Menuju konten utama

BGN Pertimbangkan Test Kit di Dapur SPPG Cegah Keracunan

Rencana penerapan test kit tersebut merupakan pembelajaran yang diambil BGN dari pelaksanaan program pemenuhan gizi di SPPG yang dikelola Bhayangkari Polri.

BGN Pertimbangkan Test Kit di Dapur SPPG Cegah Keracunan
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memberikan keterangan pers terkait penutupan dapur SPPG bermasalah di Jakarta, Senin (27/7/2026). BGN telah menutup sebanyak 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah di Indonesia. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, akan memperketat pengawasan keamanan pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), salah satunya dengan mempertimbangkan penggunaan test kit di setiap dapur. Langkah tersebut dirancang setelah muncul kasus keracunan yang terjadi di SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

Menurut Sudaryono, pemeriksaan makanan sebelum dikonsumsi tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan organoleptik seperti bau, rasa, dan kondisi makanan secara kasatmata.

“Jadi, bahwa keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik tadi di bau, di rasa, dicicipi, ya. Sudah dibau nggak ada masalah, dicicipi juga nggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi. Jadi, ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur itu nanti kita lakukan test kit," jelasnya, dalam upacara penurunan Bendera Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).

Sudaryono menjelaskan, test kit tersebut nantinya digunakan untuk mendeteksi kemungkinan adanya zat berbahaya dalam makanan. Pemeriksaan antara lain ditujukan untuk mengetahui kandungan arsen maupun kondisi makanan yang sudah basi.

“Dites, diberi chemical untuk ngecek apakah ada arsen, ada basi, ada apa,” tambahnya.

Menurutnya, rencana penerapan test kit tersebut merupakan pembelajaran yang diambil BGN dari pelaksanaan program pemenuhan gizi di sejumlah SPPG yang dikelola Bhayangkari Polri.

"Jadi, kita belajar dari keberhasilan SPPG, beberapa SPPG yang dikelola oleh Bhayangkari, ya. Dari Polri itu menggunakan test kit dan sampai saat ini tidak ada satu kasus pun keracunan," kata Sudaryono.

Meski demikian, Sudaryono mengingatkan agar kasus keracunan tidak membuat seluruh pelaksanaan program SPPG dianggap bermasalah. Dari sekitar 27 ribu dapur yang beroperasi, dia menyebut sebagian besar telah menjalankan tugas dengan baik.

“Dari 27 ribu dapur, alhamdulillah sebagian besar itu bekerja dengan baik dan kita harus upayakan yang baik itu terus tambah baik,” katanya.

Selain memperketat pengawasan makanan, BGN akan memberikan sanksi tegas kepada SPPG maupun personel yang tidak mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan. Dia mengatakan, SPPG yang masih memiliki kekurangan akan dievaluasi dan diperbaiki. Apabila tidak terdapat perbaikan atau pengelolanya tidak mampu memenuhi standar, BGN tidak akan segan menutupnya secara permanen.

“Yang tidak bisa dievaluasi, tidak bisa diperbaiki, mohon maaf harus saya tutup,” ujar Sudaryono.

Tak hanya menutup dapur, Sudaryono juga mengancam mencopot atau memberhentikan personel ASN maupun PPPK BGN yang tidak mampu mengikuti standar kerja yang ditetapkan.

“Bagi personil-personil yang tidak bisa mengikuti standar tinggi yang saya punya, mohon maaf harus saya copot atau saya pecat status ASN PPPK-nya,” katanya.

Sudaryono menegaskan, kebijakan tersebut berlaku tanpa melihat siapa pemilik atau pihak yang mengelola SPPG. Menurut dia, penilaian akan dilakukan berdasarkan sistem dan standar yang ditetapkan BGN.

“Saya nggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa punya siapa saya nggak lihat, saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait BGN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Anggun P Situmorang