Menuju konten utama

Sebulan usai Gempa NTT, 94 Orang Tewas di Pengungsian

BNPB mencatat 142 korban meninggal akibat gempa NTT, termasuk 94 orang yang meninggal saat berada di pengungsian. Sebanyak 46.461 warga masih mengungsi.

Sebulan usai Gempa NTT, 94 Orang Tewas di Pengungsian
Suasana lokasi pengungsian warga terdampak gempa bumi di Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, Jumat (28/8/2026). Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur resmi memperpanjang masa tanggap darurat gempa bumi Flores selama 14 hari terhitung mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026 karena masih terjadi aktivitas gempa susulan di sejumlah wilayah yang terdampak gempa bumi. ANTARA FOTO/Johanes Viandinando/app/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 menyisakan dampak besar hingga sekitar satu bulan setelah kejadian.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 142 orang meninggal dunia, dengan rincian 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa dan 94 orang meninggal saat berada di pengungsian.

Dari data yang dipaparkan BNPB tersebut, lebih dari separuh korban gempa NTT meninggal setelah berada di lokasi pengungsian, sedangkan ribuan warga lainnya masih menghadapi dampak bencana berupa luka-luka, kerusakan rumah, serta terganggunya berbagai fasilitas umum.

94 Orang Meninggal di Pengungsian

Memasuki sekitar satu bulan setelah gempa bumi mengguncang wilayah Flores, NTT, kondisi penanganan pascabencana masih membutuhkan perhatian serius.

Data terbaru dari BNPB menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya berupa kerusakan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga korban jiwa serta warga yang masih harus bertahan di pengungsian.

Jumlah korban meninggal dunia mencapai 142 orang, terdiri atas 48 orang yang meninggal akibat dampak langsung gempa dan 94 orang yang meninggal saat berada di pengungsian.

Selain korban meninggal, terdapat 1.603 orang mengalami luka-luka, dengan jumlah warga yang masih mengungsi tercatat 46.461 jiwa.

Dampak gempa juga terlihat dari besarnya kerusakan terhadap tempat tinggal dan fasilitas umum. BNPB mencatat sebanyak 103.427 rumah mengalami kerusakan, yang terdiri atas kategori rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada 712 fasilitas pendidikan, 558 rumah ibadah, 157 fasilitas kesehatan, dan 685 unit kantor. Infrastruktur lainnya turut terdampak, dengan 1.175 titik jalan rusak serta 50 fasilitas irigasi mengalami kerusakan.

Meski masih banyak yang harus dibenahi, BNPB menyebut jumlah warga yang mengungsi telah mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, ketika jumlah pengungsi sempat mencapai lebih dari 150 ribu jiwa.

Penurunan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa sebagian warga mulai meninggalkan lokasi pengungsian, meskipun proses pendataan kerusakan rumah dan pemenuhan kebutuhan warga yang masih mengungsi terus dilakukan.

"Saat ini pengungsi itu sudah jauh turun, yang kemarin-kemarin sampai 150 ribu lebih, sekarang hanya 46.461 jiwa," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dikutip Antara, Selasa(15/9/2026).

NTT Masih Diguncang Gempa Susulan

Di tengah proses penanganan dampak bencana, aktivitas kegempaan di NTT juga masih berlangsung dalam bentuk gempa susulan. BMKG mencatat 15.722 gempa susulan dalam 30 hari setelah gempa utama, dengan magnitudo berkisar 0,9 hingga 6,2.

Dari seluruh gempa susulan tersebut, sebanyak 190 kejadian dirasakan oleh masyarakat. Namun, BMKG menyatakan frekuensi gempa susulan harian maupun mingguan menunjukkan kecenderungan menurun dan telah memasuki fase peluruhan.

Penurunan tersebut terlihat dari jumlah gempa susulan yang tercatat setiap pekan yakni sebanyak 5.011 kejadian pada minggu pertama, kemudian turun menjadi 4.267 kejadian pada minggu kedua, 3.158 kejadian pada minggu ketiga, dan 2.421 kejadian pada minggu keempat. Memasuki minggu kelima hingga 15 September 2026 pukul 05.00 WIB, tercatat 864 gempa susulan.

Berdasarkan kekuatannya, gempa susulan dengan magnitudo 5,0 atau lebih tercatat sebanyak 26 kejadian atau sekitar 0,2 persen dari keseluruhan gempa susulan. Gempa dalam kategori ini dapat dirasakan cukup luas dan berpotensi berdampak terhadap bangunan yang rentan.

Meski demikian, BMKG mencatat gempa dengan magnitudo 5,0 atau lebih semakin jarang terjadi dan tidak tercatat lagi dalam satu minggu terakhir. Sedangkan gempa berkekuatan 4,0 hingga kurang dari 5,0 tercatat sebanyak 476 kejadian atau 3 persen. Frekuensinya juga terus menurun setelah memasuki empat hingga lima minggu sejak gempa utama.

Untuk gempa dengan kekuatan 3,0 hingga kurang dari 4,0, BMKG mencatat sebanyak 3.308 kejadian atau 20,9 persen. Gempa dalam kategori ini umumnya hanya dirasakan secara lokal dan tidak menimbulkan kerusakan.

Adapun gempa dengan magnitudo kurang dari 3,0 mendominasi aktivitas susulan, yakni sebanyak 11.993 kejadian atau 75,9 persen. Sebagian besar gempa tersebut hanya terdeteksi oleh jaringan seismograf dan tidak dirasakan oleh masyarakat.

Gempa berkekuatan kurang dari 3,0 diperkirakan masih dapat muncul selama beberapa bulan ke depan. Karena itu, meskipun jumlah gempa susulan terus berkurang, masyarakat tetap diimbau mewaspadai karakteristik wilayah NTT yang memiliki tingkat kegempaan tinggi.

“Estimasi ini merupakan kecenderungan statistik peluruhan, bukan perkiraan tanggal pasti berakhirnya aktivitas gempa maupun prediksi waktu gempa berikutnya. Masyarakat diimbau tetap mewaspadai karakteristik wilayah NTT yang memang memiliki tingkat kegempaan tinggi,” ujar Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra