tirto.id - Sebuah pola janggal terungkap dalam bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Titik api secara misterius selalu melonjak drastis setiap akhir pekan tiba.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan kajian pihaknya atas kasus karhutla sejak awal terjadi pada Juni 2026. Dia menemukan, api sering sekali muncul di akhir pekan. Waktu terjadinya kebakaran juga cenderung sama, yakni pada pagi dan sore hari.
"Kebakaran di Sumsel ini kejadiannya banyak terjadi sejak hari Jumat sampai Minggu, jamnya pun mirip-mirip. Ini yang agak aneh pola kejadiannya," ungkap Kepala Dalkarhut Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto, Sabtu (12/9/2026).
Fakta ini kerap ditemukan tim di lapangan. Terbaru, karhutla di Jalan Lintas Sumatera Palembang-Indralaya, Ogan Ilir.
Sejak Jumat (11/9/2026) sore tim Manggala Agni berjibaku memadamkan api dan baru padam total hingga dini hari. Namun, banyak titik kebakaran kembali ditemukan pagi tadi yang cukup jauh dari lokasi yang berhasil dipadamkan sebelumnya.
"Kemarin itu serentak dari sore sampai tengah malam, tuntas tengah malam tadi. Ini tadi jam 6 kejadian muncul lagi banyak barengan. Kayak ngerjain terus," kata Ferdian.
Lokasi Kebakaran Dekat Pemukiman dan Jalan Tol

Ferdian menyebut, lokasi-lokasi yang terjadi dengan pola itu biasanya berada di dekat pemukiman, lahan-lahan tidur, dan sekitar fasilitas umum seperti jalan tol dan jalan raya. Tim pemadam belum menyimpulkan penyebab munculnya api dan motif pembakaran jika disengaja.
"Entah motifnya apa lagi, campur-campur, curiga bener ini apa motifnya," kata Ferdian.
Ferdian menambahkan, potensi karhutla di Sumsel masih sangat tinggi mengingat BMKG memprakirakan musim hujan baru terjadi pada November 2026. Terlebih adanya dugaan unsur kesengajaan yang dilakukan pihak-pihak tertentu dengan berbagai tujuan menambah potensi.
"Kejadian kebakaran masih masif, apalagi kondisi kemarau masih dua bulan lagi," kata Ferdian.
Tingginya tingkat kerawanan karhutla juga ditambah masih banyaknya areal lahan yang setiap musim kemarau menjadi langganan terbakar kini belum tersentuh api. Hanya saja Ferdian belum dapat menjelaskan data terbaru terkait luasan yang sudah terbakar dan lahan yang belum terbakar.
"Yang terbakar sekarang memang langganan, tapi masih banyak lagi yang belum terbakar. Ini jadi perhatian bersama karena musim kemarau belum berakhir," pungkas Ferdian.
Masuk tirto.id

































