tirto.id - Sumber energi alternatif pengganti bensin dan solar di antaranya mencakup biofuel, energi listrik, bahan bakar gas, hingga bahan bakar sintetis.
Krisis energi dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mendorong pencarian sumber energi alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Sejumlah opsi kini tersedia sebagai pengganti bensin dan solar, mulai dari biofuel sampai hidrogen. Masing-masing memiliki karakteristik, keunggulan, serta tantangan tersendiri.
Sumber Energi Alternatif Pengganti Bensin dan Solar
Berbagai macam sumber energi alternatif bisa dipakai sebagai pengganti bensin dan solar. Beberapa di antaranya bahkan memiliki keunggulan tersendiri.
Berikut deretan energi alternatif pengganti bensin dan solar yang bisa dipakai untuk menjalankan kendaraan:
1. Biofuel
Biofuel termasuk salah satu solusi paling realistis di Indonesia. Bahan bakar ini berasal dari sumber organik seperti tumbuhan dan bisa dipakai tanpa modifikasi besar pada mesin kendaraan.
Jenis yang umum digunakan antara lain biodiesel dan bioethanol. Biodiesel seperti B35 atau B40 merupakan campuran minyak sawit dan solar dengan angka cetane tinggi sehingga meningkatkan efisiensi pembakaran mesin diesel.
Sementara itu, bioethanol seperti E5 atau E10 merupakan campuran etanol dari tebu atau jagung dengan bensin.
Produk seperti Pertamax Green 95 yang dirilis oleh Pertamina sejak 2023 mengandung biofuel yang dari molase fermentasi, sehingga mampu mengerek angka oktan dan menekan emisi karbon.
2. Energi Listrik
Kendaraan listrik menjadi solusi untuk menghilangkan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Energi disimpan dalam baterai litium lalu dipakai untuk menggerakkan motor listrik.
Dari sisi biaya, kendaraan listrik jauh lebih hemat. Biaya operasional per kilometer hanya sekitar 20-30 persen dibanding kendaraan berbahan bakar bensin.
Saat ini, infrastruktur pendukung seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terus berkembang dan sudah tersedia di berbagai kota besar serta jalur tol Trans Jawa.
3. Gas Alam Terkompresi (CNG/BBG)
Compressed Natural Gas (CNG) atau Bahan Bakar Gas (BBG) menawarkan harga lebih terjangkau dibanding bensin. Bahan bakar ini berasal dari gas alam yang dikompresi.
Penggunaannya sudah umum pada transportasi publik. Seperti bus dan taksi. Selain lebih murah, emisi gas buangnya juga lebih bersih.
Harga per liter setara bensin dan biasanya sekitar separuh dari BBM nonsubsidi. Namun, penggunaan tabung gas menjadi salah satu kendala karena memakan ruang bagasi.

4. Hidrogen
Hidrogen melalui teknologi fuel cell mulai dilirik sebagai solusi jangka panjang, terutama untuk kendaraan berat seperti truk dan bus.
Sistem ini menghasilkan listrik dari reaksi hidrogen dan oksigen dengan emisi berupa uap air.
Pengisian bahan bakar hidrogen juga relatif cepat, yakni hanya sekitar 3-5 menit. Kendati demikian, keterbatasan infrastruktur pengisian masih jadi hambatan utama untuk pengembangannya.
5. Bahan Bakar Sintetis (E-Fuels)
E-fuels merupakan bahan bakar sintetis yang diproduksi dari hidrogen berbasis energi terbarukan dan karbon dioksida yang ditangkap dari atmosfer.
Keunggulan utama adalah bisa digunakan langsung pada kendaraan berbahan bakar bensin atau solar tanpa perlu modifikasi mesin. Namun, hingga 2026, biaya produksi masih tinggi sehingga penggunaan belum meluas.
Pemanfaatan energi alternatif menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus menekan biaya operasional kendaraan.
Dengan perkembangan teknologi dan infrastruktur, masyarakat kini memiliki lebih banyak opsi untuk beralih ke energi berkelanjutan.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































