian reaksi kimia katalitik yang mengubah campuran gas karbon monoksida [CO] dan hidrogen [H₂], yang dikenal sebagai gas sintesis atau syngas, menjadi hidrokarbon cair).

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan proses coal to liquid telah dikenal lama di dunia. Ia menjelaskan misalnya di Jerman Timur dan perusahaan Sasol di Afrika Selatan.

“Jerman timur itu enggak ada sumber minyak. Mereka mengubah batu bara menjadi minyak untuk tank. Nah, terus kemudian kita lihat Sasol misalnya di Afrika Selatan. Dulu dia kena politik apartheid terus di-ban oleh negara-negara lain, maka dia mencairkan batubara. Sasol itu sampai sekarang kira-kira (jumlah produksi) 300 ribu barel per hari,” ujar Wirno setelah acara Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81 di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Winarno juga menjelaskan rencana presiden sedang dievaluasi. Ia tidak terlalu memusingkan negara mana yang akan melakukan kerja sama teknologi pengolahan batu bara menjadi bensin dengan Indonesia. Selain itu, belum diketahui pula sejauh mana potensi produksi Indonesia jika rencana tersebut direalisasikan.

“Beberapa sedang dievaluasilah. Tentang negaranya enggak terlalu ini, yang penting teknologinya,” sambungnya.

Seberapa Ekonomis Bensin dari Batu Bara?

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, walaupun memungkinkan mengubah batu baru menjadi bensin tetapi tidak ekonomis ketika harga gas atau minyak masih moderat.

“Tapi yang membuat jadi tidak bisa diproses itu secara ke-ekonomian karena lebih mahal dari produk yang dihasilkan minyak. Jadi kalau minyaknya masih ada, sementara ujungnya sama, jadi ngapain proses itu dilakukan,” terang Komaidi ketika dihubungi Tirto, Senin (21/9/2026).

Komaidi menjelaskan tahapan mengubah batu bara menjadi bensin sangat panjang. Proses dimulai dari mencairkan batu bara kemudian dari situ tercipta uap yang dicairkan dalam bentuk bensin atau solar. Setiap tahapan yang dilalui ini memakan biaya terpisah. Sehingga sangat tidak ekonomis ketika kondisinya tidak mendesak.

Komaidi menilai belum ada contoh proyek pengolahan batu bara menjadi bensin yang menurutnya berhasil secara ekonomis. Ia mencontohkan fasilitas pengolahan batu bara di sejumlah negara yang menghadapi persoalan utilisasi, yaitu kilang Dimethyl Ether (DME)–produk olahan batu bara pengganti gas LPG–di Cina dan Australia yang, sebagian, menganggur karena hanya terisi 20-30 persen dari kapasitasnya.

“Artinya hampir enggak ada kesempatan untuk ini (mengubah batu bara menjadi minyak) bisa diaplikasikan ketika produk substitusinya masih terjangkau. Sejauh ini, harganya masih terjangkau, belum ke level yang katakanlah perlu subsitusi dari batu bara,” tutup Komaidi.

Baca juga artikel terkait BATU BARA atau tulisan lainnya dari Mukhtar Abdullah

tirto.id - Flash News
Reporter: Mukhtar Abdullah
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Dipna Videlia Putsanra