Menuju konten utama

KRL Jabodetabek Makin Sesak, Segerbong Bisa Capai 480 Penumpang

Kondisi berjejal melebihi batas ideal tersebut dipicu keterbatasan infrastruktur persinyalan, sehingga interval kedatangan antar-kereta mencapai 15 menit.

KRL Jabodetabek Makin Sesak, Segerbong Bisa Capai 480 Penumpang
Penumpang berada di dalam gerbong kereta rel listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek saat tiba di Stasiun Kranji, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (11/8/2026). PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat Commuter Line Jabodetabek melayani 178.001.308 perjalanan pada Januari-Juni 2026, dengan 135,7 juta perjalanan atau 76,2 persen berlangsung pada hari kerja serta kepadatan terjadi pada pagi dan sore hari saat jam berangkat dan pulang kerja. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengungkapkan tingkat kepadatan gerbong KRL Commuter Line Jabodetabek--terutama lintasan Rangkasbitung, pada jam sibuk mencapai 12 orang per meter persegi. Kondisi berjejal melebihi batas ideal tersebut dipicu keterbatasan infrastruktur persinyalan, sehingga membuat interval kedatangan antar-kereta (headway) mengular hingga 15 menit.

"Sementara kalau yang ke Rangkasbitung ini, itu 1 banding 12 (12 orang per meter persegi)," kata Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/09/2026).

Bobby menjelaskan dengan ukuran gerbong standar 60 meter persegi, satu kereta kini dipaksa menampung hingga 480 orang pada tingkat kepadatan rata-rata 8 orang per meter persegi, bahkan membengkak jauh lebih tinggi pada rute-rute terpadat dengan tingkat okupasi di atas 160 persen.

"KRL Jabodetabek ini kalau kita lihat panjangnya itu per kereta, per car itu 20 meter. Lebarnya itu sekitar 3 meter. Jadi, rata-rata luasannya itu sekitar 60 meter persegi. Sekarang ini 1 meter persegi itu bisa 8 orang, jadi 400-an, 480," terang Bobby.

Kepadatan seperti di lintasan Rangkasbitung yang dipicu masalah infrastruktur persinyalan berimbas pada penumpukan penumpang di peron dan gerbong kereta.

"Ini karena headway kita itu masih 10-15 menit, karena persinyalannya itu masih persinyalan zaman baheula. Jadi, persinyalan tertutup," ucap Bobby.

Padahal menurut standar PT KAI, tingkat kepadatan yang dianggap ideal di kisaran 6 orang per meter persegi atau sekitar 360 orang dalam satu gerbong. Kini, PT KAI tengah menyiapkan perombakan infrastruktur besar-besaran yang ditargetkan rampung pada 2028 agar KRL Jabodetabek dapat melayani dua juta penumpang per hari.

"Nah, dengan demikian kita siapkan prasarana yang ada di Jabodetabek KRL ini itu menuju ke 2 juta penumpang per harinya,” sambungnya.

Rencana jangka pendeknya, PT KAI juga telah mengusulkan penambahan armada sebanyak 7 rangkaian dengan formasi 12 kereta dan 16 rangkaian dengan formasi 8 kereta. Bobby meminta dukungan penuh dari Komisi VI DPR untuk mendukung program pengadaan dan peremajaan KRL secara multiyears guna mengantisipasi pertumbuhan penumpang.

"Yang ketiga adalah kepastian pemenuhan KRL Jabodetabek," pungkas Bobby.

Baca juga artikel terkait PT KAI atau tulisan lainnya dari Mukhtar Abdullah

tirto.id - Flash News
Reporter: Mukhtar Abdullah
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama