tirto.id - Nasib malang menimpa sebagian besar guru SMA Negeri 7 Lubuklinggau, Sumatera Selatan, imbas minimnya siswa yang mendaftar di sekolah itu. Tak terpenuhinya jam mengajar membuat para guru tidak menerima tunjangan sertifikasi tujuh bulan lamanya.
Pengakuan itu disampaikan Lucky Abadianto, salah seorang guru SMAN 7 Lubuklinggau. Dia mengutarakan nasibnya di media sosial hingga menyebar luas dan menjadi sorotan publik.
Dampak Sistemik Krisis Jumlah Murid Terhadap Hak Guru
Lucky mengatakan, dirinya dan guru-guru lain tidak bisa memenuhi syarat pengajuan tunjangan sertifikasi karena kekurangan jam mengajar. Alhasil, tunjangan sertifikasi guru pada Januari-Juli 2026 tidak bisa dicairkan.
"Kami berharap kepada bapak Presiden Prabowo dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memperhatikan nasib kami. Dari Januari sampai Juli, sertifikasi guru kami belum valid karena kami hanya memiliki tiga rombel dan tidak cukup TTLE (Tugas Tambahan Lain yang Ekuivalen), bahkan ada guru yang tidak memiliki jam mengajar," ungkap Lucky seperti dalam video yang diterima Tirto, Jumat (24/7/2026).
Aturan 24 Jam Mengajar yang Menjepit Guru Sekolah Non-Favorit
SMA Negeri 7 Lubuklinggau hanya terdapat tiga rombel dengan total siswa 49 orang, terdiri dari 13 siswa kelas X, 15 orang kelas XI, dan 21 siswa kelas XII. Meski keterbatasan jumlah siswa dan rombel, para guru tetap menunaikan kewajiban dengan penuh tanggung jawab.
Hanya saja, ketentuan 24 jam mengajar yang menjadi syarat pencairan tunjangan sertifikasi tak dapat dipenuhi. Dia meminta perhatian pemerintah dengan memberikan solusi bagi sekolah yang memiliki siswa minim agar tetap mendapatkan haknya.
"Saya berharap kepada bapak menteri dan presiden untuk memperhatikan kami mengingat kami sudah bekerja dengan baik dan bertanggungjawab dengan tugas mengajar," kata Lucky.
Desakan Pembatasan Rombel demi Pemerataan Siswa
Curhatan Lucky dibenarkan Kepala SMAN 7 Lubuklinggau, Agustunizar. Kondisi itu dipicu minimnya siswa dan rombel yang membuat guru kekurangan bahkan tak dapat jam mengajar sama sekali.
"Di sini paling banyak [jam mengajar] hanya 15 jam, bahkan ada yang nol jam," kata Agustunizar.
Akibat kondisi itu, banyak guru yang mengajukan mutasi ke sekolah lain. Saat ini hanya tersisa 25 guru yang terpaksa tidak mendapatkan hak tunjangan sertifikasi.
"Guru-guru banyak pindah karena sertifikasi tidak bisa dicairkan," kata Agustunizar.
Agustunizar mengaku sudah kerap kali melayangkan laporan kepada Dinas Pendidikan Sumsel agar segera ditindaklanjuti. Kuota sekolah favorit perlu dievaluasi karena menjadi penyebab utama sekolah yang dipimpinnya tidak mendapatkan siswa.
"Kalau ada pembatasan kuota rombel pasti penyebaran siswa bisa merata, baik sekolah negeri maupun swasta. Tapi sekarang tidak ada, akhirnya sekolah favorit dapat banyak siswa dan kami hanya kebagian sisanya," tutupnya.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































