Menuju konten utama

Krisis Murid, SMAN 7 Lubuklinggau Cuma Dapat 13 Siswa Baru

SMAN 7 Lubuklinggau terancam krisis setelah hanya memperoleh 13 siswa baru tahun ini. Akibatnya, jurusan IPA sepi dan puluhan guru sertifikasi eksodus.

Krisis Murid, SMAN 7 Lubuklinggau Cuma Dapat 13 Siswa Baru
SMAN 7 Lubuklinggau hanya mendapatkan 13 siswa pada SPMB 2026. FOTO/Istimewa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 7 lubuklinggau, Sumatera Selatan, hanya memperoleh tujuh siswa pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Jumlah ini sedikit lebih baik dibanding tahun lalu yang hanya mendapatkan 8 peserta didik.

Minimnya perolehan siswa tersebut membuat pihak sekolah tetap membuka pendaftaran hingga memasuki tahun ajaran baru. Harapannya ada peserta didik yang beralih ke sekolah itu karena tidak diterima di sekolah lain.

Kepala SMAN 7 Lubuklinggau, Agustunizar, mengungkap alasan minimnya siswa yang masuk ke sekolah yang dipimpinnya. Dia menyebut situasi ini disebabkan semakin banyaknya kuota rombongan belajar (rombel) di SMAN dan SMKN favorit, yakni 10 hingga 14 rombel.

"Tahun ini kami hanya dapat 13 siswa karena rombel sekolah favorit bertambah banyak," ungkap Kepala SMAN 7 Lubuklinggau Agustunizar, Senin (6/7/2026).

Situasi ini diperparah oleh berdirinya beberapa SMAN dan SMKN. Sehingga makin banyak pilihan sekolah bagi siswa.

Agustunizar menyebut, penurunan jumlah siswa mulai terjadi lima tahun terakhir. Pada tahun ajaran 2020, SMAN 7 Lubuklinggau mampu mendapatkan 120 siswa dan berkurang drastis satu tahun kemudian.

"Tahun kemarin malah cuma 8 siswa yang daftar," kata Agustunizar.

Agustunizar mengatakan, minimnya jumlah siswa di sekolahnya berdampak pada jurusan rombel. Kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) hanya diisi 2 siswa saja dan selebihnya memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

"Kami tetap adakan jurusan IPA dan IPS karena aturannya sudah begitu," kata dia.

Selain itu, banyak guru, terutama yang sudah sertifikasi, memilih pindah ke sekolah lain karena jam mengajar tidak memenuhi 24 jam. Dari 30-an guru, kini tersisa 25 guru saja di sekolah itu.

"Di sini paling banyak dapat 15 jam mengajar, otomatis tidak memenuhi syarat sertifikasi," kata Agustunizar.

Dia berharap, Pemprov Sumsel yang menaungi SMA sederajat dapat membuat kebijakan yang memberi dampak baik kepada semua sekolah. Banyaknya rombel di sekolah favorit sangat berpengaruh pada sekolah lain yang dinilai bukan menjadi pilihan utama.

"Fasilitas kami lengkap, lokasi juga strategis, tenaga pendidik tidak kalah bersaing. Kami minta pemerintah evaluasi lagi kuota rombel sekolah favorit agar distribusi siswa merata, tidak merugikan sekolah lain," kata Agustunizar.

Baca juga artikel terkait SPMB 2026 atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Reporter: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah