tirto.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah menyebar hingga Thailand selatan dan mengganggu kualitas udara di sejumlah wilayah. Di Provinsi Songkhla, terutama Kota Hat Yai, konsentrasi PM2.5 pada Rabu, 16 September 2026, mencapai tingkat yang dinilai tidak sehat.
Data Air Pollution and Health Effect Research Center di Prince of Songkla University mencatat konsentrasi PM2.5 di Hat Yai mencapai 85,5 mikrogram per meter kubik per jam, sedangkan rata-rata hariannya mencapai 77,9 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut membuat warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus keluar rumah.
Kabut asap yang menyelimuti Hat Yai merupakan dampak asap lintas batas (transboundary haze) yang berasal dari kebakaran di wilayah Indonesia, terutama Sumatra dan Kalimantan. Asap terbawa angin muson barat daya menuju Thailand selatan.
Udara Thailand Selatan Tercemar Kabut Asap
Pada Rabu (16/9/2026) konsentrasi PM2.5 di Hat Yai tercatat mencapai 67,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 09.00 waktu setempat, berdasarkan data Air Pollution and Health Effect Research Center di Prince of Songkla University.
Angka tersebut masuk kategori oranye, yang berarti kualitas udara mulai berdampak terhadap kesehatan, dan sudah jauh di atas ambang batas aman PM2.5 yang ditetapkan pemerintah Thailand sebesar 37,5 µg/m³.
Sejumlah wilayah bahkan mencatat kategori merah dengan konsentrasi mencapai 88,2 µg/m³, sedangkan rata-rata harian berada di sekitar 59,9 µg/m³.
Namun, dalam laporan terbaru, konsentrasi PM2.5 di beberapa wilayah disebut meningkat hingga 75–89 µg/m³. Di Hat Yai, rata-rata per jam mencapai 85,5 µg/m³ dan rata-rata harian 77,9 µg/m³, yang dinilai dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan.
Kabut asap sebenarnya telah semakin terlihat di sejumlah bagian Hat Yai sejak Selasa (14/9) malam. Asap tebal dilaporkan menyelimuti kawasan kota, terutama di sepanjang rute menuju Khao Kho Hong serta Hat Yai Municipal Park, dikutip Bangkok Post, Rabu(16/9/2026).
Para pengemudi layanan pengantaran mengatakan kabut semakin pekat dalam beberapa waktu terakhir hingga membuat mata dan hidung terasa perih. Sekolah juga dilaporkan melarang siswa melakukan aktivitas di luar ruangan.
Kondisi tersebut membuat warga diminta menghindari keluar rumah dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
Selain Songkhla, wilayah yang perlu mendapat pemantauan ketat meliputi Yala, Pattani, Narathiwat, Satun, Phatthalung, Trang dan Nakhon Si Thammarat karena konsentrasi PM2.5 masih tinggi di sejumlah wilayah Thailand bagian selatan.
Asap Karhutla Indonesia Terbawa Angin Muson Barat Daya
Kabut asap yang menyelimuti Thailand selatan tersebut terbawa angin dari wilayah yang mengalami kebakaran di Indonesia. Sumber asap disebut berasal dari karhutla di Pulau Kalimantan dan Sumatra.
Di Thailand selatan, angin muson barat daya terus membawa asap dari wilayah yang terbakar di Sumatra menuju kawasan tersebut. Kondisi atmosfer juga membuat polutan semakin sulit menghilang.
Selama 14-23 September 2026, seperti dilaporkan The Nation, Rabu(16/9/2026), wilayah Thailand bagian selatan diperkirakan mengalami tingkat ventilasi udara yang sangat rendah. Kondisi ini terjadi karena angin bertiup dengan kecepatan rendah dan tinggi pencampuran atmosfer (atmospheric mixing height) berada pada level rendah,.
Dalam kondisi normal, angin dan pergerakan vertikal atmosfer membantu membawa asap serta polutan dari permukaan tanah ke lapisan udara yang lebih tinggi sehingga konsentrasinya menjadi lebih tersebar. Namun, ketika angin melemah dan ketinggian pencampuran atmosfer rendah, proses penyebaran tersebut menjadi terbatas.
Akibatnya, asap dan partikel polutan yang berada di udara dekat permukaan tanah lebih sulit berpindah atau terurai. Kondisi ini tidak hanya membuat polusi yang berasal dari wilayah Thailand selatan bertahan lebih lama, tetapi juga menyebabkan polutan yang datang dari luar wilayah, termasuk asap yang terbawa dari daerah lain, lebih sulit dibersihkan dari atmosfer.
Partikel halus yang menumpuk di udara kemudian dapat menyebabkan kualitas udara memburuk hingga mencapai tingkat yang berbahaya bagi kesehatan.
Kabut asap lintas batas tersebut akibat kebakaran hutan di Indonesia juga dirasakan di negara tetangga lainnya. Selain Thailand, kualitas udara di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Filipina turut memburuk akibat kabut asap yang terbawa melintasi batas negara.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































